Dugaan Siswa Keracunan MBG di Jember, SPPG Dapur Semboro Sebut Terlalu dibesar-besarkan
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Sehat Kecamatan Semboro, Jember akhirnya menyampaikan klarifikasi terkait 16 siswa SDN Sidomekar 05 yang mual usai mengkonsumsi menu makan bergizi gratis (MBG). Melalui asisten lapangan, Iwan Siswanto, pihaknya menegaskan bahwa informasi yang beredar terlalu dibesar-besarkan dan perlu diluruskan.
Iwan menyampaikan terima kasih atas perhatian dari jajaran Babinsa, Kapolsek Semboro, Reskrim, hingga tim Polda Jatim. Kunjungan tersebut menjadi evaluasi penting dalam meningkatkan kinerja.
Iwan mengaku sempat terjadi permasalahan dalam distribusi makanan, namun kondisi tersebut sudah langsung diantisipasi. Kendati demikian, ternyata muncul dalam pemberitaan sehingga seakan-akan sebanyak 16 siswa benar-benar keracunan MBG.
“Sebenarnya tidak seheboh seperti rumor yang tersebar di media. Kami bahkan langsung mendampingi siswa yang diduga mengalami keluhan untuk mendapatkan perawatan medis di Puskesmas setempat, bersama guru maupun kepala sekolah,” jelasnya, Senin, 29 September 2025.
Iwan menegaskan, hingga kini para siswa sudah kembali beraktivitas normal di sekolah. Mereka yang awalnya disebut keracunan kini telah belajar seperti biasa di sekolah.
Terkait penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa, Iwan menyebut hal itu lebih disebabkan faktor kebiasaan makan, bukan kontaminasi makanan.
“Kalaupun disebut keracunan, sebenarnya indikasinya sangat berbeda. Anak-anak hanya mendapatkan penanganan awal, berupa obat anti nyeri dan obat lambung. Bisa jadi karena tidak sarapan atau tidak terbiasa dengan menu roti dan keju, sehingga menimbulkan mual,” ungkapnya.
Lebih jauh Iwan merinci makanan yang dikonsumsi siswa sebelum mengalami gejala mual. Menu makanan yang disajikan saat itu berupa sandwich berisi roti, keju, telur rebus, serta tambahan sayur mentimun dan lada.
Iwan juga menambahkan pihaknya akan terus berbenah dan melakukan perbaikan pelayanan. SPPG Dapur Semboro berjanji akan memperketat proses penyajian makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pastinya untuk kinerja di masing-masing divisi akan kami tingkatkan. Mulai dari tahap persiapan, pengolahan, hingga makanan diterima oleh siswa sesuai standar yang ditetapkan,” pungkasnya.