Dua Nafas Hadirkan Drama Keluarga Sarat Emosi di Bioskop Indonesia
Film Dua Nafas resmi menghiasi layar bioskop Indonesia sejak Kamis, 2 Juli 2026. Film drama keluarga ini mengangkat kisah menyentuh tentang kasih sayang lintas generasi. Cerita tersebut menyoroti hubungan antara seorang nenek dan cucunya yang dipenuhi cinta, pengorbanan, serta kerinduan.
PT Sunrise Pictures Indonesia memproduksi film ini bersama Syakir Film dan Anypearl Film. Ceritanya diadaptasi dari kisah nyata asal Korea Selatan. Tim produksi kemudian menyesuaikan alur cerita dengan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia agar terasa lebih dekat dengan penonton.
Naskah film ditulis oleh Jo Hyeon Suk bersama Exan Zen. Sementara itu, Hasto Broto dipercaya sebagai sutradara yang mengarahkan keseluruhan produksi. Melalui film ini, para pembuatnya ingin menghadirkan kisah keluarga yang sederhana. Namun, cerita tersebut tetap memiliki makna mendalam mengenai pentingnya menghargai orang-orang tercinta selama mereka masih ada.
Sutradara Hasto Broto mengatakan bahwa Dua Nafas memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan banyak orang. Film ini berbicara tentang perjalanan hidup, masa tua, serta hubungan keluarga yang terus terjalin dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Kekuatan cinta, kasih sayang, kepedulian, keberagaman karakter, dan emosi para pemain menjadi daya tarik utama yang akan menyentuh hati penonton," ujar Hasto dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).
Menurut Hasto, film ini tidak hanya menghadirkan drama. Penonton juga diajak merenungkan arti pengorbanan keluarga. Setiap adegan dirancang untuk memperlihatkan betapa berharganya waktu bersama orang-orang yang dicintai.
Produser Park Joung-Kuk menjelaskan bahwa Dua Nafas merupakan bentuk penghormatan kepada para nenek. Mereka dinilai memiliki peran besar dalam menjaga keluarga dan memberikan kasih sayang tanpa batas. "Kami membuat film ini sebagai penghormatan kepada para nenek yang telah memberikan cinta dan pengorbanan tanpa batas. Kami yakin film ini akan menjadi pilihan tontonan keluarga Indonesia," katanya.
Melalui pesan tersebut, film ini ingin mengingatkan bahwa sosok nenek sering menjadi penjaga nilai-nilai keluarga. Mereka juga menjadi tempat pulang bagi anak dan cucu ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.
Syakir Daulay Kenang Momen Bersama Nenek
Aktor Syakir Daulay mengaku memiliki kedekatan emosional dengan film ini. Keterlibatannya bermula dari ajakan Hasto Broto, yang menjadi sutradara pertama saat dirinya mulai berkarier di dunia perfilman.
Menurut Syakir, kisah dalam film ini mengingatkannya pada kenangan bersama sang nenek. Ia menilai hubungan antara cucu dan nenek sering meninggalkan pengalaman hidup yang sulit dilupakan. "Film ini mengingatkan kita bahwa momen bersama nenek adalah kenangan yang sangat berharga. Kakek dan nenek sering menjadi penjaga tradisi, cerita keluarga, sekaligus sosok yang selalu memberikan kasih sayang tanpa syarat," ungkap Syakir. Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama film. Penonton diajak menghargai kehadiran orang tua dan kakek-nenek sebelum waktu memisahkan mereka.
Cerita dimulai ketika Wati, yang diperankan Adelia Rasya, menitipkan putranya, Anto, kepada Nenek Mariyam di sebuah desa terpencil. Anto kecil diperankan oleh Auzan Noh Karepesina. Anto tumbuh sebagai anak yang terbiasa hidup nyaman di Jakarta. Karena itu, ia harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan sederhana di rumah sang nenek.
Seiring waktu, Anto mulai menemukan kebahagiaan baru. Ia menjalin persahabatan dengan Putri dan Udin. Kedua sahabat itu selalu menemani serta menghiburnya dalam berbagai keadaan. Perjalanan hidup kemudian membawa cerita melompat enam belas tahun ke depan. Anto dewasa, yang diperankan Syakir Daulay, berhasil menjadi seorang dokter. Ia pulang ke kampung dengan penuh kebanggaan sambil membawa ijazah untuk dipersembahkan kepada Nenek Mariyam.
Namun, harapan untuk membahagiakan nenek berubah menjadi kesedihan mendalam. Anto mendapati nenek tercintanya telah meninggal dunia setelah setia menunggu kepulangannya. Peristiwa tersebut menjadi titik emosional yang memperlihatkan besarnya cinta dan pengorbanan seorang nenek kepada cucunya. Kisah itu juga mengajarkan bahwa kesempatan membalas kasih sayang keluarga tidak selalu datang dua kali.
Film Dua Nafas menghadirkan sejumlah aktor dan aktris lintas generasi yang memperkuat cerita. Aty Cancer memerankan sosok Mariyam, nenek yang menjadi pusat cerita. Adelia Rasya berperan sebagai Wati. Auzan Noh Karepesina tampil sebagai Anto kecil, sedangkan Syakir Daulay memerankan Anto saat dewasa.
Selain itu, Bilqis Hafsa hadir sebagai Putri. Mantra Gurindam Smaratungga memerankan karakter Udin yang menjadi sahabat Anto semasa kecil. Film Dua Nafas mulai tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia sejak Kamis, 2 Juli 2026. Dengan kisah yang sederhana tetapi penuh makna, film ini menawarkan pengalaman menonton yang emosional bagi seluruh anggota keluarga.
Penulis: Nurul Huda