Diterjang Awan Panas, Alat Peringatan Dini dan CCTV Gunung Semeru Rusak
Sejumlah alat peringatan dini (early warning system/EWS) Gunung Semeru dilaporkan rusak setelah terdampak awan panas guguran yang terjadi bulan lalu. Kerusakan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena mengganggu sistem deteksi dini erupsi maupun potensi bahaya lahar hujan di wilayah rawan bencana.
Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, sekitar 80 persen EWS Gunung Semeru mengalami kerusakan. Dua di antaranya merupakan EWS berupa sirine yang terpasang di Desa Sumberurip, Kecamatan Candipuro, dan Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.
Dua Sirine EWS Tidak Berfungsi
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengungkapkan bahwa dua alat sirine tersebut tidak dapat berfungsi setelah diterjang awan panas.
βDua EWS yang ada di Sumberurip dan Curah Kobokan rusak, sehingga apabila ada bencana lagi kita tidak bisa memberikan peringatan awal,β ujar Isnugroho pada media 2 Desember 2025.
Kerusakan ini membuat masyarakat di kawasan rawan bencana berpotensi tidak mendapatkan peringatan dini jika terjadi erupsi susulan atau ancaman lahar hujan dari Gunung Semeru.
Delapan CCTV dan Alat Komunikasi Ikut Rusak
Selain EWS, terdapat 8 unit kamera CCTV milik BPBD dan 1 unit alat komunikasi pemancar radio (RPU) pos pantau yang juga terdampak awan panas. Kerusakan ini semakin memperlemah sistem pemantauan kondisi Gunung Semeru secara real-time.
Meski demikian, Isnugroho memastikan bahwa sebagian besar perangkat tersebut kini sudah dalam proses penanganan dan siap dipulihkan.
βKini kedua EWS tersebut sudah tertangani, hanya perlu pemrograman ulang,β jelasnya.
Untuk CCTV dan RPU, ia menambahkan bahwa perbaikan sudah dilakukan dan beberapa titik akan diperbarui.
Usulan Penambahan Titik EWS Baru
BPBD Lumajang juga telah mengusulkan penambahan titik pemasangan EWS baru kepada BNPB guna memperkuat sistem deteksi dini di kawasan berisiko tinggi erupsi. βButuh re-sistem saja. Beberapa masih pada tempatnya, dan penambahan titik baru sudah diusulkan ke BNPB,β kata Isnugroho.
Ia menyebutkan bahwa proses penanganan ini merupakan kerja sama berbagai pihak termasuk pemerintah, NGO, serta mitra seperti UT, IOF, dan APJII.
Ia mencontohkan lokasi seperti Ponkesdes dan SDN 02 Supiturang yang meskipun masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB), tetap menjadi area aktivitas masyarakat untuk kegiatan ekonomi sehingga membutuhkan peringatan dini yang berfungsi optimal.
Kerusakan yang dialami EWS dan perangkat CCTV ini menjadi pengingat pentingnya perawatan dan pembaruan sistem mitigasi bencana di Gunung Semeru. Dengan kondisi gunung yang masih berpotensi erupsi, penambahan serta penguatan alat deteksi dini dinilai sangat krusial untuk keselamatan warga.
Advertisement