Dipicu Diksi 'Menernak LSM dan Media', Bupati Probolinggo Minta Maaf
Dipicu diksi "menernak LSM dan media", Bupati Probolinggo, dr. Muhammad Haris akhirnya memberi klarifikasi dan meminta maaf. Pernyataan itu tidak dimaksudkan untuk merendahkan atau menyamakan LSM dan media dengan yang tidak pantas.
Ucapan itu, kata Gus Haris, ditujukan kepada oknum pejabat yang diduga memanfaatkan relasi dengan LSM dan media untuk kepentingan pribadi.
Diksi yang membuat sebagian pegiat LSM dan media "kebakaran jenggot" itu diungkapkan bupati saat pelantikan 19 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo di pendopo setempat, Senin, 20 Oktober 2025.
Awalnya saat sambutan, bupati memberi arahan agar pejabat bersikap amanah dan berintegritas. Juga diminta tidak menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
"Jangan sampai ada pejabat yang menernak LSM dan media. Bila ingin menyerang saya, saya selalu siap dan tidak akan mundur," tegasnya.
Akhirnya, ungkapan "menernak" disertai tantangan itu memicu kegaduhan di kalangan LSM dan media. Semakin menanas karena ramai (viral) diperbincangkan warganet (netizen) di media sosial (medsos). Gus Haris pun kemudian memberikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf.
"Sahabat-sahabat media dan LSM, saya tegaskan bahwa kata-kata itu tidak bermaksud menyamakan teman-teman dengan apa pun yang negatif. Hubungan kita sudah lama terjalin baik dan penuh persahabatan,” ujar Gus Haris, panggilan akrab dr. Muhammad Haris dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, maksud sebenarnya adalah sebagai teguran keras dan bentuk peringatan kepada kalangan internal pemerintah daerah agar tidak menjadikan media atau LSM sebagai alat proteksi diri maupun sarana mencari keuntungan pribadi.
“Celetukan itu muncul karena keprihatinan. Ada oknum yang menjalin hubungan tidak sehat demi kepentingan pribadi. Jika kemudian ucapan saya itu menyinggung teman-teman media dan LSM, saya mohon maaf sebesar-besarnya, baik secara pribadi maupun sebagai Bupati Probolinggo,” katanya.