Dari Wayang Kertas hingga Musik Eksperimental, Persiapan Pameran Jumaadi Penuh Eksplorasi
Seniman asal Sidoarjo, Jumaadi, memastikan seluruh instalasi karya untuk pameran tunggalnya di Tumurun Museum telah rampung.
Menjelang pembukaan pada 18 Juni 2026, fokus persiapan kini beralih pada latihan dan pematangan pertunjukan kolaboratif yang menjadi bagian penting dari pameran tersebut.
Pameran berjudul “Yang Bersayap Rangka Daun“ itu akan diselenggarakan hingga awal Januari 2027.
Menurut Jumaadi, tahapan pemasangan karya telah selesai dilakukan. Saat ini, tim tengah memasuki fase latihan intensif untuk pertunjukan yang akan melengkapi rangkaian pameran.
“Ini sebenarnya sudah bukan tahap persiapan pameran lagi. Instalasi karya sudah terpasang. Yang masih dipersiapkan adalah performance atau pertunjukannya. Sekarang sudah masuk tahap rehearsal atau latihan,” ujarnya, Senin 18 Juni 2026.
Ia menjelaskan, konsep pertunjukan tersebut lahir dari proses panjang yang dimulai hampir satu tahun lalu bersama rekan kolaboratornya, Shadow Factory sebagai pemusik.
Berbagai tahapan telah dilalui, mulai dari diskusi gagasan, pengembangan visual, pengguntingan kertas, pengumpulan material suara dan musik, hingga eksplorasi pertunjukan dan komposisi gending.
Digarap Hampir Setahun
Jumaadi mengungkapkan bahwa ide dasar proyek ini mulai dibicarakan sejak akhir 2025. Namun, proses kreatif berjalan secara bertahap karena masing-masing tim juga mengerjakan proyek seni lainnya.
“Kalau dihitung dari awal pembicaraan, sudah sekitar delapan sampai sembilan bulan. Selama proses itu, riset, pengembangan gagasan, workshop, dan eksplorasi berlangsung tumpang tindih,” katanya.
Menariknya, konsep pameran ini beberapa kali mengalami perubahan judul dan pendekatan sebelum akhirnya menemukan bentuk yang dianggap paling tepat.
Tantangan Besar pada Kolaborasi Musik
Persiapan menuju pembukaan pameran juga diwarnai sejumlah tantangan, terutama dalam menyusun tim pendukung pertunjukan. Pameran di Tumurun Museum mendatang, Jumaadi berkolaborasi dengan Shadow Factory sebagai pemusik.
Wandi, mewakili Shadow Factory mengaku sempat melakukan perubahan personel musik demi mendapatkan sosok yang mampu menggabungkan kemampuan teknologi dan performa musikal dalam satu pertunjukan.
Baginya, kolaborasi yang dibangun dalam proyek ini lebih menekankan pada semangat eksplorasi dan pengalaman baru daripada sekadar menghasilkan sebuah pertunjukan.
“Yang dicari adalah kecocokan dan semangat bermain bersama. Dari situ biasanya kreativitas muncul dengan sendirinya,” tutupnya.