Buntut Bentrok, Semua Penghuni Asrama Papua Dibawa Polisi
Buntut dari bentrok antara ormas dengan mahasiswa Papua yang berada di dalam asrama siang tadi, kini seluruh penghuni, digiring polisi menuju Markas Polrestabes Surabaya. Mereka diangkut dengan menggunakan truk Sabhara milik Polrestabes Surabaya. Jumlahnya ada sekitar 20-30 mahasiswa yang diangkut.
Saat dipaksa akan dibawa ke Mapolrestabes, sejumlah mahasiswa sempat menolak. Namun akhirnya mereka tak berdaya di hadapan aparat. Mereka juga sempat berteriak jika tak diperlakukan secara manusiawi oleh aparat.
Belum ada keterangan resmi dari Polrestabes Surabaya soal mahasiswa yang dibawa ke Mapolrestabes ini. Namun berdasarkan keterangan dari Sahura, pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, digiringnya seluruh mahasiswa Papua ini karena mereka semua menolak untuk menandatangani berita acara kepemilikan barang bukti yang disodorkan oleh polisi.
Tanda-tanda ketegangan antara polisi dengan mahasiswa Papua yang berada dalam asrama sebenarnya sudah terasa sejak pukul 19:52 WIB tadi. Saat itu sejumlah polisi dengan berpakaian hitam-hitam dan memakai masker mulai masuk ke dalam Asrama Mahasiswa Papua. Awak media pun dilarang untuk meliput dari dekat. Sehingga tak jelas apa yang dilakukan polisi terhadap mahasiswa Papua di dalam asrama.
Selain diduga mencari barang bukti, masuknya polisi juga untuk mencari pelaku yang dianggap melakukan pembacokan. Proses antara polisi dengan mahasiswa Papua pun berlangsung cukup lama. Terbukti sejak masuk sekitar pukul 19.52, baru keluar sekitar pukul 23.00 WIB. Polisi berhasil memaksa mahasiswa Papua keluar dan dibawa ke Mapolrestabes Surabaya.
Di sela-sela proses itu, seorang polisi sempat membawa mahasiswa keluar, ia membawa parang. Namun, pengacara publik LBH, Sahura membantah jika parang tersebut yang digunakan membacok siang tadi.
Hingga berita ini diturunkan, meski seluruh penghuni Asrama Mahasiswa Papua, sudah diangkut, sejumlah polisi masih tetap berjaga. Jalan Kalasan pun masih ditutup. (frd/amr)