Bukan Gaya Hidup, Tapi Tugas Dakwah: Mengapa Kiai Perlu Mobil Mewah?
Mengapa mobil mewah kiai dipersoalkan? Sudah seharusnya kendaraan yang menjadi tumpangan para kiai wajib mewah. Lebih tepatnya harus nyaman dan aman.
Mobil dengan tingkat kenyamanan dan keamanan tinggi sudah menjadi kebutuhan. Karena pada umumnya kiai mempunyai tingkat mobilitas tinggi. Sering bepergian jarak jauh untuk berdakwah maupun urusan organisasi.
KH A Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus membagi kiai menjadi dua: Kiai Pesantren dan Kiai Mubaligh. Yang pertama adalah pemimpin pesantren, sedangkan kedua yang bertabligh lewat pengajian-pengajian umum.
Kiai mubaligh adalah kiai yang aktif memberikan pengajian, berdakwah, atau mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat umum. Tak hanya mengajar santrinya di pesantren. Mereka harus pergi dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kota ke kota lain.
Kiai mubaligh umumnya tak hanya mengaji sekali sehari. Terkadang bisa tiga tempat yang berjauhan. Karena itu, pada saat tertentu dibutuhkan pengawal di jalan agar tidak telat di tempat pengajian berikutnya. Anda bisa bayangkan seorang kiai harus mengisi pengajian dalam sehari di tiga kota.
Gus Mus dalam sebuah acara pernah menceritakan tentang ayahnya KH A Bisri Mustofa. Suatu saat, ayahnya berkunjung ke KH Hamid Pasuruan. Kiai yang disebut terakhir ini dikenal sebagai seorang wali. Beliau datang ke Pasuruan untuk minta didoakan bisa punya mobil.
“Nda, saya ini Mubaligh. Masak saya harus bergelantungan naik bus kalau mau menghadiri pengajian. Kan nggak pantes. Karena itu, mintakan kepada Allah agar saya bisa punya mobil,” kata Gus Mus menirukan percakapan ayahnya dengan Kiai Hamid. Mendengar itu, Kiai Hamid langsung mengajak tamu yang lain mengamini doanya.
Menurut Gus Mus, ketika hendak pulang, Kiai Bisri masih tanya kepada Kiai Hamid tentang apa merk mobilnya nanti. “Sama Mbah Hamid dijawab Holden,” kisah Gus Mus dengan nada bergurau. Dan memang di kemudian hari ayah Gus Mus mempunyai mobil bermerk Holden.
Pada zaman itu, mobil Holden tergolong mobil paling mewah. Saat kecil, saya sering diajak nenek saya berkunjung ke rumah sepupunya yang kiai. Nenek saya memanggilnya Kiai Maul. Saya selalu senang kalau berkunjung ke beliau karena pasti akan makan enak dan bisa merasakan enaknya kursi mobil Holden itu.
Kini peluang kiai memiliki mobil bagus sangat besar. Apalagi setelah beberapa dekade terakhir terjadi mobilitas sosial besar-besaran kaum santri.
Kalau dulu, para kiai sudah kaya dari awal –karena itu kemudian dimusuhi PKI– kini juga makin banyak santrinya yang sukses. Sehingga kebutuhan untuk itu dengan gampang dipenuhi para santrinya yang telah sukses.
Lha kenapa santri bersedia memberi mobil bagus kepada kiainya? Ini adalah bagian dari amal jariyah. Ini bagian dari takdzim dan cara santri balas budi. Bagi santri, menyediakan fasilitas untuk orang yang pernah mendidiknya adalah kebanggaan.
Dalam cara berpikir agama, ia akan ikut mendapatkan pahala karena kendaraan itu digunakan untuk kegiatan kebaikan.
Lantas mengapa sekarang masih dianggap tabu? Secara sosiologi bisa dijelaskan sebagai akibat dari framing yang berdasarkan pada stigma berbasis prasangka. Stigma bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional masih belum berubah. Ada kesenjangan pemahaman tentang pesantren di kalangan kaum perkotaan.
Pada dasarnya, orang cenderung mengelompokkan diri dalam ingroup (kelompok sendiri) dan outgroup (kelompok lain). Dalam konteks ini, prasangka muncul sebagai bagian cara orang untuk mempertahankan citra positif kelompok sendiri dan merendahkan kelompok lain.
Berbasis prasangka ini, maka lahirlah bias framing terhadap pesantren dan kiai. Framing terhadap pesantren bisa dipengaruhi oleh dominasi kelompok sekuler-urban yang memandang kelompok religius-tradisional sebagai the other.
Dalam sosiologi, ini disebut outgroup homogenization bias: melihat kelompok lain seolah seragam dan negatif.
Jadi, prasangka atas pesantren dan kiai menjadi basis kognitif framing. Selanjutnya framing menjadi mekanisme produksi realitas sosial. Dan produksi realitas itu yang kemudian melanggengkan stigma terhadap kelompok pesantren, kiai dan santri.
Dengan kata lain, prasangka negatif terhadap pesantren menyiapkan bingkai kognitif. Framing mengukuhkan prasangka dalam wacana publik. Keduanya membentuk realitas sosial baru yang memperkuat stigma terhadap kelompok tertentu.
Apa yang terjadi di balik kasus tayangan Trans7 tentang pesantren yang bias adalah bukti masih ada kesenjangan antara dunia pesantren dan kelompok di luarnya.
Karena itu, mengatasi akar masalah kesenjangan ini tampaknya sangat penting. Dan ini perlu dilakukan oleh pesantren maupun santri secara keseluruhan.
Mengatasi framing negatif terhadap pesantren tidak cukup dengan klarifikasi fakta. Apalagi unjukrasa berketerusan. Aksi massa diperlukan sebatas memberi efek kejut: bahwa stigma itu salah. Tapi selanjutnya diperlukan pergeseran epistemik dan kultural.
Perubahan cara masyarakat dalam memahami, memproduksi, dan memvalidasi pengetahuan tentang pesantren. Caranya dengan membangun kontak sosial, merebut bingkai makna, melembagakan narasi baru, dan menciptakan hegemoni moral yang berakar pada realitas pesantren itu sendiri.
Yang menyenangkan, kesadaran ini mulai merebak di kalangan pesantren dan masyarakat santri. Makin banyak kalangan pesantren yang speak up di media sosial untuk memberikan pencerahan tentang dunia pesantren yang sebenarnya. Seperti santri muda dari Ponpes Darul Falah Amsilati dengan Nalar Santri Amsilati-nya.
Keren!