BRIN Dorong Masyarakat Terlibat dalam Membangun Lintasan Ikan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan lintasan ikan guna mendukung migrasi ikan yang terhambat oleh bangunan melintang sungai, seperti bendungan dan penghalang lainnya.
Kepala Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat BRIN, Arif Wibowo, mengungkapkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pembangunan lintasan ikan masih minim. Padahal, partisipasi masyarakat sangat penting untuk menjaga keberlangsungan lintasan tersebut.
“Sehingga, kita perlu riset-riset sosial untuk meningkatkan persepsi masyarakat mengenai pentingnya lintasan ikan ini,” ujar Arif dalam rilis resmi laman BRIN, Rabu 26 Februari 2025.
Selama ini, riset lintasan ikan lebih berfokus pada aspek biologi, seperti biodiversitas ikan di area bendung dan bendungan. Faktor-faktor seperti turbulensi, ketinggian lereng (slope), serta arus menjadi perhatian utama dalam membangun lintasan ikan yang efektif.
Namun, menurut Arif, penelitian sosial juga diperlukan untuk memahami keterkaitan pembangunan lintasan ikan dengan aspek keamanan pangan, energi, serta ketersediaan protein dan nutrien bagi masyarakat.
“Selain itu, riset sosial juga penting untuk menilai seberapa besar nilai ekonomis keberadaan ikan di sungai. Ini harus ditanyakan langsung kepada masyarakat untuk mendapatkan estimasi valuasi ekonomi yang akurat,” tambahnya.
Lintasan Ikan dan Dampaknya terhadap Masyarakat
Dalam implementasinya, lintasan ikan tidak hanya berdampak secara ekologis tetapi juga sosial, terutama bagi komunitas yang bergantung pada perikanan. Oleh karena itu, peneliti di bidang konservasi ikan perlu memahami metode ilmiah dalam penelitian sosial.
Arif menegaskan bahwa lintasan ikan berperan dalam melindungi populasi ikan yang membutuhkan migrasi dan mencegah fragmentasi habitat. Beberapa lintasan ikan yang sudah dibangun di Indonesia di antaranya:
Sumatra: Perjaya (Sumatera Selatan), Batanghari (Jambi), dan Sei Ular (Sumatera Utara).
Jawa: Sungai Opak (Yogyakarta), dengan tiga jalur ikan di penahan sedimen.
Jawa Barat: Sungai Citatih (Sukabumi), yang menjadi satu-satunya kabupaten dengan peraturan daerah yang mewajibkan pembangunan lintasan ikan pada setiap bendung atau bendungan.
Sulawesi: Bendungan PLTA Poso (Sulawesi Tengah).
Kolaborasi Penelitian Indonesia dan Australia
Untuk memperkuat riset lintasan ikan, BRIN bekerja sama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) dan Charles Sturt University (CSU). Saat ini, enam peneliti BRIN tengah menempuh studi di CSU untuk mendalami aspek sosial dalam penelitian lintasan ikan.
Selain itu, Crawford Foundation turut berperan dalam pendanaan riset ilmu sosial dan alam, guna mempererat hubungan kerja sama Indonesia dan Australia, serta meningkatkan kapasitas peneliti dalam memahami konservasi ikan dari perspektif sosial.
Senior Research Fellow di Environment and Livelihoods, Gulbali Institute, CSU, Joanne Millar, menekankan pentingnya memahami masyarakat dalam riset konservasi ikan.
“Apakah mereka melakukan penelitian sosial atau tidak, sangat penting bagi mereka untuk memahami masyarakat setempat dan bekerja sama dengan mereka,” ujar Joanne.
Ia juga membagikan pengalamannya dalam proyek jalur ikan di Laos, di mana masyarakat setempat membentuk komite untuk mengelola dan mengawasi lintasan ikan agar tidak terjadi penangkapan ikan secara ilegal.
Dengan pendekatan berbasis komunitas dan kolaborasi internasional, diharapkan pembangunan lintasan ikan di Indonesia semakin efektif dan berkelanjutan, demi menjaga keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perikanan.