Banner Larangan Naik Motor Matik di Jalur Bromo Ditambah Bahasa Mandarin
Larangan wisatawan Gunung Bromo untuk tidak naik motor matik terus digelorakan. Kini, banner bertuliskan larangan itu tidak hanya sekedar bahasa Indonesia dan Inggris. Tetapi, bertambah satu lagi, berbajasa Mandarin.
Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkab Probolinggo hingga Pemerintah Desa Ngadisari berinisiatif memasang banner larangan motor matik di sejumlah titik, sebagai bentuk sosialisasi
Pihak desa memasang 20 banner peringatan baru di sepanjang jalur utama Desa Ngadisari menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Pemasangan dilakukan di titik-titik strategis dengan jarak selisih satu kilometer.
“Banner ini kami pasang di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo, melengkapi banner lama yang lebih dulu kami pasang,” ujar Kepala Desa Ngadisari, Sunaryono, Selasa, 7 Oktober 2025.
Sekedar informasi, larangan wisatawan Bromo bersepeda motor matik gara-gara rem motor matik berpotensi ngeblong di jalan menurun panjang. Kecelakaan lalu lintas pun sering dipicu rem motor matik yang mudah ngeblong tersebut
Karena. motor matik kurang didukung sistem pengereman mesin. Sehingga di turunan tajam yang panjang, rem rawan ngeblong.
Kalaupun sekarang ini ada pemasangan banner menggunakan tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Mandarin), mengingat korban yang mengalami kecelakaan lalu lintas belakangan ini tidak hanya wisatawan lokal.
Bahkan, Kades Ngadisari Sunaryono menginformasikan, penambahan bahasa Mandarin dilakukan untuk memudahkan wisatawan asal Tiongkok memahami isi banner peringatan itu.
“Selama ini, turis asing yang paling sering mengalami kecelakaan di jalur Bromo adalah turis asal Tiongkok. Mereka banyak yang tidak bisa bahasa Inggris. Jadi kami kesulitan berkomunikasi secara langsung,” terangnya.
Termasuk menghindari kesalahpahaman dengan wisatawan, khususnya wisatawan asal Tiongkok. Diceritakan, saat petugas desa atau masyarakat berusaha menghentikan motor demi alasan keamanan, mereka justru mengira akan dibegal. Bukannya berhenti, mereka malah kabur.
“Karena itu Pemdes Ngadisari membuat banner berbahasa Mandarin agar lebih mudah dipahami dan tidak salah persepsi,” ungkapnya.
Selain pemasangan banner tiga bahasa, Pemdes Ngadisari tetap melakukan sosialisasi langsung kepada para pengendara motor matik yang melintas.
Pengendara motor matik distop dan diberi penjelasan terhadap risiko motor matik di jalan menurun tajam.