Angin Puting Beliung Terjang Probolinggo, Puluhan Bangunan Rusak
Angin puting beliung menerjang sejumlah desa di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jumat, 16 Januari 2026 sore.
Akibatnya, belasan rumah dilaporkan rusak. Kebanyakan pada bagian atap bangunan.
Hingga berita ini ditulis. Sabtu, 17 Januari 2026 tadi, warga masih yerkihat bergotong-royong menyingkirkan belasan pohon tumbang. Sebagian warga membersihkan puing-puing bangunan yang porak-poranda akibat angin puting beliung.
Informasinya, angin puting beliung bersamaan dengan hujan deras terjadi Jumat sore sekitar pukul 15.30 WIB. Di Kecamatan Leces, angin puting beliung berlangsung selama beberapa menit, dengan titik awal di Desa Leces dan bergerak menuju Desa Sumberkedawung.
Akibatnya, atap rumah, kanopi rumah, serta toko-toko di Desa Leces mengalami kerusakan.
“Angin puting beliung ini diawali hujan lebat yang mengguyur Kecamatan Leces sejak pukul 15.00 WIB, tiga puluh menit kemudian disusul angin puting beliung,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.
Sejumlah rumah rusak dan belasan pohon tumbang di dua desa, Leces dan Sumberkedawung akibat disapu putaran angin ini.
BPBD Kabupaten Probolinggo yang menerima laporan langsung turun ke lokasi untuk memotong dan menyingkirkan pohon tumbang.
Hasil pendataan sementara, kata Oemar, empat rumah dilaporkan rusak sedang dan puluhan rumah lainnya rusak ringan. Selain itu, terdapat empat rumah yang rusak akibat tertimpa pohon tumbang.
“Syukurlah, tidak ada korban luka, apalagi korban jiwa dalam peristiwa ini,” ungkapnya.
Bangunan SD Ambruk
Angin puting beliung juga mengakibatkan atap gedung SDN Sumberkare 1, di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo ambruk. Beruntung, saat kejadian tidak ada aktivitas belajar mengajar sehingga tidak menimbulkan korban.
Atap yang ambruk menaungi ruang kelas 2 dan sebagian ruang kelas 3. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.30 WIB setelah Kecamatan Wonomerto diguyur hujan lebat.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Probolinggo, Heri Tjahjono membenarkan kejadian tersebut. Dikatakan ambruknya atap Gedung SDN Sidokare 1 terjadi saat sekolah dalam keadaan kosong.
“Sebelumnya kami sudah melakukan verifikasi terhadap ruang kelas tersebut untuk diperbaiki. Sehingga, sebelum ambruk, satu ruang kelas telah dikosongkan,” ujar Heri.
Heri menduga, ambruknya atap sekolah tersebut disebabkan beberapa faktor di antaranya, intensitas hujan tinggi. Juga karena kondisi atap bangunan yang sudah tua, serta kemungkinan adanya pergerakan tanah.
Demi keamanan, BPBD Kabupaten Probolinggo memasang garis pembatas. Tujuannya, agar masyarakat dan siswa tidak mendekati tiga ruang kelas tersebut.
“Untuk sementara, kegiatan belajar-mengajar untuk siswa kelas 1 hingga kelas 3 dipindahkan ke ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan, dan ruang kelas 5,” pungkas Heri
Advertisement