Yang Bersayap Rangka Daun, Jumaadi Menuturkan Kisah Mimpi dan Harapan Manusia
Apa yang terjadi ketika manusia terus bermimpi meninggalkan batas-batas kehidupannya? Pertanyaan itu menjadi salah satu benang merah dalam pameran tunggal Yang Bersayap Rangka Daun karya seniman Indonesia-Australia, Jumaadi, yang digelar di Museum Tumurun, Surakarta, Solo.
Pameran yang berlangsung mulai 19 Juni 2026 hingga 10 Januari 2027 tersebut menghadirkan dunia visual yang dipenuhi figur bersayap, bayang-bayang, makhluk imajiner, hingga berbagai simbol yang bergerak di antara kenangan, harapan, dan kehilangan.
Dalam karya-karyanya, sayap menjadi simbol yang terus berulang. Namun, Jumaadi tidak memaknainya secara sederhana sebagai lambang kebebasan. Sayap hadir sebagai metafora tentang hasrat manusia untuk melampaui asal-usulnya, meninggalkan dunia yang dikenal, dan mengejar kehidupan yang dibayangkan lebih baik.
Melalui lukisan, instalasi, karya berbahan kulit kerbau, hingga pertunjukan bayang-bayang, Jumaadi menyusun narasi puitik yang memperlihatkan bahwa setiap perjalanan menuju impian selalu dibarengi risiko, kerentanan, bahkan kehilangan yang tak terduga.
"Kita semua seperti makhluk bersayap. Selalu ingin pergi lebih jauh dari tempat asal kita, mencari sesuatu yang kita bayangkan lebih baik. Tapi setiap perjalanan itu selalu membawa risiko, kehilangan, dan bayang-bayang yang harus kita hadapi," ujar Jumaadi, kepada Ngopibareng.id Kamis 18 Juni 2026.
Menurutnya, karya-karya dalam Yang Bersayap Rangka Daun lahir dari perjumpaan berbagai pengalaman hidup, mulai dari kenangan masa kecil di Jawa Timur, pengalaman berpindah budaya, hingga refleksi atas kehidupan manusia yang terus berubah.
"Saya tidak ingin memberikan satu jawaban atau satu cerita yang pasti. Saya lebih tertarik menghadirkan ruang bagi orang untuk menemukan maknanya sendiri. Karena pengalaman setiap orang berbeda, begitu juga cara mereka melihat mimpi, harapan, dan kehilangan," katanya di sela pameran.
Pameran ini ditulis oleh Hera Chan dan Adi Wicaksono, serta diperkuat puisi karya Afrizal Malna. Pengunjung diajak memasuki ruang yang mengaburkan batas antara realitas dan fantasi, sebagaimana dunia wayang yang selama ini menjadi salah satu sumber inspirasi utama Jumaadi.
Pengaruh tradisi visual Jawa dan kosmologi Bali terlihat kuat dalam berbagai karya yang dipamerkan. Namun, pengalaman hidup Jumaadi sebagai seniman diaspora yang berkarya di Australia turut membentuk perspektif baru yang membuat karya-karyanya terasa universal dan relevan dengan pengalaman manusia modern.
Alih-alih menawarkan satu alur cerita yang pasti, Jumaadi menghadirkan rangkaian fragmen memori dan simbol yang dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap pengunjung. Di dalamnya tersimpan kerinduan terhadap kampung halaman, pengalaman perpindahan budaya, hingga pencarian identitas yang terus berlangsung.
Dengan pendekatan tersebut, Yang Bersayap Rangka Daun tidak hanya menjadi pameran seni rupa, melainkan juga refleksi tentang perjalanan manusia dalam menghadapi perubahan, harapan, dan ketidakpastian hidup.