Tradisi Kupatan Menyambut Nisfu Sya’ban di Kampung-Kampung
Dua pekan menjelang puasa Ramadan, masyarakat di berbagai kampung mulai bersiap menyambut malam Nisfu Sya'ban dengan tradisi kupatan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penjual janur serta ketupat yang telah siap konsumsi di berbagai pasar tradisional.
Kupatan pada malam Nisfu Sya’ban memiliki makna mendalam bagi masyarakat, yaitu sebagai simbol ungkapan maaf kepada Allah Swt dan sesama manusia. Tradisi ini diyakini dapat membantu seseorang menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan lebih khusyuk.
Dalam budaya Jawa, ketupat atau "kupat" memiliki arti "ngaku lepat", yang berarti mengakui kesalahan. Oleh karena itu, tradisi ini menjadi simbol permohonan maaf dan persiapan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Selain ketupat, ada juga makanan lain yang biasa disajikan dalam tradisi ini, seperti lontong dan lepet. Setiap makanan memiliki makna tersendiri: Ketupat: Melambangkan pengakuan kesalahan kepada Tuhan. Lontong: Melambangkan hati yang kosong dari dosa dan Lepet: Melambangkan kekuatan iman untuk menjalankan ibadah.
Tradisi ini banyak ditemukan di wilayah yang memiliki pengaruh budaya Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan beberapa daerah perantauan keturunan Jawa. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki tradisi ini, karena budaya setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing.
Menurut para sesepuh dan tokoh agama di Bojonegoro, masyarakat diimbau menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan serta menjauhi maksiat. Mereka juga mengajak umat Islam untuk mengisi bulan Ramadan dengan amal saleh dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. “Ini menjadi ajang silaturrahmi warga untuk saling memaafkan, sebelum memasuki bulan Ramadan,” ujar H Umar, tokoh masyarakat di Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro.
Tradisi kupatan ini biasanya diawali dengan pukulan bedug di masjid atau musala, sebagai tanda dimulainya acara. Warga membawa Ketupat, Lontong, dan Lepet membawa makanan khas ini ke masjid atau musala untuk dibagikan kepada sesama.
Sesampai di masjid, warga membaca doa-doa, memohon ampunan kepada Allah serta memanjatkan doa agar diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Seusai membacakan doa, warga bersama-sama menikmati hidangan ketupat, lontong, dan lepet sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.
Tradisi kupatan menjadi ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antarwarga. Masyarakat memanfaatkan momen ini untuk introspeksi diri dan memohon ampun atas kesalahan yang telah dilakukan. Tradisi ini juga menjadi bentuk syukur kepada Allah atas nikmat dan rezeki yang telah diberikan.
Sebagai warisan budaya leluhur, tradisi kupatan masih terus dilestarikan hingga saat ini. Selain menjadi bagian dari persiapan Ramadan, tradisi ini juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat.
Dengan menjaga dan meneruskan tradisi ini, diharapkan hubungan sosial antarwarga semakin erat, serta semakin banyak umat Islam yang menjalani ibadah Ramadan dengan hati yang bersih dan khusyuk.