Tiket Terintegrasi Papuma–Watu Ulo Rp12.500, Kunjungan Wisata Tembus Puluhan Ribu
Pemerintah Kabupaten Jember akhirnya berhasil mewujudkan integrasi satu pintu masuk untuk dua destinasi wisata unggulan, Pantai Papuma dan Pantai Watu Ulo. Setelah hampir 25 tahun upaya dilakukan, kebijakan ini resmi diberlakukan mulai 2 Januari 2026 dengan harga tiket terjangkau sebesar Rp12.500 untuk dua pantai sekaligus.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kesepakatan dengan pemerintah pusat, termasuk Perhutani, yang selama ini menjadi kunci utama pengelolaan kawasan wisata tersebut.
“Setelah hampir 25–26 tahun ikhtiar ini belum berhasil, akhirnya pada 2 Januari 2026 ikon pariwisata Jember, Pantai Papuma dan Watu Ulo, bisa terintegrasi dengan satu pintu masuk dan harga tiket yang terjangkau,” ujarnya.
Menurut Fawait, kebijakan integrasi ini tidak hanya bertujuan menurunkan harga tiket, tetapi juga untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.
“Penyatuan ini bukan hanya soal penurunan harga tiket, tetapi harapan kami dengan tarif yang terjangkau, kunjungan wisata ke Papuma dan Watu Ulo semakin meningkat sehingga menimbulkan multiplier effect bagi perekonomian, terutama pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir,” jelasnya.
Dampak kebijakan tersebut langsung terlihat dalam tiga hari pertama penerapan. Fawait menyebut jumlah kunjungan wisatawan pada 2 hingga 4 Januari 2026 menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan kedua pantai tersebut.
“Dari tanggal 2 sampai 4 Januari, wisatawan di dua tempat ini mencapai salah satu yang tertinggi dalam sejarah, yaitu 20.294 pengunjung,” ungkapnya.
Keberhasilan pelaksanaan kebijakan ini juga melibatkan banyak pihak lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Fawait menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat.
“Banyak OPD yang terlibat, mulai dari Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, Satpol PP, BPBD, dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, kecamatan, desa, hingga masyarakat sekitar yang ikut menyukseskan integrasi Papuma dan Watu Ulo,” katanya.
Meski demikian, Pemkab Jember mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan awal kebijakan tersebut.
“Tentu masih banyak kekurangan. Ada masukan yang kami terima, baik secara langsung maupun melalui Waduk Guse. Ini wajar karena kebijakan yang baru diambil pasti masih ada kekurangan teknis di sana-sini,” ujarnya.
Gus Fawait menegaskan Pemkab Jember bersama Perhutani berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan agar pengelolaan dua destinasi wisata tersebut semakin optimal.
“Insyaallah Pemkab Jember bersama Perhutani berkomitmen memperbaiki dan membuat Papuma dan Watu Ulo menjadi lebih baik lagi ke depan,” tegasnya.
Ke depan, Pemkab Jember juga menargetkan pengembangan destinasi wisata lainnya agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Setelah Papuma dan Watu Ulo, kami akan berpindah mengembangkan destinasi wisata lainnya agar tumbuh lebih cepat dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, serta pengentasan kemiskinan,” pungkasnya.