Tiga Persiapan Penting Sambut Bulan Ramadhan
Ramadan segera datang. Hati umat Islam pun gembira menyambutnya. Untuk memberi gambaran tentang pentingnya menyambut bulan suci tersebut, berikut pesan-pesan KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU, tentang Tiga Persiapan Penting Menyambut Bulan Ramadhan:
Saat hendak memasuki bulan suci Ramadhan, Nabi Muhammad shallallahu โalaihi wasallam berpidato di hadapan para sahabatnya. Ceramah di penghujung bulan Syaโban tersebut berisi tentang informasi keistimewaan Ramadhan, serta anjuran untuk meningkatkan penghambaan dan kepada Allah dan kepedulian sosial.
Yang menarik, Rasulullah menggunakan redaksi sapaan โyรข ayyuhannรขsโ (wahai manusia) saat mengawali pidatonya, yang menandakan bahwa pesan tersebut berlaku umum bagi seluruh umat, bukan kaum Muslimin semata. Berikut isi lengkap pidato tersebut:
โWahai manusia, sungguh bulan agung dan penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai ibadah sunnah.Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan tersebut, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.โ
โRamadhan itu adalah bulan kesabaran; sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah bulan pertolongan. Pada bulan itu rezeki orang-orang mukmin ditambah.โ
โSiapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa di bulan itu, maka ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka. Orang itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya, tidak berkurang sedikit pun.โ
โDialah Ramadhan, bulan yang permulaannya dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan, pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka.โ
Para sahabat bertanya, โWahai Rasulullah, tak semua dari kami memiliki makanan untuk berbuka bagi orang lain.โ
Rasulullah ๏ทบ menjawab, โAllah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu.โ
Nabi ๏ทบ pun melanjutkan, โDialah Ramadhan, bulan yang permulaannya dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan, pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka.โ
โBarangsiapa yang meringankan beban pekerjaan pembantu-pembantu rumah tangganya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari api neraka."
โOleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, hendaklah kamu sekalian dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. (Untuk meraih) dua bagian yang pertama, hendaklah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. (Untuk meraih) dua bagian yang kedua hendaklah memohon (dimasukkan ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka.โ
โSiapa yang memberi minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku, suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya, sehingga ia masuk ke dalam surga.โ (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah: 1780; al-Baihaqi dalam Syuโab al-Iman: 3455. Redaksi hadits di atas riwayat Ibn Khuzaimah).
Teks Arab dari hadits tersebut adalah sebagai berikut:
ุฃููููููุง ุงููููุงุณู ููุฏู ุฃูุธููููููู ู ุดูููุฑู ุนูุธูููู ูุ ุดูููุฑู ู ูุจุงูุฑูููุ ุดูููุฑู ููููููู ููููููุฉู ุฎูููุฑู ู ููู ุฃููููู ุดูููุฑู ุฌูุนููู ุงูููู ุตููุงูู ููู ููุฑูููุถูุฉู ูู ูููุงูู ู ูููููููู ุชูุทูููููุนุงู ู ููู ุชูููุฑููุจู ููููููู ุจูุฎูุตูููุฉู ู ููู ุงููุฎูููุฑู ููุงูู ููู ููู ุฃูุฏููู ููุฑูููุถูุฉู ูููููู ุงู ุณูููุงูู ููู ููู ุฃูุฏููู ููููููู ููุฑูููุถูุฉู ููุงูู ููู ููู ุฃูุฏููู ุณูุจูุนููููู ููุฑูููุถูุฉู ูููููู ูุง ุณููุงููู ูููููู ุดูููุฑู ุงูุตูููุจูุฑู ููุงูุตูููุจูุฑู ุซููููุงุจููู ุงููุฌููููุฉู ููุดูููุฑู ุงููู ูููุงุณูุงุฉู ูู ุดูููุฑู ููุฒูุฏูุงุฏู ููููููู ุฑูุฒููู ุงููู ูุคูู ูููุ ู ููู ููุทููุฑู ููููููู ุตูุงุฆูู ุงู ููุงูู ู ูุบูููุฑูุฉู ููุฐูููููุจููู ููุนูุชููู ุฑูููุจูุชููู ู ููู ุงููููุงุฑู ูู ููุงูู ูููู ู ูุซููู ุฃูุฌูุฑููู ู ููู ุบูููุฑู ุฃููู ููููุชูููุตู ู ููู ุฃูุฌูุฑููู ุดูููุกู ููุงููููุง ููููุณู ูููููููุง ููุฌูุฏู ู ูุง ููููุทููุฑู ุงูุตููุงุฆูู ูุ ููููุงูู : ููุนูุทูู ุงูููู ููุฐูุง ุงูุซููููุงุจู ู ูู ููุทููุฑู ุตูุงุฆูู ุงู ุนูููู ุชูู ูุฑูุฉู ุฃููู ุดูุฑูุจูุฉู ู ูุงุกู ุฃููู ู ุฐููููุฉู ููุจููู ูููููู ุดูููุฑู ุฃูููููููู ุฑูุญูู ูุฉู ููุฃูููุณูุทููู ู ูุบูููุฑูุฉู ููุขุฎูุฑููู ุนูุชููููู ู ููู ุงููููุงุฑูุ ู ููู ุฎูููููู ุนููู ู ูู ููููููููู ุบูููุฑู ุงูููู ูููู ููุฃูุนูุชููููู ู ููู ุงููููุงุฑู ููุงุณูุชูููุซูุฑูููุง ููููููู ู ูู ุฃูุฑูุจููุนู ุฎูุตูุงูู: ุฎูุตูููุชููููู ุชูุฑูุถููููู ุจูููู ูุง ุฑุจููููู ู ููุฎูุตูููุชููููู ูุงู ุบูููู ุจูููู ู ุนูููููู ูุง ููุฃูู ููุง ุงููุฎูุตูููุชูุงูู ุงููููุชุงููู ุชูุฑูุถููููู ุจูููู ูุง ุฑุจููููู ู ููุดูููุงุฏูุฉู ุฃููู ูุงู ุฅูููู ุฅููุงูู ุงูููู ูู ุชูุณูุชูุบูููุฑููููููู ููุฃูู ููุง ุงููููุชุงููู ูุงู ุบูููู ุจูููู ู ุนูููููู ูุง ูููุชูุณูุฃููููููู ุงูููู ุงููุฌููููุฉู ูู ุชููุนูููุฐููููู ุจููู ู ููู ุงููููุงุฑู ูู ู ููู ุฃูุดูุจูุนู ููููููู ุตูุงุฆูู ุงู ุณูููุงูู ุงูููู ู ููู ุญูููุถููู ุดูุฑูุจูุฉู ูุงู ููุธูู ูุฃู ุญูุชูู ููุฏูุฎููู ุงููุฌููููุฉู
Meskipun sebagian ahli menyebut hadits ini berstatus dhaif, kandungannya masih bisa diamalkan karena karena berkaitan dengan fadhailul aโmal (keutamaan amal). Beberapa keterangan yang disebutkan hadits ini, banyak persamaan yang disebutkan hadits yang lebih sahih.
Imam Ahmad bin Hambal menyampaikan pernyataan mengenai hadits dhaif, beliau berpandangan:
ุงููุญูุฏูููุซู ุงูุถูุนููููู ุฃูุญูุจูู ุฅูููููู ู ููู ุงูุฑูุฃููู
โHadits yang dhaif lebih aku cintai dari al-raโyu (pendapat akal seseorang).โ
Dalam kalimat yang lain, beliau berpendapat:
ุงููุนูู ููู ุจูุงููุญูุฏูููุซู ุงูุถููุนููููู ุฃูููููู ู ููู ุงููููููุงุณู
โBeramal dengan hadits yang dhaif lebih utama dari menggunakan qiyas (analogi)โ.
Hadits ini dimuat juga dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama terkenal, antara lain: Muhammad Yusuf al-Kandahlawi dalam kitab Hayah al-Shahabah, III/400โ401, Imam al-Munzdiri dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib, I/16โ17, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz dalam kitab Majmuโ Fatawa wa Maqalat Mutanawwiโah, XV/44โ45. Prof. Hasbi al-Shiddiqi dalam Pedoman Puasa.(nu-online)
sumber: http://www.nu.or.id/post/read/45781/pidato-rasulullah-menjelang-ramadhan
Advertisement