Tiga Hal Penting Ihwal Bayar Zakat dengan Uang, Rumusan LBM PBNU
Zakat Fitrah adalah zakat yang harus dikeluarkan oleh setiap orang Islam pada saat menjelang hari raya Iedul Fitri. Menurut pendapat arus utama (mainstream) mazhab Syafiโi โyang dianut mayoritas muslimin Indonesiaโ mengharuskan pembayaran zakat fitrah dengan qutul balad (makanan pokok) yang berupa biji-bijian dan tahan lama.
Di Indonesia serealia pangan utama adalah beras. Bila kita mengikuti pendapat mainstream tersebut, maka kewajiban zakat fitrah dibayar dengan beras yang merupakan bagian dari bahan makanan (min tho'amin). Hal ini sesuai dengan hadits berikut:
ุนููู ุฃูุจูู ุณูุนููุฏู ุงููุฎูุฏูุฑูููู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ููุงูู: ูููููุง ููุฎูุฑูุฌู ููู ุนูููุฏู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนูููููููููุณููููู
ู
ููููู
ู ุงููููุทูุฑูุตูุงุนูุง ู
ููู ุทูุนูุงู
ู. ููููุงูู ุฃูุจูู ุณูุนููุฏู: ููููุงูู ุทูุนูุงู
ูููุง ุงูุดููุนููุฑูููุงูุฒููุจููุจูููุงูููููุทูููุงูุชููู
ูุฑู.(ุฑูู
ุงูุจุฎุงุฑู).
Artinya: โDari Abu Said al-Khudri RA berkata: Dulu pada zaman Rasulullah SAW kami menunaikan zakat fitri dengan satu shaโ bahan makanan. Dan Abu Said menyampaikan bahwa bahan makanan kami (pada saat itu) adalah gandum, anggur, keju, dan kurma.โ (HR. al-Bukhari)
Dalam hadits lain disebutkan:
ุนูู ุงุจููู ุนูู
ูุฑู ุฑุถู ุงููู ุนููู
ุง ููุงูู: ููุฑูุถู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ุฒูููุงุฉู ุงููููุทูุฑู ู
ููู
ุฑูู
ูุถูุงูู ุตูุงุนูุง ู
ููู ุชูู
ูุฑู, ุฃููู ุตูุงุนูุง ู
ููู ุดูุนููุฑู ุนูููู ุงููุนูุจูุฏูููุงููุญูุฑู, ููุงูุฐููููุฑูููุงูููููุซูู, ููุงูุตููุบููุฑูููุงููููุจููุฑู
ู
ููู ุงููู
ูุณูููู
ูููู.
Artinya: โRasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (bagi manusia) yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan berupa satu shaโ kurma atau satu shaโ gandum bagi setiap orang merdeka, budak, laki-laki, perempuan , kecil dan dewasa dari segenap muslimin.โ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dinamika di masyarakat sering kali terjadi kesulitan teknis pembayaran zakat fitrah dengan beras, baik karena masyarakat tidak lagi selalu menempatkan beras sebagai satu-satunya kebutuhan utama penopang hidup layak ataupun karena masyarakat merasa lebih mudah membayarnya dengan uang. Masalah ini sering menjadi pertanyanan masyarakat, terutama soal keabsahan zakat fitrahnya tersebut.
Oleh karena itu diperlukan rumusan pembayaran zakat fitrah dengan uang untuk menjawab perubahan kebutuhan umat. Argumentasi atas kebolehan pelaksanaan kewajiban zakat fitrah dengan uang sebesar nominal harga beras 2,7 kg/2,5 kg dibangun atas pertimbangan sebagai berikut:
โข Sebagian ulama menilai tujuan di balik kewajiban zakat sebagai hikmah saja yang tidak mengandung muatan hukum. Meski demikian, sebagian ulama lain yang membolehkan konversi zakat fitrah dari serealia ke bentuk uang menilai hadits Rasulullah SAW berikut ini menjelaskan tentang tujuan di balik diberlakukannya kewajiban zakat fitrah, yakni agar pada hari itu para penerima zakat dapat menikmati hidup selayaknya orang yang mampu.
Tentu saja uang akan lebih efektif untuk mewujudkan tujuan zakat tersebut daripada serealia:
ุนููู ุงุจููู ุนูู
ูุฑู ุฑูุถููู ุงูููู ุนูููููู
ูุง ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ูุขูููู ููุณููููู
ู ููุงูู: ุฃูุบููููููู
ู ููู
, ููู ุฑูุงูุฉ ุงูุจูููู ยซุฃุบููููููู
ู ุนููู ุทูููุงูู ููุฐูุง
ููุฐูุง ุงููููููู
ูยป ุฑูุงู ุงูุฏุงุฑูุทูู ูู โุงูุณููโ
ุงููููููู
ู
Artinya: โDari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda, โCukupilah mereka di hari ini,โ (HR Ad-Daruquthni). Di dalam redaksi riwayat imam Al-Baihaqi disebutkan, โCukupilah mereka sehingga mereka tidak perlu berkeliling (memintaminta) pada hari ini.โโ
Atas dasar tujuan zakat yang tertuang pada hadits di atas, Imam Abu Hanifah RA mengatakan:
( ููุงูู ) : ููุฅููู ุฃูุนูุทูู ูููู
ูุฉู ุงููุญูููุทูุฉู ุฌูุงุฒู ุนูููุฏูููุง ; ูููููู ุงููู
ูุนูุชูุจูุฑู ุญูุตูููู ุงููุบูููู ููุฐููููู ููุญูุตููู
ุจูุงูููููู
ูุฉูููู
ูุง ููุญูุตููู ุจูุงููุญูููุทูุฉู
Artinya: โAndaikan seseorang (dalam menunaikan zakat fitrahnya) dengan menyerahkan uang senilai harga gandum, maka hukumnya boleh menurut kami karena sungguh yang menjadi pertimbangan adalah terciptanya kehidupan yang layak. (Tujuan) tersebut dapat terwujud dengan penyaluran uang sebagaimana juga dapat terwujud dengan menyerahkan gandum.โ (As-Sarakhshi, Al-Mabsuth, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1421 H/2004 M, juz III, hal. 99).
Pada kitab yang sama , Syekh Abu Jaโfar RA menyatakan:
ููููุงูู ุงููููููููู ุฃูุจูู ุฌูุนูููุฑู ุฑูุญูู
ููู ุงูููููู ุชูุนูุงููู ููููููู : ุฃูุฏูุงุกู ุงูููููู
ูุฉู ุฃูููุถููู ; ูููููููู ุฃูููุฑูุจู ุฅููู ู
ูููููุนูุฉู
ุงูููููููุฑู ููุฅูููููู ููุดูุชูุฑูู ุจููู ููููุญูุงููู
ูุง ููุญูุชูุงุฌู ุฅูููููู
Artinya: โPembayaran zakat fitrah dengan uang adalah pembayaran yang paling baik karena uang paling efektif untuk memberi manfaat kepada faqir. Pasalnya, uang dapat dipakai untuk membeli berbagai barang yang dibutuhkannya.โ (As-Sarakhshi, Al-Mabsuth, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1421 H/2004 M, juz III, hal. 99-100).
Menurut mazhab Hanafi, kadar uang yang dibayarkan harus sesuai dengan harga bahanโbahan makanan yang manshush (disebut dalam teks hadits) sebagai zakat fitrah, yaitu 1 shaโ kurma kering, 1 shaโ syaโir (jelaiโhordeum vulgare), 0,5 shaโ anggur kering, dan 0,5 shaโ hinthah (gandum-triticum spelta).
Masyarakat Indonesia โ mayoritas pengikut mazhab Syafiโi โ diperkenankan untuk melakukan intiqalul mazhab (merangkai pelaksanaaan ibadah dengan cara melompat dari pendapat satu ke lain mazhab). Cara ini dibenarkan oleh sebagian ulama.
Dengan demikian, rumusan hukum yang dihasilkan dari konsep intiqalul mazhab berujung pada kebolehan pembayaran zakat fitrah dengan uang karena mengikuti pendapat mazhab Hanafi. Sedangkan nominalnya disesuaikan dengan harga beras 2,5 kg atau 2,7 kg (takaran zakat fitrah dalam mazhab Syafiโi).
ูู ู ุงููููุชูููุงูู ู
ููู ู
ูุฐูููุจู ุฅูููู ู
ูุฐูููุจู ุขุฎูุฑู ูููููู ููู ุจูุนูุถู ุงููู
ูุณูุงุฆููู ููููู ุซูููุซูุฉู ุฃูููููุงูู ููููู ููู
ูุชูููุนู
ููุฅูููู ููููููู
ููู ุชูุฒููููุฌู ุจูููุตูุฏูุงููููููููููููููููู ุดููููุฏู ููุฅููููููุฐููู ุงูุตููุฑูุฉู ูู ููููููู ุจูููุง ุฃูุญูุฏู ู
ูุทูููููุงููููููู ููุฌููุฒูู
ูุทูููููุงููููููู ุฅููู ููู
ู ููุฌูู
ูุนู ุจููููู ุงููู
ูุฐูููุจููููู ุนููููุตูููุฉู ุชูุฎูุงูููู ู ุงููุฌูู
ูุงุนู ุฌูุงุฒู
Artinya: โSoal perpindahan dari satu ke lain mazhabโmeski tidak secara keseluruhan satu rangkaian ibadahโ, ulama memiliki tiga pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ulama melarang secara mutlak. Sebagian ulama lagi membolehkan secara mutlak.
Sebagian ulama lain lagi membolehkannya selama tidak menghasilkan formulasi hukum yang bertentangan dengan ijmak. Apabila bertentangan dengan ijmak, maka perpaduan mazhab dilarang seperti perkawinan tanpa mas kawin, tanpa wali, dan tanpa saksi. Sungguh perpaduan semacam itu tidak diperbolehkan oleh seorang pun dari kalangan ulama. (Syaikh Nawawi Banten, ats-Tsimar al-Yaniโah, Mesir-Dar Ihya` al-Kutub al-โArabiyyah, tt, h. 13).
โข Seorang ulama dari mazhab Maliki bernama Syekh Ibnu Qasim memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang. Di dalam mazhab Maliki, timbangan shaโnya memiliki bobot yang sama dengan mazhab Syafiโi. Dengan demikian, masyarakat boleh membayar zakat fitrah dengan uang seharga beras 2,5 kg atau 2,7 kg.
ููู
ููู ุงููู
ูุฏููููููุฉู ููุงูู ู
ูุงูููู : ูู ููุฌูุฒูุฆููู ุฃููู ููุฏูููุนู ููู ุงููููุทูุฑูุฉู ุซูู
ูููุง . ููุฑูููู ุนููุณูู ุนููู ุงุจููู
ุงููููุงุณูู
ู : ููุฅููู ููุนููู ุฃูุฌูุฒูุฃููู
Artinya: โDi dalam kitab al-Mudawwanah, Imam Malik berkata: โTidaklah cukup bagi seseorang yang membayar zakat fitrahnya dalam bentuk uang.โ Syekh Isa meriwayatkan dari imam Ibnu Qasim yang berkata: โJika seseorang membayar zakat fitrah dengan uang, maka hal itu sudah dianggap cukup (sah).โโ (Muhammad bin Yusuf al-โAbdari, al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil, Bairut-Dar al-Fikr, 1398 H, juz II, hal. 366).
Dalam hal ini pengikut mazhab Syafiโi diperkenankan untuk mengikuti pendapat ulama dari mazhab Maliki yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang senilai beras 2,5 kg atau 2,7 kg. Hal ini sesuai dengan keterangan berikut:
ููุงุฆูุฏูุฉู: ูู ููุฌููุฒู ููู ู
ูุฐูููุจู ู ุงููู
ูุงู
ู ุงูุดููุงููุนููู ุฑูุญูู
ููู ุงูููู ุชูุนูุงููู ุฅูุฎูุฑูุงุฌู ุงููุนูุฑูุถู ุนููู ุงูููููู
ูุฉู
ููู ุฐููููู ููู
ููู ุฃูุฑูุงุฏู ุฅูุฎูุฑูุงุฌููู ุนูููููุง ูููููุฏู ุบูููุฑููู ู
ูู
ููู ููุฑูู ุงูุฌูููุงุฒูููู
ูุง ุฃูููุชูู ุงุจููู ุญูุฌูุฑูููุบูููุฑููู ุจูุฌููุงุฒู ุงูุชูููููููุฏู
Artinya: โDi dalam mazhab Imam As-Syafiโi RA tidak diperbolehkan membayar zakat dengan barang lain atas nama harga barter (dari benda yang ditentukan dalam teknik pembayaran zakat). Siapa saja yang ingin menunaikan zakat dengan cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan mazhab Syafiโi RA ini dipersilakan untuk bertaqlid kepada ulama dari mazhab lain yang membolehkannya sebagaimana yang difatwakan oleh Syekh Ibnu Hajar dan imam lainnya tentang kebolehan bertaqlid dalam persoalan tersebut.โ (as-Sayyid โAlawi Ibn as-Sayyid Ahmad as-Saqqaf, Tarsyih al-Mustafidin, Mesir-Dar Ihya` al-Kutub al-โArabiyyah, hal. 154).
Berdasarkan dua argumentasi tersebut, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut:
1 Yang terbaik dalam menunaikan zakat fitrah adalah pembayaran dengan beras. Adapun satu shaโ versi Imam Nawawi adalah bobot seberat 2,7 kg atau 3,5 liter. Sedangkan ulama lain mengatakan, satu shaโ seberat 2,5 kg.
2 Masyarakat diperbolehkan pula membayar zakat fitrah dengan menggunakan uang sesuai harga beras 2,7 kg atau 3,5 liter atau 2,5 kg sesuai kualitas beras layak konsumsi oleh masyarakat setempat.
3 Segenap panitia zakat yang ada di masyarakat baik di mushalla maupun di masjid dianjurkan untuk berkoordinasi dengan LAZISNU terdekat.
Demikian hasil bahtsul masail tentang Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang ini disampaikan untuk menjadi pegangan warga NU khususnya dan umat Islam Indonesia umumnya.
Hasil rumusan Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU di Jakarta, 18 Mei 2020, ditandatangani KH. M. Nadjib Hassan (Ketua) dan Sarmidi Husna, MA (Sekretaris).
Tim Perumus:
1. KH. Afifuddin Muhajir
2. KH. Ahmad Ishomuddin
3. KH. Miftah Faqih
4. KH. Abdul Ghafur Maimun
5. KH. M. Najib Hassan
6. KH. Azizi Hasbullah
7. KH. Abdul Moqsith Ghazali
8. KH. Mahbub Ma'afi
9. KH. Asnawi Ridwan
10. KH. Najib Bukhari
11. KH. Darul Azka
12. KH. Asyhar Shofwan
13. KH. Fajar Abdul Basyir
14. KH. Zaenal Amin
15. KH. Anis Masduqi
16. KH. Ahmad Muntaha
17. H. Sarmidi Husna.
Advertisement