Tebar Kebencian ala PKI, Akun Asahan Aidit, Adik Kandung D.N. Aidit, Mulai Diserang
“Saya mendapat laporan bahwa ratusan preman bandit yang menyerang akun saya dalam beberapa hari ini adalah para bandit yang dibayar SARACEN. Mereka akan terus menyerang saya secara sistimatis karna saya dianggap sasaran empuk, besar mulut dan agak terkenal.Semua ini dalam rangka politik adu domba mereka. ASAHAN AIDIT. Hoofddorp-Holland, 2192017”
Itu postingan Asahan Aidit, 10 menit lalu, di akun fesbuknya, dengan nama yang sama. Adik tiri D.N. Aidit ini, di masa tuannya, terus menyebarkan faham-faham komunis, anti NKRI, penuh kebencian, fitnah dan upaya makar di luar negeri.
Bagaimana kehidupan Asahan sekarang? Di masa tuanya sekarang, lelaki tua ini hanya hidup dengan istrinya, wanita Vietnam, yang sama-sama tua. Anak semata wayangnya, meninggal secara misterius, beberapa tahun lalu.
Dia masa senja yang sepi ini, lewat postingan di medsos, Asahan menumpahkan segala kekesalannya atas gagalnya komunis di Indonesia, termasuk gagalnya kudeta PKI, yang dimotori kakak tirinya, D.N. Aidit.
Siapa sosok Asahan sebenarnya, yang sudah tua tapi tetap awet jadi PKI ini? Kenapa di literatur keluarga Aidit, tak begitu menonjol?
Lelaki ini menulis dirinya sendiri, dengan nama Asahan Alham. Nama aslinya, sebenarnya, Asahan Aidit. Lahir di Tanjung Pandan, Belitung, Sumatera Selatan, 4 Desember 1938.
Pada 4 Desember 2017 nanti, ia berusia umur 79 tahun. Cukup senja, sebenarnya. Juga waktunya tobat.Tapi bila membaca posting-postingannya di akun FB pribadinya, Asahan, tetap gigih menyuarakan perjuangan PKI, penuh kebencian kepada NKRI, banyak fitnah, menghujat pemerintah RI dan TNI.
Akibatnya beberapa hari terakhir, Asahan dibully para Netizen. “Kenapa gagal move on ya Kek?
Di tempat pengasingannya sekarang, Asahan hidup dengan menulis buku dan puisi, sekalipun, maaf, buku-bukunya tak begitu terkenal. Ini beda dengan rekan sesama PKI, misalnya, Pramudya Ananta Toor, yang karya sastranya dikenal luas di penjuru dunia.
Bila Pramudya pernah ditahan di pulau Buru, beda dengan Asahan yang tak pernah tertangkap, memilih tinggal di luar negeri sejak pecah G-30-S PKI.
Karena kejebak dan tak bisa kembali ke tanah air inilah, agaknya, postingan-postingannya di medsos, penuh kebencian, kemarahan hinaan dan caki maki terhadap NKRI, TNI dan rakyat Indonesia yang anti komunis.
Asahan adalah saudara tiri tokoh PKI, D.N. Aidit, yang lahir dari ibu yang lain. Ayah Aidit, menikah lagi dengan wanita lain. Nah dari wanita kedua ini, lahirlah Asahan dan seorang saudara lagi. Jadi satu Bapak, tapi beda ibu. Alias saudara tiri D.N. Aidit.
Masa kecil Asahan dihabiskan Belitung.Ketika keluarganya eksis di ibukota, ia pun bisa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sampai tahun 1961. Namun tidak sampai tamat.Asahan lantas pindah kuliah ke Uni Soviet (kini Rusia). Saat pecah G-30-S PKI, pada 30 September 2017, Asahan berada di Moskow.
Tahun 1966 itu, setelah G-30-S PKI, Asahan memperoleh gelar Sarjana Penuh di bidang filologi di Moskow. Lantas tahun 1975 ia belajar bahasa dan sastra Vietnam di Universitas Hanoi. Tahun 1978 ia mendapatkan gelar PhD-nya. Di Vietnam ini, ia meperoleh istri.
Asahan sebenarnya mulai menulis sejak 1952, sebelum pecah gerakan G-30-S PKI. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di majalah Waktu, Mimbar Indonesia, Sunday Courier, dan di beberapa ruang kebudayaan surat kabar Jakarta pada tahun 50-an. Selain menulis puisi, ia juga menulis prosa dan cerpen.
Di tempat pengasingan di hari tuanya kini, Belanda, Asahan terus menulis. Pada 1993, kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Perjalanan dan Rumah Baru diterbitkan Stichting ISDM Culemborg, Belanda. Kumpulan sajak 23 Sajak Menangisi Viet Tri diterbitkan Pustaka Jaya, Jakarta, 1998. Sedang novel pertamanya, Perang dan Kembang, diterbitkan Pustaka Jaya tahun 2001.
Kisah pelariannya di Moskow, ia tuangkan dalam Cinta Perang dan Ilusi, kumpulan cerpen memoar Antara Moskow - Hanoi diterbitkan Lembaga Humaniora Depok, 2006.
Tiga tahun kemudian, 2009, memoarnya, Azalea: Hidup Mengejar Ijazah, diterbitkan oleh Ultimus. Terakhir ia menerbitkan memoar Alhamdulillah, yang kendati judulnya mengambil kata dari Al Quran, tapi isinya tetap seputar dunia PKI , komunis dan pelariannya di luar negeri.
Dari semua karyanya itu, mana yang terkenal? Judul-judul bukunya, masih asing di telinga penggemar sastra di Indonesia.
Editor memoarnya Alhamdulillah , Heri Latief, Ratih Miryanti dan Daniel Mahendra . Sampul digarap A. M. Firmansyah. Desain buku dari Team Trans Mandiri Print, Jakarta dan diterbitkan oleh Lembaga Sastra Pembebasan. Tebalnya 466 halaman.
Di buku ini, ternyata ada kata pengantar dari Eep Saefulloh Fatah, Dosen FSIP, UI, Jakarta. Eep menulis “Revolusi Gagal dalam Perjalanan Manusia" . Menurut Eep, "... .Lewat novel memoar ini Asahan tak mempahlawankan siapa pun dan tak mensimplifikasi sejarah sekadar hikayat orang besar. Lebih dari sekadar itu, Asahan juga berhasil menggambarkan secara hidup bagaimana komunisme bekerja dalam sistem yang sesungguhnya tak seragam: Vietnam, RRC, Uni Soviet. Lalu, yang membuatnya menjadi hidup adalah dijadikannya pergulatan manusia sebagai unsur utama cerita..." [Eep Saefulloh Fatah - Dosen FSIP- Universitas Indonesia, Jakarta]
Kata pengantar lainnya, berjudul “Otokritik Terhadap Komunisme”, ditulis Dr Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI, yang memang dekat dengan tokoh-tokoh PKI. Asvi menulis: "... Buku yang anda pegang sekarang menurut hemat saya adalah trilogi ketiga dari dua buku yang sudah terbit sebelumnya. Bila dalam buku kedua, Asahan bercerita dengan kehidupan di Moskow dan perjalanan ke Hanoi (melalui Beijing), maka pada buku ketiga ini ia berkisah tentang penantian keberangkatan ke Eropa setelah belasan tahun bermukim di Vietnam...." [Dr Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI]
Walaupun rezim Orde Baru sudah lama tumbang, tapi Asahan Aidit, tak ingin lagi balik ke Indonesia. Padahal Rezim Jokowi, sekarang ini, sangat lunak terhadap antek-antek PKI. Ilham Aidit, anak bungsu D.N. Aidit, misalnya, leluasa berbicara sesuka hatinya di televisi. Begitu juga tokoh-tokoh PKI lainnya, sekarang, bebas bermunculan dan bebas menyuarakan apa saja.
Kenapa Asahan tetap ngumpet di Belanda? Napa cuma lewat Medsos? Ayo, pulanglah, Mbah. (dmr)