Surabaya Darurat Banjir, Pakar Sebut Infrastruktur Belum Memadai
Surabaya sebagai salah satu kota besar di Indonesia masih dianggap darurat bencana banjir. Sebab, dalam beberapa kali hujan selalu timbul permasalahan banjir. Tercatat, ada tiga kali waktu hujan intensitas tinggi dalam waktu lama membuat beberapa wilayah terendam banjir.
Jalan Nginden Intan tepatnya depan Kampus Stikosa AWS menjadi titik yang paling parah. Selain karena ketinggian tapi juga durasi banjir yang tidak bertangani dengan cepat.
Beberapa sungai misalnya di Kali Sumo, kemudian kali yang ada di Jalan Penjaringan Sari juga tampak meluber ketika terjadi hujan deras dengan durasi lama.
Melihat permasalahan ini, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair), Dio Alif Hutama, menyebut, infrastruktur drainase di Surabaya belum memadai.
“Permukaan tanah yang banyak tertutup beton membuat air tidak bisa meresap optimal, sementara saluran air di beberapa titik mengalami sedimentasi dan keterbatasan kapasitas,” ungkap Dio.
Ia menyebut, selain itu aktivitas manusia seperti membuang sampah sembarangan juga mengakibatkan penyumbatan di saluran air atau sedimentasi. Makin banyaknya beton dan aspal di kawasan juga membuat air hujan tidak dapat meresap ke tanah secara alami, sehingga mengalir langsung ke permukiman atau jalan.
“Terlebih di wilayah pesisir seperti Surabaya terdapat risiko banjir rob akibat gelombang pasang di wilayah Selat Madura dapat memperparah kondisi banjir,” ujarnya.
Karena itu, ia menyebut perlu upaya lebih dari Pemerintah Kota Surabaya dalam penanganan banjir. Salah satunya, memastikan fasilitas penunjang pengendalian banjir berfungsi optimal. Termasuk menggencarkan kegiatan normalisasi saluran, normalisasi sungai, normalisasi pompa dan pintu air.
Selain itu, pemerintah juga harus memastikan tidak lagi terjadi alih fungsi lahan resapan seperti ruang terbuka hijau dan lahan basah. Penanganan banjir di Surabaya, kata dia, harus dilakukan dengan kerja sama berbagai pihak.
“Pemerintah perlu memastikan infrastruktur pengendali banjir agar berfungsi optimal dan tata ruang kota dijalankan secara konsisten, sementara masyarakat juga harus berperan aktif menjaga lingkungan. Harapannya dengan sinergi yang baik dapat mewujudkan tata kota Surabaya yang nyaman,” pungkasnya.