Super Flu Merebak di Indonesia, Kemenkes Catat 62 Kasus Sepanjang 2026
Wabah baru berupa varian influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut super flu terdeteksi di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 62 kasus super flu hingga akhir Desember 2026, dengan sebaran di delapan provinsi.
Meski temuan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran publik, Kemenkes menegaskan bahwa vaksin influenza masih efektif dalam melindungi masyarakat dari risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian.
“Vaksin influenza tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, dan juga kematian,” ujar juru bicara Kemenkes RI, drg Widyawati, MKM, dalam siaran pers, Kamis 1 Januari 2026.
Widyawati menekankan bahwa vaksin influenza tahunan sangat dianjurkan bagi kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta (komorbid). Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko komplikasi akibat infeksi influenza.
Berdasarkan hasil whole genome sequencing (WGS) terhadap 248 sampel kasus influenza yang diperiksa pada 25 Desember 2026, ditemukan: 152 kasus influenza tipe A/H1, kemudian 172 kasus influenza tipe A/H3, juga 62 kasus merupakan influenza A (H3N2) subclade K dan 24 kasus influenza tipe B/Victoria.
Mayoritas kasus ditemukan pada perempuan, yakni sekitar 64 persen, sementara anak usia 1–10 tahun menyumbang proporsi tertinggi sebesar 35 persen.
Tersebar di Delapan Provinsi
Plt Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa subclade K pertama kali dilaporkan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan pada 25 Desember 2025, sebagai bagian dari pemantauan rutin influenza nasional. “Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi,” dikutip kompas.
Tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak meliputi: Jawa Timur: 23 kasus, Kalimantan Selatan: 18 kasus dan Jawa Barat: 10 kasus.
Sementara itu, Sumatera Selatan melaporkan 5 kasus, serta masing-masing satu kasus ditemukan di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.
Berdasarkan kelompok usia, anak usia 1–10 tahun menjadi kelompok dengan proporsi tertinggi, mencapai 35,5 persen. Disusul usia 21–30 tahun sebesar 21 persen, usia 11–20 tahun sebesar 19,4 persen, dan kelompok lansia di atas 60 tahun sebesar 8,1 persen.
Kemenkes memastikan bahwa keberadaan subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman lainnya.
Gejala yang muncul antara lain demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, kelelahan berat, dan nyeri tenggorokan. Pemerintah pun mengimbau masyarakat tetap waspada, menjaga kebersihan, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza, khususnya bagi kelompok berisiko.