Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Bapak Pramuka dan Peran Besar di Gerakan Kepanduan
Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikenal luas sebagai Bapak Pramuka Indonesia berkat perannya yang sangat besar dalam menyatukan berbagai organisasi kepanduan menjadi satu wadah, yaitu Gerakan Pramuka.
Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana (Pramuka) merupakan pendidikan nonformal yang menjadi kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah, mulai dari tingkat dasar. Meski kini Pramuka identik dengan seragam cokelat dan kegiatan di sekolah, sejarahnya jauh lebih panjang, bahkan dimulai sejak masa Hindia Belanda.
Awal Mula Gerakan Kepanduan di Indonesia
Gerakan kepanduan masuk ke Indonesia pada 1912 melalui pembentukan cabang Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) di Batavia. Dua tahun kemudian, cabang tersebut berdiri sendiri dengan nama Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV).
Kepanduan lokal mulai berkembang pada 1916, dipelopori oleh Mangkunegara VII melalui Javaansche Padvinders Organisatie. Selanjutnya, muncul organisasi kepanduan berbasis agama, kesukuan, dan kelompok tertentu. Seperti Padvinder Muhammadiyah (Hizbul Wathan), Nationale Padvinderij, Syarikat Islam Afdeling Pandu, Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia, Padvinders Organisatie Pasundan, Pandu Kesultanan, El-Hilaal, Pandu Ansor, Al Wathoni, Kepanduan Asas Katolik Indonesia, dan Kepanduan Masehi Indonesia dan Tri Darma (Kristen).
Pada masa itu, gerakan kepanduan Indonesia juga mendapat perhatian dunia. Lord Baden-Powell, pendiri kepanduan sedunia, sempat berkunjung ke Batavia, Semarang, dan Surabaya pada 1934. Pandu-pandu Indonesia bahkan ikut serta dalam Jambore Sedunia 1937 di Belanda.
Upaya Penyatuan Organisasi Kepanduan
Pasca-kemerdekaan, kepanduan Indonesia sempat bersatu dalam Pandu Rakyat Indonesia melalui Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia (1945). Namun, agresi militer Belanda 1948 memecah persatuan itu.
Hingga akhir 1950-an, tercatat ada lebih dari 100 organisasi kepanduan yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Kondisi ini dianggap lemah karena perpecahan golongan dan jumlah anggota yang tidak seimbang.
Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang saat itu menjabat Pandu Agung, kemudian menggagas peleburan seluruh organisasi kepanduan menjadi satu wadah.
Lahirnya Gerakan Pramuka
Proses penyatuan gerakan kepanduan menuju Pramuka ditandai oleh beberapa peristiwa penting:
9 Maret 1961 – Resminya nama Pramuka dan diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.
20 Mei 1961 – Terbit Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka, dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.
20 Juli 1961 – Seluruh organisasi kepanduan melebur menjadi Gerakan Pramuka pada Hari Ikrar Gerakan Pramuka.
14 Agustus 1961 – Peresmian Gerakan Pramuka secara nasional di halaman Istana Negara, ditandai dengan penyerahan Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Ketua Kwartir Nasional pertama.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Tokoh Sentral Pramuka
Sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX berperan penting dalam membangun struktur organisasi, menyusun program pembinaan, serta memperkuat citra Pramuka sebagai pendidikan karakter bangsa.
Panji Gerakan Pramuka yang diserahkan kepadanya pada 14 Agustus 1961 diteruskan kepada barisan defile Pramuka di Jakarta, yang kemudian membawanya berkeliling kota. Sejak saat itu, 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Nasional setiap tahun.