Si Bungkring Njoto, Penulis Pidato Bung Karno dan Pencetus Kata "Soekarnois."
Tokoh PKI Njoto dan "Segitiga Emas PKI" Banyuwangi - Bondowoso - Jember
Jejak kebiadaban PKI juga terjadi di "segitiga emas PKI" pendalungan, Banyuwangi - Bondowoso - Jember. Tokoh PKI Njoto besar di daerah ini.
Secara tak sengaja, tak lama berselang, warga Bondowoso misalnya, menemukan 17 kerangka manusia di Desa Pecanten, Kecamatan Tegal Ampel, Bondowoso, tak lama berselang.
Kerangka tersebut ditemukan Sumiyati saat menggali tanah untuk bahan baku pembuatan batu bata. Dalam sebuah lubang seperti gua, dia melihat tumpukan kerangka manusia. Hingga kini Kepolisian Resor Bondowoso masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah tokoh masyarakat. Kerangka-kerangka tersebut diduga korban kekejaman PKI
Daerah pendalungan, Banyuwangi - Bondowoso - Jember, tahun 1960 - 1965 dikenal basis PKI. Lagu Genjer-genjer dicipta M. Arif, seniman Lekra Banyuwangi.
Sumur-sumur tempat pembuangan mayat di Bndowoso banyak terhampar mulai Badean, Curahdami dan Tegal Ampel. Di makam bong Cina di Badean, yang sekarang diratakan jadi Stadion Bondowoso, dulunya banyak sumur tempat pembuangan mayat korban kekejaman PKi.
Tokoh PKI Njoto dibesarkan dari Jember
Kampung Tempean Gang Tiga, tempat tinggal Njoto kecil. Di kawasan itulah, Njoto menghabiskan masa kecilnya, dalam asuhan sang kakek, Marjono.
Ayahnya, Raden Sosro, adalah seorang pengusaha batik tulis, blangkon, dan jamu membuka usaha di kawasan jalan arah Bondowoso.
Jejak Njoto, Sang Wakil Ketua Comite Central PKI, memang pernah tertapak di kota tembakau, Jember. Ia menempuh ilmu di Hollands Indlandsche School (setaraf sekolah dasar) di Jember.
Njoto menguasai banyak bahasa asing, mulai bahasa Belanda, Rusia, Jerman, Perancis, dan Inggris.
Sejak kecil, Njoto memang tergolong anak pandai.
Di luar jam sekolah, ia belajar pada seorang pengajar tambahan bernama Meneer Darmo. Njoto belajar di kota Jember sampai tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
Jaman Jepang, Njoto dipindahkan keluarganya ke sekolah MULO, Solo. Keluarga Njoto memang kalangan ningrat Jawa.
Njito lebih tertarik melahap ajaran-ajaran Marx, Lenin, Stalin, dan tokoh-tokoh kiri lainnya.
Ia tumbuh menjadi seorang komunis yang unik, berbeda dengan pentolan komunis pada umumnya. Ia selalu tampil dandy, necis, piawai menggesek biola dan meniup saksofon, menonton bioskop,pandai berdansa waltz dan jago menggubah puisi romantik.
Nyoto menikah dengan salah satu keluarga ningrat Mangkunegaran
Solo yang bernama Sutarni.
Tapi Njoto menjalin skandal cintanya dengan Rita, seorang agen KGB, biro mata-mata Soviet. Aidit memang dikenal tidak suka dengan Njoto, anak priyayi Jawa ini.
Aidit juga membuat surat kabar tandingan, guna mengecilkan peran Harian Rakjat yang dipimpin Njoto. Aidit paham, bahwa Njoto terlalu berbahaya mengalahkan kariernya.
Melawannya secara terang-terangan hanya akan membuat kisruh partai. Njoto, bersama Lukman dan Aidit, adalah trisula PKI yang menghidupkan dan membesarkan partai komunis itu. Klaim Aidit, PKI di masa kejayaannya telah merangkul pengikut di angka 3,5 juta.
Njoto sendiri bertanggung jawab di urusan agitasi dan propaganda. Ia memimpin Harian Rakjat, surat kabar bentukan PKI. Njoto juga berusaha menghapus tuduhan generalisir yang menganggap komunis tidak peduli agama.
Njoto komunis tulen, tapi tidak anti agama. Salah seorang sahabatnya, Joesoef Isak bercerita, Njoto pernah mengusahakan seorang ibu untuk naik haji ke Mekah. Saat itu tak sembarang orang bisa berangkat ke Mekah walau punya uang. Kata Joesoef Isak, “Dulu orang naik haji berebutan. Ada jatahnya. Walau pun punya duit kalau gak dapat jatah gak bisa. Teman saya Tom Anwar, wartawan Bintang Timur. Ibunya udah 60 tahun, sudah tua. Kepingin naik haji. Kedengaran sama Njoto.
Njoto orang PKI yang gak kenal Tuhan, tapi mengusahakan satu jatah haji untuk ibunya Tom Anwar.
Njoto Dekat Dengan Bung Karno.
Bung Karno bahkan memanggilnya ‘Dik’. Sebutan yang tergolong tak lazim di kalangan pejabat dan aktivis politik saat itu. Ia juga dikenal sebagai penulis andalan si Bung untuk pidato-pidatonya yang membakar. Bahkan konon Njoto pula yang memunculkan istilah “Soekarnois”.
Njoto pernah diangkat jadi Menteri Negara pada masa pemerintahan Soekarno. Nyoto juga merupakan wakil Ketua CC PKI dan sangat dekat dengan D.N. Aidit.
Nyoto adalah Menteri Negara dan Wakil Ketua CC PKI. Selepas peristiwa Gerakan 30 September 1965, anggota PKI diburu. Njoto juga demikian. Ia hidup dalam pelarian.
Tak ada yang tahu kematian Njoto Ada yang bilang, ia dibunuh di Jakarta, lalu mayatnya dibuang di Kali Ciliwung. Versi lain, ia dibawa dari Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, dan dihabisi di Bekasi pada 13 Desember 1965.
Versi lain menyebutkan, pada tanggal 11Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet Njoto ditangkap saat perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa Jakarta. Dibawa ke Rutan Salemba. Lalu ia dieksekusi di kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.
Sebelum akhir hayatnya, Njoto menulis puisi “Wong Tjilik” yang dimuat Harian Rakjat Minggu. Ini puisinya :
“Makan tak enak,
tidur tak nyenyak.
Nasi dimakan serasa sekam,
air diminum serasa duri.
Siang jadi angan-angan,
malam jadi buah mimpi,
teringat celaka badan diri.”
Inilah kisah Njoto. Tokoh PKI yang dibesarkan di "segitiga emas" Jember - Banyuwangi - Bondowoso. (dmr)