Selama 90 Hari, Gunung Merapi Alami 300 Gempa dan Semeru 225 Gempa
Aktivitas kegempaan Gunung Merapi dan Gunung Semeru tercatat dalam pemantauan selama 90 hari, terhitung 23 Juni hingga 18 September 2026. Dua gunung api di tanah Jawa ini, menjadi sangat produktif dalam beberapa dekade ini.
Berdasarkan data yang dikutip dari laman MAGMA Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Merapi mengalami 300 kali gempa, sedangkan Gunung Semeru tercatat mengalami 225 kali gempa dalam periode tersebut.
Kedua gunung api tersebut masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Pemantauan aktivitas gunung api menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan kondisi dan potensi bahaya di sekitar kawasan gunung.
Selain data pemantauan selama 90 hari, aktivitas Gunung Merapi pada Senin 21 September 2026 pagi juga menunjukkan adanya guguran lava ke arah sektor barat daya.
Gunung Merapi Mengalami Guguran Lava pada 21 September 2026
Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas guguran lava pada Senin 21 September 2026 pagi. Berdasarkan periode pengamatan pukul 00.00β06.00 WIB, tercatat lima kali guguran lava yang seluruhnya bergerak ke sektor barat daya.
Dari pengamatan tersebut, sebanyak empat kali guguran lava mengarah ke Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Kondisi gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati, sementara cuaca cerah dan angin bertiup tenang ke arah barat.
Data cuaca dan pemantauan Gunung Merapi pada periode tersebut mencatat:
Suhu udara: 16,1 derajat Celsius.
Kelembapan: 85,9 persen.
Tekanan udara: 874,8 mmHg.
Arah angin: Barat.
Data Gempa Gunung Merapi
Selain guguran lava, hasil pengamatan aktivitas Gunung Merapi mencatat sejumlah kejadian gempa, di antaranya:
Jenis Gempa | Jumlah | Amplitudo | Durasi |
Gempa Guguran | 16 kali | 2β24 mm | 29,12β199,93 detik |
Gempa Hybrid/Fase Banyak | 18 kali | 2β28 mm | 15,57β58,05 detik |
Gempa hybrid atau fase banyak tercatat memiliki waktu S-P antara 0,3β0,5 detik dengan durasi 15,57β58,05 detik.
Potensi Bahaya Gunung Merapi
Pemantauan Gunung Merapi menunjukkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran (APG), khususnya pada sektor selatan-barat daya dan tenggara.
Berikut wilayah aliran sungai yang masuk dalam rekomendasi kewaspadaan:
Sektor | Wilayah | Jarak Maksimum |
Selatan-barat daya | Sungai Boyong | 5 km |
Selatan-barat daya | Sungai Bedog, Krasak, Bebeng | 7 km |
Tenggara | Sungai Woro | 3 km |
Tenggara | Sungai Gendol | 5 km |
Lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Rekomendasi untuk Masyarakat di Sekitar Merapi
Masyarakat diminta memperhatikan rekomendasi keselamatan yang berlaku, antara lain:
Tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya Gunung Merapi.
Mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama ketika terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
Mengikuti informasi resmi mengenai perubahan aktivitas gunung api.
Tingkat aktivitas Gunung Merapi dapat ditinjau kembali apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Gunung Semeru Catat 225 Gempa Selama 90 Hari
Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, juga tercatat mengalami aktivitas kegempaan selama periode pemantauan 23 Juni hingga 18 September 2026.
Berdasarkan data yang disampaikan, Gunung Semeru mengalami 225 kali gempa dalam periode 90 hari tersebut.
Gunung Api Semeru memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan posisi geografis yang tercantum dalam data pemantauan pada koordinat lintang -8,108Β° dan bujur 112,92Β° BT.
Pada pengamatan aktivitas gunung api, kondisi puncak Semeru terlihat jelas hingga tertutup kabut 0βII. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan dengan angin lemah ke arah barat daya.
Rincian Gempa Gunung Semeru
Berikut data jenis gempa yang tercatat dalam pengamatan Gunung Semeru:
Jenis Gempa | Jumlah | Amplitudo | Durasi |
Letusan/Erupsi | 27 kali | 15β22 mm | 70β137 detik |
Guguran | 7 kali | 2β3 mm | 40β60 detik |
Hembusan | 5 kali | 2β5 mm | 55β65 detik |
Harmonik | 5 kali | 2β20 mm | 136β378 detik |
Tektonik Jauh | 1 kali | 32 mm | 152 detik |
Gempa tektonik jauh yang tercatat memiliki waktu S-P selama 36 detik.
Rekomendasi Keselamatan Gunung Semeru
Masyarakat dan pengunjung di sekitar Gunung Semeru perlu memperhatikan rekomendasi keselamatan yang ditetapkan untuk mengantisipasi potensi bahaya erupsi, awan panas, guguran lava, lontaran batu pijar, dan lahar.
Berikut sejumlah rekomendasi yang tercantum dalam data pemantauan:
1. Pembatasan Aktivitas di Sepanjang Besuk Kobokan
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Wilayah tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
2. Menghindari Radius 5 Kilometer dari Kawah
Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
3. Mewaspadai Awan Panas, Guguran Lava, dan Lahar
Masyarakat diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Kewaspadaan terutama diperlukan di sepanjang:
Besuk Kobokan.
Besuk Bang.
Besuk Kembar.
Besuk Sat.
Potensi lahar juga perlu diwaspadai pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Merapi dan Semeru Masih Memerlukan Pemantauan Aktivitas Vulkanik
Data pemantauan selama periode 23 Juni hingga 18 September 2026 menunjukkan adanya kejadian kegempaan pada Gunung Merapi dan Gunung Semeru. Sementara itu, pengamatan aktivitas Merapi pada 21 September mencatat guguran lava ke sektor barat daya, sedangkan data Semeru mencantumkan kejadian gempa letusan, guguran, dan jenis gempa lainnya.
Masyarakat di sekitar kedua gunung api tersebut diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari otoritas pemantauan gunung api dan mematuhi rekomendasi keselamatan sesuai kawasan potensi bahaya.
Advertisement