Satu Dekade Jalani Hemodialisis, Siti Bersyukur Dilindungi JKN
Menjalani hemodialisis (HD) secara rutin menjadi bagian dari keseharian Siti Khotimatus Sa’adah sejak 2016. Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), ia mengaku bersyukur dapat menjalani pengobatan secara berkelanjutan tanpa harus memikirkan besarnya biaya pelayanan kesehatan.
Sebelum menjadi peserta JKN, Siti kerap mengalami pusing yang terkadang disertai sesak napas. Saat itu, setiap pemeriksaan masih harus dibiayai secara mandiri hingga cukup menguras tabungannya.
Kondisinya semakin memburuk ketika sesak napas dialaminya selama dua hari. Setelah menjalani pemeriksaan, ia didiagnosis mengalami gagal ginjal dan disarankan untuk menjalani cuci darah. Minimnya pengetahuan mengenai hemodialisis dan Program JKN sempat membuat Siti merasa khawatir hingga memilih melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain, namun hasil diagnosis yang diterima tetap sama.
“Saya awalnya tidak tahu seperti apa pengobatan HD dan bagaimana menggunakan JKN. Saya sempat khawatir karena membayangkan biaya pengobatannya. Setelah mendapat penjelasan dan edukasi dari rumah sakit, saya akhirnya memutuskan menjadi peserta JKN kelas 3,” cerita Siti saat ditemui di Unit HD RS Bhakti Husada Banyuwangi, Kamis, 3 September 2026.
Sejak saat itu, Siti rutin menjalani hemodialisis hingga kini. Ia mengatakan kondisi kesehatannya semakin membaik sehingga tetap dapat menjalankan berbagai aktivitas dalam kesehariannya. Kalau tidak ada JKN, dia tidak bisa membayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk cuci darah secara rutin.
“Saya sangat bersyukur karena selama menggunakan JKN, saya bisa terus mendapatkan pengobatan dan sekarang kondisi saya lebih sehat sehingga masih bisa beraktivitas seperti biasa,” ungkapnya.
Selama menjalani pelayanan HD, Siti juga merasa terbantu dengan penjelasan dari pihak rumah sakit mengenai ketentuan pelayanan. Menurutnya, informasi yang diberikan membuat dirinya memahami proses pelayanan sekaligus membantu menghindari kendala administrasi ketika menjalani pengobatan.
“Saya selalu mendapatkan penjelasan mengenai ketentuan pelayanan dengan baik, mulai dari surat kontrol hingga penerbitan rujukan oleh rumah sakit. Jadi saya tahu apa yang harus dilakukan dan tidak bingung ketika akan menjalani HD,” ujarnya.
Untuk memastikan kepesertaannya tetap aktif, Siti kini juga terbiasa melakukan pengecekan secara mandiri melalui aplikasi Mobile JKN. Ia rutin memantau status kepesertaan sekaligus memastikan pembayaran iuran berjalan dengan baik.
“Selain cek status kepesertaan JKN, saya juga pernah memanfaatkan fitur antrean online saat berkunjung ke faskes pertama. Proses pendaftaran menjadi lebih praktis sehingga saya tidak perlu menunggu lama lagi,” kata Siti.
Setelah satu dekade menjalani HD, Siti berharap Program JKN dapat terus hadir dan memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat. Baginya, kepesertaan JKN memberikan rasa tenang karena pengobatan yang harus dijalani secara rutin tetap dapat diakses.