"Ruang Estetika 2.0": Merayakan Kemerdekaan Lewat Karya 15 Perupa Jatim
Menyambut dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 pada tahun 2026, lobi Wyndham Surabaya City Center disulap menjadi galeri seni visual yang memikat. Pameran lukisan bertajuk "Ruang Estetika 2.0 - Merdeka Dalam Rupa" resmi dibuka pada hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026, dan akan berlangsung hingga 31 Desember 2026. Acara ini merupakan bentuk kolaborasi strategis dan artistik antara pihak Hotel Wyndham Surabaya dengan komunitas perupa kenamaan, Adhicipta Art Community.
Pameran bergengsi ini menghadirkan lebih dari 20 karya seni lukis luar biasa yang lahir dari tangan dingin 15 seniman Jawa Timur. Para perupa yang berpartisipasi antara lain Adji Djoyo, Andri Setiawan, Anny Djon, Dyah Katarina, Hamid Nabhan, Lian M Margareta, Maria Nofita, Murniati S, Nuniek Silalahi, Nunung Harso, Q Sakti Laksono, R Nagayami, S Pandji, Sari Bintia, hingga Widijawati. Kehadiran puluhan karya ini tidak hanya mempercantik sudut lobi hotel bintang lima tersebut, tetapi juga menghidupkan ruang publik menjadi wahana apresiasi budaya.
General Manager Wyndham Surabaya, George Wenur, menyampaikan apresiasi mendalam atas terwujudnya pameran kolaboratif ini. Dalam sambutan tertulisnya, ia menegaskan bahwa pihak hotel sangat bangga dapat memfasilitasi pergerakan seni lokal di tengah momentum bersejarah bangsa. Baginya, pameran ini membawa pesan yang mendalam mengenai esensi kebebasan berekspresi.
"Bagi kami, Ruang Estetika 2.0 bukan sekadar sebuah pameran lukisan. Lebih dari itu, acara ini merupakan sebuah ruang untuk merayakan kebebasan dalam berkarya, keberagaman dalam perspektif, serta keberanian untuk menyampaikan gagasan melalui bahasa visual," tutur George Wenur.
George Wenur juga menambahkan bahwa kreativitas visual merupakan instrumen penting dalam mengejawantahkan rasa cinta tanah air. Semangat kemerdekaan tidak sekadar dibaca melalui lembaran sejarah masa lalu, melainkan dipraktikkan secara aktif melalui karya seni masa kini.
"Semangat kemerdekaan tidak hanya tercermin dalam sejarah dan perjuangan bangsa, tetapi juga dapat hadir melalui kreativitas. Setiap sapuan warna, garis, bentuk, dan komposisi menjadi cara tersendiri bagi para seniman untuk menerjemahkan makna kebebasan, identitas, serta kecintaan terhadap Indonesia," ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Adhicipta Art Community, Q Sakti Laksono, memaparkan keunikan dan kekuatan mendasar dari komunitas yang dipimpinnya. Adhicipta Art Community hadir sebagai rumah inklusif yang mempersatukan individu dari pelbagai latar belakang profesi, mulai dari perupa profesional, dokter hewan, penyair/sastrawan, insinyur teknik sipil, arsitek, hingga praktisi perbankan. Mereka bersatu di bawah payung minat yang sama: menghadirkan keindahan visual bagi bumi Indonesia.
"Adhicipta Art Community merupakan teras seni & jendela budaya Indonesia, adalah rumah bagi siapa saja yang mencintai seni dan budaya... Disini kami memiliki minat yang sama yaitu berkontribusi menghadirkan keindahan di bumi Indonesia melalui media berkesenian," jelas Q Sakti Laksono.
Sakti mengungkapkan rasa terima kasih dan optimismenya terhadap dampak pameran ini bagi lanskap seni rupa nasional. Kolaborasi dengan Wyndham Surabaya dipandang sebagai langkah nyata dalam mendekatkan seni kepada masyarakat luas.
"Buat seniman lukis Adhicipta Art Community yang berpameran, selamat berpameran semoga pameran ini nanti akan memberikan catatan berarti buat perkembangan seni lukis di tanah air," harap Sakti.
Sementara itu, Heti Palestina Yunani selaku penulis dan pengantar esai pameran, menyoroti makna filosofis di balik pemaknaan kemerdekaan di era modern. Ia menilai bahwa tantangan terbesar insan kreatif hari ini adalah melawan "penjajahan cara pandang" atau penyeragaman selera dalam dunia seni rupa.
"Ada satu penjajahan paling senyap yang berbahaya, yakni penjajahan cara pandang di dalam lingkup kreativitas—misalnya meyakini satu cara yang benar untuk berpikir, merasa, dan mencipta. Dalam konteks dunia seni rupa, penjajahan itu terlihat dalam bentuk selera tunggal," tegas Heti Palestina Yunani.
Lebih lanjut, Heti menegaskan bahwa pameran ini menjadi wadah nyata bagi munculnya kejamakan ide dan ekspresi, di mana setiap seniman memiliki hak penuh atas arah kuas dan pemikirannya.
“Lima belas perupa, 15 cara merdeka. Kemerdekaan di ruang rupa adalah soal hak untuk memilih sudut pandang. Yang membuat seni rupa terus hidup bukanlah satu gaya yang menang, melainkan keyakinan bahwa cipta yang luhur adalah cipta yang jamak," tambahnya.
Keragaman tema dan aliran lukisan dalam pameran ini tercermin sangat jelas pada deretan karya yang dipajang. Pengunjung disuguhkan eksplorasi alam dan lanskap yang kuat, seperti lukisan Jalan Menuju Laut serta Galis Pulau Madura Di Musim Kemarau karya Hamid Nabhan, hingga narasi budaya lokal melalui lukisan Ketapang Sapi Madura karya Adji Djoyo dan Lompat Batu karya Widijawati.
Tidak ketinggalan, keindahan flora dan spiritualitas Nusantara turut diabadikan secara apik. Karya-karya floral dipamerkan oleh R Nagayomi (Flower of Life, Rose Flower Expression), Nunung Harso (Red Between Yellow), Murniati S (Beautiful Flowers, Merajut Kasih), dan Anny Djon (Hati Yang Selalu Wangi). Sementara itu, S. Pandji memikat perhatian lewat karya bercorak kebudayaan bernilai tinggi seperti Harmoni Nusantara dan Mahakarya Prajna Paramita.
Pesan kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial juga digambarkan secara menyentuh. Dyah Katarina menghadirkan Kan Kujaga Hutanku, Nuniek Silalahi menyuguhkan Pohon Kehidupan dan Taman Di Hatiku, serta Q Sakti Laksono yang menampilkan semangat kebersamaan rakyat lewat Gotong Royong Panen Raya. Selain itu, terdapat eksplorasi emosi personal dan abstrak seperti karya Andri Setiawan (Abstraksi Gajah), Sari Bintia (Teh Hangat dan Dinginnya Malam), serta Maria Nofita (Persona).
Pameran ini ingin membuktikan bahwa hotel tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, melainkan ruang publik yang mampu menyatukan simpul-simpul kebudayaan dan ruang berekspresi yang merdeka. Pihak penyelenggara mengundang seluruh masyarakat, pecinta seni, dan wisatawan untuk hadir dan menikmati sajian visual ini secara gratis di Lobi Wyndham Surabaya hingga penghujung tahun 2026.