Roy Suryo: Alat Tes Kebohongan Bisa Dibohongi
Aparat Kepolisian telah menggunakan berbagai cara untuk mengungkap kasus pembunuhan ibu danĀ anakĀ diĀ Subang, Jawa Barat. Termasuk menggunakan alat tes kebohongan, atau bahasa kerennya disebut lie detector.
Alat tes kebohongan atau poligraf atau lie detector adalah alat yang memantau reaksi Fisiologi seseorang. Faktanya, alat ini tidak sepenuhnya bisa mendeteksi kebohongan secara langsung, melainkan mendeteksi tanda-tanda saat seseorang melakukan kebohongan.
Pakar telematika dan informatikaĀ Roy SuryoĀ menyebut penggunaan alat tes kebohongan lie ditector padaĀ kasusĀ pembunuhĀ ibu danĀ anakĀ diĀ SubangĀ itu sudah benar.
Supaya lebih akurat, Roy Suryo, menyarankan perlu dilakukan lagi pada subjek-subjek yang terkait denganĀ kasusĀ pembunuhanĀ ibu danĀ anakĀ diĀ SubangĀ lainnya, disertai sampel pertanyaan yang lebih bisa āmenjebakā jawaban.
Berdasarkan pengalaman Roy selama ini, beberapa orang memang ada yang pandai dan terbiasa berakting. Mereka bisa āmengelabuiā lie detector ini. Mereka menguasai seniĀ peranĀ dan emosi saat dipindai dengan sensor-sensor lie detector.
āHarus LD (Lie Detector) yang canggih, bukan yang hanya mengandalkan sensor nadi saja,ā kata Roy Suryo.
Belum terungkapnyaĀ kasusĀ pembunuhanĀ ibu danĀ anakĀ diĀ Subang itu mungkin pelaku sudah sangat profesional dan mengerti tahapan-tahapan penyidikan. Mungkin pelaku berasal dari oknum disersi aparat tertentu. Maka dia mengerti tentang Ilmu dactiloscopy (sidik jari) termasuk cara-cara menghilangkannya di TKP, sehingga semua potensi jejak bisa dia hapuskan.
ā(Tapi) At last but not least. Saya tetap percaya yang benar akan tetap benar dan yang bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Percayalah Gusti Allah SWT tidak sare (tidur). Jadi meski sudah menggunakan teknologi macam-macam di atas, tetap berdoa agar diberikan petunjuk dan jalan terang,ā kata mantan Menpora, Selasa 2 November 2021.
Pakar hukum Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung, Agustinus Pohan sebelumnya mengatakan,Ā kasusĀ pembunuhanĀ ibu danĀ anakĀ diĀ SubangĀ bisa jadi merupakan salah satuĀ kasusĀ yang paling rumit untuk diungkap.
Tidak semua kejahatan dengan cara mudah bisa diungkap, terkadang perlu waktu dan lika-liku yang panjang untuk mengungkapnya.
"Hemat saya, sekalipun sudah dua bulan lebihĀ kasusĀ pembunuhanĀ ibu danĀ anakĀ diĀ SubangĀ belum terungkap, tapi tidak berarti menjadi kelemahan kepolisian," kata ahli hukum Agustinus Pohan.
Kronologis kejadian
Sebelumnya diberitakanĀ kasusĀ pembunuhan diĀ SubangĀ atauĀ pembunuhanĀ ibu danĀ anakĀ diĀ SubangĀ yang menelan dua korban jiwaĀ TutiĀ Suhartini (55) danĀ AmaliaĀ Mustika Ratu (23) cukup menggegerkan dan dinilai tergolong sadis.
JasadĀ TutiĀ (ibu) danĀ AmaliaĀ (anak) ditemukan sudah tak bernyawa penuh darah di dalam bagasi mobil Toyota Alphard milik korban yang diparkir di halaman rumahnya di Kampung Ciseuti, Kecamatan Jalan Cagak. KabupatenĀ Subang, Jawa Barat.
AdalahĀ Yosef yang belakangan disebut netizen sebagaiĀ YosefĀ Subang, suamiĀ TutiĀ sekaligus ayahĀ Amalia, yang pertama kali mengetahui dan menemukannya pada Rabu, 18 Agustus 2021. Saat itu,Ā YosefĀ SubangĀ baru datang ke rumah itu sehabis menginap di rumah istri mudanya.
Waktu akan masuk rumah, ia dikagetkan oleh isi rumah yang berantakan, sedang istrinya TutiĀ danĀ anaknya AmaliaĀ tidak ditemukan. YosefĀ curiga ada yang tidak beras, ia punĀ bergegas melapor ke kantor polisi.
Beberapa saat kemudian,Ā YosefĀ SubangĀ bersama polisi menemukan mayat kedua korban di dalam bagasi mobil Alphard dengan keadaan tertumpuk. Bareskrim Polda Jabar dan laboratorium forensik langsung turun untuk mengevakuasi dan melakukan otopsi terhadap jenazah kedua korban dilakukan disertai dengan pengumpulan barang bukti sebagai bahan pengusutan.
Hingga saat ini, polisi masih berupaya mengumpulkan, mencocokkan dan menganalisa bukti-bukti yang didapat di lapangan.Ā
Hingga hari ini, Selasa 2 November 2021 atau hari ke-78,Ā kasusĀ pembunuhan ibu danĀ anakĀ diĀ Subang masih belum terungkap. Sebanyak 54 saksi telah diperiksa oleh penyidik.
Advertisement