Menko PMK Sebut Revitalisasi Ponpes Al-Khoziny jadi Simbol Transformasi Pesantren Masa Depan
Pembangunan ulang Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo tidak hanya menjadi proyek revitalisasi fisik, tetapi ditetapkan sebagai model nasional penguatan keselamatan dan kelayakan infrastruktur pesantren. Hal itu ditegaskan Menko PMK Muhaimin Iskandar saat melakukan ground breaking pembangunan, Kamis 11 Desember 2025.
Menurut Muhaimin, Ponpes Al-Khoziny diproyeksikan menjadi contoh bagaimana lembaga pendidikan berbasis keagamaan mengintegrasikan standar keamanan bangunan, tata ruang, dan sistem pembelajaran yang lebih modern.
“Pembangunan ulang ini bukan sekadar membangun gedung, tetapi memastikan pesantren memiliki infrastruktur yang aman, nyaman, dan berstandar nasional,” ujar Muhaimin.
Al-Khoziny Dipilih sebagai Pilot Project
Pemerintah menunjuk Al-Khoziny sebagai pilot project audit dan penataan ulang sarana pesantren karena kapasitas lembaga, jumlah santri yang besar, serta kebutuhan fasilitas yang lebih representatif.
Langkah ini sekaligus menandai komitmen pemerintah memperkuat pengawasan keselamatan di ribuan pesantren yang kini menjadi bagian penting pendidikan nasional.
“Pesantren harus aman. Al-Khoziny akan menjadi rujukan transformasi itu,” tegasnya.
Investasi Besar dan Dukungan Lintas Kementerian
Revitalisasi dilakukan melalui dukungan Kementerian PUPR, yang menyusun desain bangunan di atas lahan sekitar tiga hektare dengan pembiayaan bertahap mencapai Rp125 miliar. Pemerintah ingin memastikan pembangunan berjalan sesuai standar keselamatan konstruksi.
Pembangunan ulang ini juga melibatkan kementerian terkait melalui satuan tugas khusus yang bekerja lintas sektor, mulai dari audit konstruksi, sistem mitigasi bencana, hingga penguatan kurikulum pemberdayaan.
Mendorong Pesantren Mandiri dan Berdaya Saing
Selain infrastruktur, pembangunan ulang Al-Khoziny juga diarahkan menjadi pusat pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren. Pemerintah mendorong kurikulum yang menekankan keterampilan kerja, kewirausahaan, hingga pengembangan usaha mikro berbasis komunitas santri.
“Kami ingin lulusan pesantren menjadi lebih mandiri, punya daya saing, dan siap di dunia kerja maupun dunia usaha,” kata Muhaimin.
Simbol Transformasi Pesantren Masa Depan
Pembangunan kembali Al-Khoziny diharapkan membuka babak baru transformasi pesantren yang lebih aman, modern, dan adaptif, tanpa meninggalkan jati diri tradisi keilmuan Islam.
“Ini akan menjadi simbol perubahan. Dari Sidoarjo, model ini akan kita dorong ke pesantren-pesantren lain di Indonesia,” tutupnya.