Peringatan 81 Tahun PD II di Surabaya: Pesan Damai dari Ereveld Kembang Kuning
Suasana khidmat menyelimuti Makam Kehormatan Belanda (Ereveld) Kembang Kuning, Surabaya, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, saat digelarnya upacara peringatan tahunan berhentinya Perang Dunia II di Asia. Acara yang dihadiri oleh berbagai elemen diplomasi, militer, dan masyarakat ini menjadi pengingat mendalam atas penderitaan masa lalu sekaligus ajakan untuk memperkuat persatuan dunia.
Peringatan tahunan ini dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Jawa Timur, Komando Daerah Angkatan Laut V, hingga Akademi Angkatan Laut (AAL). Selain itu, jajaran Konsulat Jenderal Jepang juga turut hadir langsung dalam upacara yang berlangsung hari ini.
Hadirnya Konsulat Jenderal Jepang, Takonai Susumu, menjadi catatan tersendiri dalam sejarah pelaksanaan peringatan tersebut. Kehadiran perwakilan Jepang untuk pertama kalinya ini disambut hangat sebagai bentuk pemulihan dan persahabatan antarnegara yang pernah terlibat konflik.
Tak kalah penting, deretan keluarga korban perang serta komunitas Indo di Surabaya juga memenuhi area pemakaman. Kehadiran mereka yang rutin setiap tahunnya menegaskan bahwa luka dan ingatan sejarah masih terikat kuat hingga lintas generasi.
Melalui peringatan 81 tahun selesainya Perang Dunia II ini, panitia mengusung pesan utama untuk merefleksikan masa lalu, kini, dan masa depan. Mengutip tema resmi acara:
"Memories that Endure, Values that Unite" (Ingatan yang Bertahan, Nilai-nilai yang Menyatukan).
Dalam pidatonya, Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, menekankan bahaya dan horor perang yang tidak boleh diulangi. Ia mengingatkan bahwa jutaan orang, baik tentara maupun sipil, terpaksa hidup dalam kondisi yang merendahkan martabat manusia.
Adriaan Palm juga menyoroti nasib para romusha serta para tawanan perang yang dipaksa bekerja di bawah kekejaman garis perang. Ia mengajak semua pihak melepaskan stereotip kelompok dan melihat korban sebagai individu yang ditinggalkan oleh keluarganya.
Hubungan sejarah antara Belanda dan Indonesia dinilai sangat erat dan memiliki ikatan batin yang kompleks. Adriaan Palm membeberkan ikatan kekeluargaan serta jejak keturunan yang menyatukan warga di kedua negara:
"Dua juta orang di Belanda memiliki ikatan dan akar sejarah di Indonesia, dan begitu banyak warga Indonesia yang memiliki hubungan dengan Belanda, seperti yang bisa kita lihat bersama di sini hari ini," katanya
Namun, ia tidak memungkiri bahwa penghentian perang pada 15 Agustus 1945 bukanlah awal dari perdamaian maupun kesejahteraan bagi semua pihak. Ia mengisahkan penderitaan prajurit KNIL dan keluarganya yang sempat hidup sengsara saat bermigrasi ke Belanda.
Dalam kesempatan tersebut, Adriaan Palm secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas perlakuan pemerintah masa lalu terhadap para veteran dan keluarganya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat nilai-nilai bersama di tengah dinamika global yang kian keras:
"Di tengah masa yang penuh gejolak saat ini, sangat penting bagi kita untuk belajar dari masa lalu bersama dan membangun masa depan bersama... Kita hanya dapat membangun masa depan bersama itu dengan apa yang mengikat kita saat ini: nilai-nilai bersama," lanjutnya.
Lebih lanjut, Adriaan Palm menekankan pentingnya komitmen global untuk memelihara perdamaian dan menegakkan tatanan hukum dunia demi mencegah terulangnya tragedi kelam masa lalu:
"Kita perlu memastikan bahwa aturan hukum dihormati untuk mencegah berlakunya hukum rimba, dan hanya dengan demikian kita dapat yakin bahwa tragedi seperti Perang Dunia Kedua tidak akan pernah terjadi lagi," tegasnya.
Tantangan utama bagi generasi saat ini adalah mengambil hikmah dari setiap kisah tanpa menghakimi atau memihak. Sebaliknya, pengalaman pahit tersebut harus dijadikan landasan untuk membangun masa depan yang aman dan damai bagi semua bangsa.
Upacara peringatan di Ereveld Kembang Kuning hari ini berjalan serentak dengan peringatan di tempat lain, seperti Ereveld Kalibanteng di Semarang, Ereveld Menteng Pulo di Jakarta, serta National Ereveld Loenen di Belanda. Tujuh salib putih di Loenen bahkan dibuat langsung di Kembang Kuning sebagai simbol persatuan tujuh pemakaman kehormatan perang di Indonesia.
Upacara ditutup dengan penaburan bunga dan doa bersama di atas pusara lebih dari 5.000 korban perang yang dimakamkan di Kembang Kuning. Pesan mendalam "Lest we forget" (Agar kita tidak lupa) diabadikan sebagai janji bersama untuk terus menjaga perdamaian dunia.