“Rajah” Tontonan Perpaduan Teror Supranatural dan Budaya Jawa
Satu lagi film horor siapa tayang di bulan Februari ini. Film berjudul Rajah merupakan karya terbaru dari sutradara Jiwo Kusumo dengan menghadirkan horor supranatural yang dibalut kuat oleh estetika budaya Jawa.
Sebuah perpaduan yang jarang tersentuh oleh sineas lokal dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu film ini menjadi karya yang berupaya mengembalikan akar cerita mistis Nusantara ke layar lebar.
Menurut produser film ini, Ditha Samantha, “Rajah” bukan semata mengandalkan teror namun juga menempatkan budaya sebagai fondasi naratif yang kuat. Hal tersebut dapat dilihat mulai dari tarian klasik Jawa, tembang macapat, hingga alunan gamelan yang menyatu dalam adegan-adegan penuh ketegangan. Ditha menegaskan bahwa kehadiran unsur budaya bukan sekadar pemanis visual, melainkan bagian dari upaya pelestarian. “Seni budaya bukanlah hal yang menakutkan. Justru ada banyak nilai luhur yang ingin kami angkat. Itulah alasan saya memasukkan budaya leluhur dalam Rajah,” ungkapnya.
Kekuatan budaya lokal semakin terasa lewat hadirnya karya sastra warisan pujangga legendaris R. Ng. Ronggawarsito yang sengaja disisipkan. Hal ini untuk memberikan dimensi spiritual yang autentik dan memperkuat rasa Jawa yang sakral. Dengan pendekatan artistik dan narasi tradisi, film ini menawarkan horor yang lebih dalam, lebih perlahan, dan penuh makna.
Aktor Aditya Zoni yang mennadi aktor utamanya Birsah, mengungkapkan bahwa karakter yang ia mainkan bukan sekadar antagonis biasa. “Birsah itu seperti makhluk supranatural yang punya kekuatan luar biasa,” ujar Aditya. “Karakter ini bahkan digambarkan bisa menyantet orang,” saat konferensi persnya.
Sinopsis Film “Rajah”
Teror dalam “Rajah” berkisah tentang Nilam dan Cakra. Nilam, diperankan Angel Lisandi adalah perempuan yang hidupnya teratur, rasional, dan selalu mengandalkan logika. Sementara Cakra, yang dimainkan Panji Zoni, digambarkan intuitif, mudah cemas, namun kerap menyembunyikan ketakutannya di balik sikap tegas. Awalnya, keduanya hanya merasakan keganjilan ringan: mimpi buruk berkepanjangan, bayangan samar yang melintas di sudut mata, hingga rasa berat di dada yang sulit dijelaskan. Namun keadaan berubah ketika teror mulai meninggalkan bekas fisik—goresan misterius, suara bisikan yang menyerupai panggilan, serta fenomena tak masuk akal yang terus berulang.
Barang bergerak sendiri, aroma menyengat muncul tanpa sebab, bahkan bayangan mereka tidak lagi mengikuti gerakan tubuh. Teror itu perlahan semakin berani dan seolah sangat mengenal titik lemah masing-masing. Dalam keadaan kacau itu, muncul figur Malawangsa, diperankan Samuel Rizal, sosok yang tampaknya mengetahui lebih banyak daripada yang ia ungkapkan. Bersama Birsah, Malawangsa membuka satu kebenaran yang sulit diterima Nilam dan Cakra: bahwa gangguan yang mereka hadapi merupakan bagian dari malapetaka spiritual kuno.
Tak berhenti di sana, kehadiran Tribuana—diperankan produser Ditha Samantha—menjadi titik balik penting. Karakter ini adalah pelatih tari Jawa tradisional yang awalnya tak memiliki hubungan dengan teror tersebut. Namun ternyata, melalui filosofi gerak tari, ia memegang pengetahuan mengenai “keseimbangan dunia” dan gerbang antara ranah manusia dan makhluk tak kasat mata. Tribuana mengungkap bahwa semua teror itu berhubungan dengan Petaka Zaman Edan, sebuah malapetaka kuno yang muncul ketika manusia mengabaikan nilai dan melampaui batas-batas tertentu.
Nilam dan Cakra menyadari bahwa mereka tidak hanya menjadi korban—melainkan bagian dari sejarah yang menuntut penyelesaian. “Rajah” bukan hanya kisah tentang sosok gaib yang memburu manusia, tetapi juga refleksi tentang keseimbangan hidup, warisan leluhur, dan konsekuensi dari melupakan batas antara dunia nyata dan dunia tak terlihat. Film ini dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 26 Februari 2026. Mengusung durasi 1 jam 45 menit, film ini.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement