Pulasara Film Pendek Mahasiswa Unej yang Raih Lima Penghargaan
Penulis: Nurul Huda
Sebuah film garapan Lailatul Mukjizah, mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNEJ angkatan 2021 telah menyabet berbagai penghargaan. Terakhir film berjudul Pulasara berhasil meraih penghargaan Film Fiksi Terbaik pada Festival Film Pendek Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ) 2025.
Film ini berangkat dari pengamatan Laila terhadap fenomena sosial yang makin sering ditemui di lingkungan keluarga, pertemanan, hingga media sosial. Fenomena tersebut adalah perseteruan antar saudara yang dipicu persoalan harta dan tanggung jawab.
“Saya terinspirasi dari banyak konflik keluarga di sekitar saya tentang warisan, hutang, dan perkara kecil yang merusak hubungan saudara. Fenomena itu muncul di mana-mana, dari keluarga hingga media sosial. Dari situlah benih cerita ini lahir,” jelas Laila saat ditemui di Fakultas Ilmu Budaya, Senin (08/12/2025), usai menayangkan Pulasara sebagai official selection di JAFF.
Teknik Pengambilan Gambar yang Presisi
Menurutnya gagasan cerita film ini lahir dari pengamatan dirinya terhadap fenomena sosial yang makin sering muncul dalam lingkungan keluarga, pertemanan, hingga media sosial. Fenomena tersebut adalah perseteruan antar saudara yang terpicu persoalan harta dan tanggung jawab. Hasil pengamatannya tersebut kemudian ia rumuskan dalam cerita yang dapat dikemas secara intim dalam durasi singkat, sesuai kebutuhan konsep filmnya.
Untuk itu dalam teknisnya, pembuatan film Pulasara ini menggunakan konsep one shot film dan subjective POV shot. Hal inilah yang menjadikan film ini hanya menggunakan satu rangkaian gambar tanpa jeda. Konsep pengambilan gambar ini membutuhkan presisi tinggi, koreografi pergerakan kamera, serta akurasi blocking pemain. Untuk mewujudkannya, Laila bersama kru melakukan sejumlah workshop peralatan dan melakukan diskusi intensif. Hal ini dilakukan untuk memastikan pengambilan gambar dapat berjalan aman dan mulus. Mulai dari tata kamera, perekaman suara, hingga manajemen risiko di lokasi syuting semuanya dipersiapkan dengan detail.
“Awalnya kami kebingungan bagaimana mewujudkan konsep ini. Tapi setelah beberapa kali workshop alat dan merundingkan teknis, akhirnya semua bisa berjalan dengan aman dan sesuai rencana,” ujar Laila.
Tahap produksi berlangsung efisien berkat kesiapan kru dan pemain. Sesi reading serta simulasi teknis dilakukan berkali-kali agar pada hari syuting, seluruh tim dapat bekerja dalam ritme yang solid. Hasilnya memang tidak main-main film ini menyabet berbagai penghargaan. Tidak hanya berjaya di FFTV IKJ, Pulasara juga menunjukkan performa impresif di berbagai festival film lain seperti Layar Lokal Film Festival (LLoFF) – Official Selection, tayang di Program Layar Delta dan, Lawang Sewu Short Film Festival – Official Selection. Selain itu juga dalam UNEJ Film Festival 2025 – Official Selection dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) – Lolos Official Selection
Film Pulasara sendiri berkisah seorang bapak yang telah meninggal namun “menyaksikan” pemulasaraan jenazahnya sendiri. Alih-alih suasana duka, ia justru melihat anak-anaknya sibuk berdebat sebuah gambaran nyata tentang rapuhnya hubungan keluarga ketika persoalan warisan dan konflik lama muncul ke permukaan.
Advertisement