Perayaan Imlek dan Cap Go Meh, Ini Penjelasannya
Cap Go Meh merupakan puncak dan penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Kota Singkawang di Kalimantan Barat, yang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng, menjadi pusat perhatian setiap tahunnya berkat perayaan Cap Go Meh yang spektakuler.
Acara ini tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat Tionghoa, tetapi juga mencerminkan harmoni budaya yang kaya di Indonesia.
Dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2576 dan Cap Go Meh 2025, Kota Singkawang mulai berhias dengan ribuan lampion yang menghiasi jalanan dan kelenteng. Ketua Pelaksana Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Bun Cin Thong, menyatakan bahwa selain pemasangan ornamen khas, panitia juga telah menyiapkan berbagai acara untuk menyemarakkan perayaan ini.
Dikutip dari laman kemenparekraf, secara etimologi, istilah "Cap Go Meh" berasal dari bahasa Hokkien, yang berarti "malam kelima belas." Dalam tradisi Tionghoa, malam ini merupakan purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek dan diyakini membawa keberuntungan serta harapan baru.
Di Indonesia, khususnya di Singkawang, Cap Go Meh memiliki keunikan tersendiri dengan perpaduan budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Ini menjadikan perayaan ini sebagai simbol kerukunan antarbudaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Salah satu daya tarik utama Cap Go Meh di Singkawang adalah parade Tatung. Tatung adalah individu yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan bertindak sebagai medium roh leluhur atau dewa. Dalam parade ini, mereka mengenakan pakaian tradisional yang mencolok dan melakukan berbagai aksi menakjubkan seperti berjalan di atas pedang atau menusukkan benda tajam ke tubuh mereka tanpa terluka.
Ritual Tatung dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan bagi masyarakat. Para peserta menjalani serangkaian persiapan, termasuk ritual pemurnian diri sebelum mengikuti parade yang diarak keliling kota, menciptakan pemandangan penuh warna dan energi yang luar biasa.
Setiap tahunnya, perayaan Cap Go Meh di Singkawang menarik ribuan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain parade Tatung, pengunjung dapat menikmati berbagai atraksi lain, seperti festival lampion, bazar makanan tradisional, serta pertunjukan seni dan budaya.
Kuliner khas seperti chai kue, bakcang, dan kue keranjang menjadi favorit wisatawan yang ingin mencicipi kekayaan rasa khas Tionghoa-Indonesia. Tak hanya itu, acara ini juga menghadirkan berbagai kompetisi dan pameran seni yang semakin memperkaya pengalaman budaya bagi para pengunjung.
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang bukan hanya sekadar perayaan Tionghoa, tetapi juga melibatkan masyarakat Dayak dan Melayu. Mereka berpartisipasi dalam persiapan hingga pelaksanaan acara, mencerminkan semangat gotong royong dan toleransi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Singkawang.
Dengan keunikannya, perayaan Cap Go Meh di Singkawang tidak hanya menjadi warisan budaya lokal, tetapi juga magnet wisata yang mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.
Advertisement