Pelajar SMA di Sidoarjo 'Terjun' ke Dunia Kerja Lewat Program Live-In Profesi
Menjawab tantangan dunia kerja yang kian kompetitif, SMA Katolik Untung Suropati, Sidoarjo menggelar program inovatif bertajuk Live-In Profesi. Program ini dirancang khusus sebagai perantara teori di bangku sekolah dengan realitas industri, sekaligus membekali siswa kelas 10 dan 11 dalam menentukan arah masa depan mereka.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Agus Triyono, menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum ko-kurikuler yang wajib diikuti oleh sekitar 400 siswa. Sebanyak 10 bidang profesi dihadirkan, mulai dari bisnis, kedokteran, psikologi, arsitek, hukum, hingga teknologi informasi yang kini tengah naik daun.
βMenurut Agus, tujuan utama program ini adalah memberikan pembelajaran mendalam (deep learning) agar siswa tidak hanya terpaku pada teks di buku. Live-In Profesi sebagai βpersiapan dini bukan sekadar teori.
β"Kami ingin mereka tahu dunia kerja sesungguhnya itu seperti apa. Agar mereka bisa mempersiapkan diri sejak dini. Mungkin ada yang merasa profesi pilihannya ternyata tidak sesuai bayangan, atau justru mereka jadi tahu bahwa kolaborasi itu jauh lebih penting daripada sekadar nilai akademik," ujar Agus, Sabtu, 7 Februari 2026.
βUniknya, para pemateri yang didatangkan mayoritas adalah para alumni dan praktisi ahli di bidangnya. Hal ini bertujuan untuk membangun ikatan emosional dan rasa kepedulian antara lulusan dengan adik-adik kelas mereka.
Dalam pelaksanaan tahun ini, bidang Bisnis/Entrepreneur menjadi primadona dengan minat tertinggi hingga dibuka dua kelas besar. Sementara itu, bidang Programmer menjadi sorotan khusus karena sekolah mulai mengintegrasikan mata pelajaran Kecerdasan Buatan (AI).
βDua siswa berbagi pengalaman mereka mengikuti program ini. Jolin Stella Angelica Ante, siswa kelas 11-2, mantap memilih kelas pemrograman meskipun ia merupakan satu dari sedikit siswa perempuan di kelas tersebut.
β"Saya ingin mendalami dunia IT karena bercita-cita menjadi seorang Data Analyst. Setelah mendengar penjelasan pemateri tentang prospek kerja dan gaji yang menjanjikan di dunia teknologi, keputusan saya makin bulat. Bagi saya, gender bukan halangan untuk terjun ke dunia digital," tegas Jolin.
βDi sisi lain, William Aiden Wijaya memilih jalur entrepreneur. Berbeda dengan pemula lainnya, William ternyata sudah memiliki bisnis clothing sendiri yang menargetkan pasar Generasi Z.
β"Program ini sangat membantu saya dalam hal problem solving. Saya mendapatkan insight langsung dari praktisi yang sukses mengelola grup usaha besar. Saya ingin mengembangkan bisnis ini agar omzetnya makin besar," ungkap William yang mengaku sangat menyukai dunia pemasaran dan kepemimpinan.
Live-In Profesi menjadi istimewa karena pematerinya adalah para alumni. Ada ikatan emosional yang kuat ketika seorang kakak kelas yang telah sukses mulai dari dokter, pengusaha, hingga penegak hukum kembali ke sekolah untuk membimbing adik-adiknya.
Program ini membuktikan bahwa sekolah bukan lagi sekadar tempat menghafal rumus, melainkan jembatan yang menghubungkan mimpi remaja dengan realitas industri.
Advertisement