Peci Pope, Kenangan Melihat Paus Fransiskus dari Dekat
Orang baik wafat di hari baik. Demikian pula Paus Fransiskus, imam umat Katolik dunia. Ia mengembuskan napas terakhir di Hari Paskah—hari yang diyakini umat Katolik sebagai hari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
Peristiwa ini terjadi di hari ketiga setelah kematian Yesus. Karena itu, tiga hari sejak kematian hingga kebangkitannya dikenal dengan sebutan Tri Suci. Paskah menjadi simbol kemenangan. Ini semacam lebarannya umat Kristen.
Di hari kemenangan yang diyakini umat Katolik sebagai kebangkitan Yesus itulah, Paus Fransiskus wafat. Bagi umat Kristen, Paskah adalah simbol harapan baru, kehidupan kekal, dan keselamatan. Seakan Paus menyongsong kehidupan kekal dan keselamatan setelah memimpin umatnya di dunia.
Paus lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, 17 Desember 1936. Ia menjadi Paus ke-266 Gereja Katolik pada tahun 2013. Ia dikenal sebagai Paus pertama dari Amerika Latin, juga anggota Ordo Yesuit pertama yang memimpin Gereja Katolik.
Saya pernah bertemu dengannya di tahun 2019, saat menemani kunjungan Yahya Cholil Staquf sebelum menjadi Ketua Umum PBNU. Saat itu, ia baru menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Katib Aam PBNU.
Pertemuan dengan Paus saat itu masih setengah resmi, berlangsung usai Paus memimpin audiensi umum di Lapangan Santo Paulus, Vatikan. Yahya Staquf didampingi Ketua Umum GP Ansor saat itu, Yaqut Cholil Qoumas, dan sejumlah pengurus Ansor.
Saya hanya menyaksikan Gus Yahya—demikian keponakan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) itu biasa dipanggil—dari jarak dua meter saat keduanya berbincang. Saya juga melihat ketika Paus memanggil rombongan Ansor yang berbatik dan berpeci itu untuk berbincang.
Usai memberikan khotbah dan pesan-pesan moral, Paus selalu turun dari panggung, berkeliling menyapa umat yang datang dari berbagai negara. Ia menyalami atau memberi berkat satu per satu umat yang berada di baris terdepan.
Saat Paus menyapa umatnya di pelataran itu, seorang pengurus PP Ansor berteriak menyapanya. “Pope, kami jauh-jauh dari Indonesia untuk bertemu Pope,” katanya. Teriakan itu terdengar oleh Paus.
Ia pun memberi kesempatan kepada rombongan—yang tampak mencolok karena mengenakan peci hitam dan batik—untuk mendekat. Dengan sigap, pengawal Paus memberikan jalan kepada rombongan dari Indonesia.
Paus sempat berbincang sejenak dengan mereka. Begitu mendekat, Paus juga mengucapkan salam, “Assalamu alaikum,” katanya. Beberapa kali Paus tampak tersenyum dan menyampaikan pesan kepada pengurus Ansor tersebut.
Dari jarak dekat itu, saya menyaksikan wajah Paus yang ekspresif dan ramah. Senyumnya yang hangat dan matanya yang teduh menciptakan kesan kebapakan dan mudah didekati. Kesejukan terpancar dari wajahnya yang segar.
Sebagai sosok pria kelahiran Amerika Latin, postur tubuhnya tidak tinggi besar. Dari tubuhnya tercermin keteguhan dan ketenangan seorang pemimpin rohani.
Sebagai pemimpin umat dunia, ia memilih busana kepausan yang sangat sederhana—jubah putih polos tanpa banyak ornamen, salib di dada dari besi biasa, bukan emas, dan menggunakan alas kaki sepatu hitam, bukan merah seperti pendahulunya.
Gerak-geriknya pelan dan penuh perhatian, mencerminkan kelembutan dan keteguhan hati. Tutur katanya lembut, dan ia selalu menatap setiap orang yang berbicara dengannya.
“Tangannya lembut sekali,” kata Ketua PW Ansor dari Riau.
Tak lama setelah kunjungan ke Paus di Vatikan ini, Yaqut ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Agama. Sedangkan Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU di Lampung.
Setelah Yaqut menjadi Menag dan Yahya Cholil menjadi Ketum PBNU, keduanya kembali berkunjung secara resmi ke Vatikan. Kali itu, keduanya menyampaikan undangan Presiden Jokowi kepada Paus untuk berkunjung ke Indonesia.
Adakah hubungan antara kunjungan keduanya ke Paus dengan jabatan yang diemban setelahnya? Entahlah. Yang pasti, peci dan teriakan “Pope” seperti menjadi mantra yang membuat Paus menyapa rombongan santri dari Indonesia ini.
Semua itu menjadikan kunjungan tersebut sebagai jejak sejarah bagi mereka yang sempat disalami Paus. Jejak penting bagi perjalanan karier kepemimpinan Gus Yahya Staquf dan Gus Yaqut. Juga melambangkan hubungan antarumat Islam dan Katolik yang indah di negeri ini.
Pasti kita semua merasa kehilangan salah satu sosok pemimpin umat Katolik dunia. Sosok kepemimpinan yang dikenal dengan pendekatan sederhana dan kepeduliannya terhadap isu-isu sosial. Pemimpin dunia yang punya perhatian besar terhadap masalah kemiskinan, perubahan iklim, dan perdamaian dunia.
Selamat jalan, Paus.
Advertisement