Pameran Alam Hesti Setyowati di Galeri Merah Putih
Asam di gunung, garam di laut bertemu di tangan pelukis Hesti Setyowati. Lantas menjelma jadi 20 karya lukis, yang dipamerkan di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya, 3-7 Januari 2026.
Asam dan garam hidup di alam yang berjauhan, namun takdir mempertemukannya dalam rasa. Begitu pula lukisan-lukisan Hesti: gunung dan laut, dingin dan asin, sunyi dan riuh, semuanya bersua di satu ruang kanvas, di satu ruang galeri, yang mempertemukan jarak, rasa, dan ingatan.
Warna-warna yang digoreskan Hesti tak berteriak, tetapi mengendap. Di sanalah rasa “asam” dan “garam” bekerja kontras yang tak saling meniadakan, tapi justru saling menguatkan.
Hesti melukis dengan dua cara yang sama-sama ia cintai: on the spot (OTS), ketika tubuhnya hadir di hadapan lanskap gunung Bromo, Gunung Penanggungan, sumber mata air, dan laut pantai selatan, serta dari inspirasi yang tinggal lama di ingatannya. Sebagai guru gambar di sekolah dasar, ia terbiasa mengajarkan dasar-dasar rupa pada tangan-tangan kecil. Namun di kanvasnya sendiri, ia membiarkan alam menjadi guru utamanya dalam mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan keberanian dalam menjalani kehidupan sebagai pelukis panorama. “Melukis alam memberi ketenangan batin,” katanya pelan.
Pelukis berlatar pendidikan Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa tahun 1990 ini menegaskan bahwa pamerannya adalah pertemuan rasa dan jarak, seperti peribahasa yang dijadikan tema pameran Asam berada di gunung, garam berada di laut, meski berjauhan, namun ketika dipertemukan akan menghadirkan keseimbangan.
Di Galeri Merah Putih, keseimbangan itu terasa: alam dan manusia, ingatan dan harapan, semuanya saling menyapa dalam bahasa warna yang digoreskan pelukis berumur 54 tahun yang juga ibu dari lima putra dan nenek dari 12 cucu. (nto)