Mengapa Rupiah Berhasil Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS? Ini Analisisnya
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya berhasil menjauh dari level psikologis Rp18.000. Sejumlah analis menilai, pemulihan mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi kebijakan moneter strategis dan langkah fiskal pemerintah.
Sebelumnya, rupiah sempat nyaris menembus level Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, siang. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kala itu terpuruk di posisi Rp18.196 per dolar AS, atau melemah 0,89 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Namun, situasi berbalik arah setelah Bank Indonesia (BI) mengambil langkah mengejutkan.
Dampak Kenaikan BI Rate dan Sentimen Pasar
Pada Selasa 9 Juni 2026, Bank Indonesia mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen. Keputusan ini langsung direspons positif oleh pasar.
Rabu (10 Juni 2026) Sore: Rupiah ditutup menguat di level Rp17.944 per dolar AS (naik 114 poin atau 0,63 persen).
Kamis (11Juni 2026) Sore: Rupiah mengalami sedikit tekanan teknis dan bertengger di level Rp17.988 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kenaikan BI Rate menjadi 5,5 persen adalah faktor utama yang memperbaiki sentimen terhadap rupiah. Selain itu, rencana BI menggelar rapat mingguan memberi sinyal kuat ke pasar.
“Langkah BI menaikkan suku bunga dan rapat mingguan ini mensinyalkan bahwa BI akan lebih leluasa untuk kembali menaikkan suku bunga sebelumnya,” kata Lukman.
Kenaikan Harga Pertamax Kurangi Beban APBN
Selain kebijakan moneter, faktor fiskal juga turut menopang keperkasaan rupiah. Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dinilai memberikan sentimen positif karena berpotensi memangkas beban anggaran negara (APBN).
Per 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter (meningkat Rp3.950 per liter).
“Kenaikan harga Pertamax juga positif karena menurunkan beban anggaran,” tambah Lukman.
Dugaan Intervensi Pasar oleh BI dan Pemerintah
Di sisi lain, pengamat pasar uang Ariston Tjendra melihat ada faktor lain di luar suku bunga. Ia menduga ada langkah intervensi pasar yang dilakukan secara terukur oleh otoritas demi menjaga stabilitas keuangan domestik.
“Menurut saya ada intervensi dari BI dan pemerintah karena rupiah dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) menguat secara bersamaan,” ujar Ariston.
Ia menilai intervensi ini sengaja dilakukan untuk memperkuat efektivitas kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang diumumkan secara mendadak pada awal pekan.
DPR Imbau Investor Lepas Dolar AS
Merespons tren positif ini, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengimbau para investor yang masih menimbun mata uang asing untuk segera melepas kepemilikan dolar AS mereka.
Dasco optimistis bahwa penguatan rupiah saat ini didorong oleh meningkatnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas fundamental ekonomi dan pemerintah.
“Saya pikir kepercayaan terhadap pemerintah juga semakin kuat, sehingga juga berpengaruh terhadap pasar dan juga terhadap penguatan nilai tukar rupiah,” ujar Dasco di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).
Ringkasan Faktor Penguatan Rupiah:
Kebijakan Moneter: Kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5%.
Kebijakan Fiskal: Penyesuaian harga Pertamax yang mengurangi beban APBN.
Intervensi Otoritas: Langkah BI dan pemerintah menjaga stabilitas Rupiah dan IHSG secara simultan.
Faktor Psikologis: Meningkatnya kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah.