Nge-Jazz di Lumpur Lapindo Sidoarjo, Syaharani: Malam Perkenalan yang Unik dan Berani
Jazz Lumpur Sidoarjo yang digelar di Taman Pusat Pengendalian Lumpur (PPLS) Sidoarjo, Minggu 15 Desember 2025, menghadirkan pengalaman tak biasa bagi penyanyi jazz legendaris Syaharani.
Kali pertamadi sepanjang kariernya, Syaharani tampil di Sidoarjo dengan latar kawasan Lumpur Lapindo, sebuah panggung yang ia sebut unik, berani, sekaligus penuh makna.
Syaharani mengaku tidak memasang ekspektasi tinggi saat menerima undangan tampil di Jazz Lumpur Festival. Selama ini, aktivitas manggungnya lebih banyak berlangsung di kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang. Penampilannya di Sidoarjo justru ia maknai sebagai malam perkenalan dengan masyarakat setempat.
“lIni pertama kalinya saya main di Sidoarjo. Jadi saya datang tanpa ekspektasi apa pun. Anggap saja ini malam perkenalan saya dengan teman-teman dan warga Sidoarjo. Supaya ke depan bisa jamming lagi, gathering lagi, dan lebih seru,” ujar Syaharani.
Pemilihan kawasan Lumpur Lapindo sebagai lokasi festival disebut Syaharani sebagai langkah strategis. Menurutnya, pendekatan ini bukan semata soal musik, tetapi juga upaya memperkenalkan ruang dan identitas daerah kepada publik dengan cara yang berbeda.
“Orang mungkin lihatnya unik, bahkan sangar, jazz kok di lumpur. Tapi justru itu informasinya langsung sampai. Ini sebuah tempat dengan kondisi yang nyata. Karena ini digelar pemerintah daerah, saya rasa niatnya baik, tempat ini juga butuh perhatian masyarakat,” ungkapnya.
Syaharani menilai Jazz Lumpur Festival berpotensi menjadi ruang hidup baru bagi ekosistem kreatif lokal. Tidak hanya musik, tetapi juga kuliner, UMKM, hingga aktivitas ekonomi kecil yang bisa tumbuh dari sebuah festival yang konsisten digelar.
“Kalau berdaya guna, tempat ini bisa membentuk ekosistem kecil. Dari musik, makanan, UMKM, apa pun itu. Ini langkah awal yang harus terus dipupuk,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Syaharani juga menyinggung karya terbarunya yang bernuansa lebih ceria. Ia mengakui sempat lama menahan diri merilis lagu-lagu baru karena dominasi tema sedih pasca wafatnya musisi Donny Suhendra, sosok yang ia anggap sebagai keluarga sendiri. Lagu terbarunya menjadi titik balik lagu bahagia pertama yang ia rilis sebagai bagian dari proses penyembuhan diri.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Sidoarjo, Vira Murti Krida Laksmi, menilai penyelenggaraan Jazz Lumpur Festival edisi perdana ini sudah melampaui target pengenalan.
Meski tidak dibidik langsung menjadi acara berskala besar, festival ini dinilai berhasil membuka ruang baru bagi segmen musik jazz di Sidoarjo.
“Untuk ukuran jazz yang pertama kali digelar, ini sudah cukup baik. Ini pengenalan bahwa segmen musik jazz itu ada dan bisa diterima di Sidoarjo,” kata Vira.
Ia menambahkan, kehadiran Syaharani yang memiliki basis penggemar lintas generasi menjadi nilai tambah tersendiri. Mulai dari penikmat jazz lama hingga generasi muda dapat dirangkul dalam satu panggung.
Disporapar Sidoarjo berencana mempersiapkan Jazz Lumpur Festival dengan waktu yang lebih matang agar gaungnya semakin luas dan dampaknya kian terasa bagi pariwisata serta ekonomi kreatif daerah.