Mengikis Stigma Melalui Seni: Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel di Malang Raya
Suasana berbeda mewarnai kawasan Jalan Kyai Parseh Jaya No. 29, Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang. Selama dua hari berturut-turut, tepatnya pada Minggu hingga Senin, 30–31 Agustus 2026, lokasi tersebut dipenuhi riuh semangat dan kehangatan. Deretan topeng Malangan yang berjejer rapi tidak sekadar menunggu polesan warna, tetapi juga menjadi saksi kehadiran puluhan anak berkebutuhan khusus yang menjadi pusat perhatian.
Para peserta yang merupakan anak-anak istimewa ini datang dari 13 lembaga Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Malang Raya. Dengan membawa kuas, cat, serta keberanian tinggi, mereka memeriahkan helatan berwujud Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel. Ajang ini digagas khusus untuk menjadikan seni sebagai sarana utama menuju kesetaraan hak dan ekspresi.
Perhelatan ini bukanlah agenda yang muncul secara mendadak. Acara tersebut merupakan puncaknya rangkaian pelatihan panjang yang telah bergulir konsisten sejak Mei 2026. Progres dimulai dari pelatihan membatik dan membuat sampur bersama Program Studi Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya pada 16 Mei. Langkah tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembuatan topeng Malangan pada 27 Juni, hingga berlanjut ke sesi melukis topeng di akhir Juli.
Seluruh pembiayaan rangkaian agenda ini bersumber dari bantuan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan kategori dukungan institusi tahun 2025. Dana tersebut berhasil diraih oleh Sanggar Budaya Anak Nareswari yang berkolaborasi dengan Yayasan D'Mart Thithiek Tenger. Meski jajaran panitia pelaksana didominasi anak-anak muda berusia 16 hingga 35 tahun, mereka terbukti cakap menggerakkan dukungan dari puluhan lembaga sekaligus.
Ndaru Lazarus, selaku Ketua Pelaksana sekaligus Ketua Yayasan D'Mart Thithiek Tenger, menegaskan bahwa perhelatan ini dihadirkan sebagai wadah bagi anak-anak difabel untuk mengekspresikan karya sekaligus memupuk kepercayaan diri. Baginya, seni dan budaya efektif menjadi jembatan yang menyatukan beragam latar belakang sembari membina kemandirian. Visi tersebut tercermin nyata di lapangan melalui beragam kompetisi, seperti lomba mewarnai topeng bagi siswa SLB tingkat SD hingga SMP, lomba melukis topeng tingkat SMA, serta parade tari kategori bebas pada hari pertama.
Hari Pertama: Momen Penuh Haru di Atas Panggung
Suasana haru menyelimuti pelaksanaan hari pertama, terutama saat berlangsungnya sesi pendaulatan figur penting. Di atas panggung Pentas Budaya dan Seni Anak-Anak Istimewa, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., diresmikan secara simbolis sebagai Bunda Disabilitas oleh Lembaga Sekolah Luar Biasa se-Malang Raya. Penyerahan simbolis tersebut diwakili oleh pembina Yayasan Thitek Tenger dan Sanggar Nareswari, Ki Djoko Rendi.
Kehadiran Sri Untari di lokasi acara terbilang sangat berkesan mengingat jadwal kerjanya yang padat. Usai menuntaskan agenda dinas di Medan, Sumatra Utara, ia langsung terbang transit ke Jakarta sebelum mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, lalu meluncur ke Bumiayu tanpa sempat pulang ke rumah lebih dahulu.
Dalam sambutannya di atas panggung, Sri Untari menegaskan komitmen legislatif untuk menghadirkan kepastian hukum dan perlindungan hak bagi anak-anak difabel. "Komisi E DPRD Jawa Timur saat ini tengah menyiapkan Perda Disabilitas yang kami targetkan tuntas pada Agustus ini. Ini merupakan komitmen nyata pemerintah daerah untuk memberikan hak yang setara bagi seluruh penyandang disabilitas," tegasnya di hadapan para hadirin.
Tidak hanya menyampaikan persoalan regulasi, Sri Untari juga menitipkan pesan mendalam serta imbauan khusus bagi para ibu hamil yang hadir terkait pentingnya menjaga pola makan demi kesehatan janin. "Saya mengimbau kepada para ibu hamil agar benar-benar menghindari junk food dan makanan olahan tinggi selama masa kehamilan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan tidak sehat sangat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan perkembangan saraf anak, termasuk Autism Spectrum Disorder. Secara khusus, hindari konsumsi berlebihan Asam Propionat (PPA)—zat pengawet yang lazim ditemukan dalam roti komersial dan keju olahan—karena dapat mengganggu perkembangan sel saraf janin," paparnya secara terperinci.
Di akhir sambutannya, Sri Untari menyampaikan kabar membanggakan mengenai peluang dan potensi besar para penyandang disabilitas di dunia kerja profesional. "Berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, sejumlah perusahaan IT justru lebih memilih mempekerjakan anak-anak disabilitas karena tingkat fokus kerja mereka yang sangat tinggi, bahkan hasil kerjanya bisa 1,5 kali lebih maksimal dibandingkan pekerja pada umumnya. Oleh karena itu, Perda yang sedang kami godok ini nantinya akan membentuk Komisi Disabilitas yang berwenang mendorong pihak pemerintah maupun swasta untuk mempekerjakan 1 sampai 2 persen anak-anak difabel berpotensi," ungkapnya disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Rasa haru terpancar saat Sri Untari menerima penghargaan dari Ki Djoko Rendi dengan mata berkaca-kaca. Setelah prosesi tersebut, ia berkeliling meninjau stan UMKM milik 13 SLB yang menampilkan karya-karya kreatif anak-anak istimewa, bahkan membeli produk di setiap stan. Kemeriahan hari pertama resmi ditutup dengan tradisi potong tumpeng, di mana potongan utama diberikan kepada Ki Djoko Rendi dan tumpeng jajanan pasar diserahkan kepada pengelola Sanggar Budaya Anak Nareswari, Bunda Maria Carmela Nur Indri Hariani.
Hari Kedua: Rangkaian Lomba dan Kolaborasi Masyarakat Umum
Berbeda dengan fokus hari pertama, perhelatan di hari kedua membuka kesempatan tampil yang lebih luas bagi masyarakat umum. Kemeriahan dibuka dengan lomba diamond painting tingkat TK yang diikuti oleh sembilan dari sepuluh peserta terdaftar asal TK Islam Bumiayu, di mana satu anak terpaksa absen akibat sakit. Acara dilanjutkan dengan lomba melukis topeng 3D bagi siswa SD, SMP, dan SMA, serta lomba membatik kategori umum.
Perbedaan orientasi acara pada hari kedua ditegaskan langsung oleh Ndaru Lazarus. Ia menyampaikan, "Hari ini kegiatan kami Harmoni hari kedua. Kegiatannya adalah penampilan dan lomba-lomba untuk umum," kata Ndaru Lazarus menjelaskan perbedaan format dari hari sebelumnya.
Geliat hari kedua makin semarak dengan hadirnya sekitar 20 pelaku UMKM. Sebanyak tujuh stan berasal dari Forum Disabilitas Kelurahan Bumiayu, sedangkan 13 stan lainnya merupakan bentuk kolaborasi bersama SLB se-Kabupaten Malang. Kendati demikian, Ndaru mengungkapkan panitia sempat kewalahan karena pelaksanaan bertepatan dengan hari kerja. Meskipun telah ada keterlibatan relawan mahasiswa dari Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Ma Chung, dan Binus, tercatat hanya lima panitia yang sanggup siaga di lapangan.
Mengenai perkembangan dinamika seni di daerahnya, Ndaru menilai aktivitas kebudayaan di Malang tengah mengalami tren positif yang pesat. Hal ini terlihat dari bertambahnya sanggar seni serta tingginya animo publik pada acara budaya berkat dorongan media sosial. "Budaya di Malang akhir-akhir ini sudah sangat naik sekali tingkat trafiknya bagi pengunjung, juga pengadaan acaranya," ujarnya. Ia menaruh harapan agar publik memandang budaya bukan hanya sekadar tradisi kaku penuh pakem, melainkan bagian hidup yang tumbuh dari akar daerahnya sendiri.
Sebagai penutup perhelatan hari kedua, panitia menggelar Sarasehan Budaya dan Sejarah Topeng Malang secara eksklusif bersama sejarawan Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum. Sesi ini berhasil menjembatani semangat pemberdayaan anak-anak difabel dengan historisitas panjang yang dimiliki topeng Malangan.
Apresiasi bagi Para Pemenang dan Dampak Sosial
Dari serangkaian kompetisi yang diperuntukkan bagi pelajar SLB, muncul nama-nama berbakat yang sukses memenangkan penghargaan. Kategori mewarna topeng tingkat SD-LB menempatkan Zikal Vegan Alfazil dari SLB Bimantara di posisi juara pertama, diikuti Bima dari SLB Putra Harapan di posisi kedua, dan Arimbi Ayu dari SLB Al Firma'una di posisi ketiga. Sementara pada tingkat SMP-LB, posisi teratas disabet oleh Atiqa Bilqis dari SMPN 17 Kelas Inklusi, disusul Dinda Ayu dari SLB BC PGRI Sumberpucung serta Yusuf R. dari SLB Pembina.
Adapun pada lomba melukis topeng 3D tingkat SMA-LB, predikat juara pertama diraih oleh A. Dzalikal Denovan dari SLB PGRI, disusul Vinsa dari SLB DW 03 Turen dan Sera S. dari SLB Idayu 2. Untuk panggung parade tari, penampilan terbaik juara pertama diraih oleh SLBN Pembina Tingkat Nasional Bagian C, yang disusul oleh SLB Putra Harapan Karangkates di peringkat kedua dan SLB Dharma Wanita 03 Turen pada peringkat ketiga.
Bagi Sanggar Budaya Anak Nareswari, kesuksesan agenda ini menjadi pembuktian nyata bahwa seni mampu dijadikan alat pemberdayaan masyarakat secara substantif. Penyelenggaraan ruang ekspresi yang setara ini diharapkan bisa mengikis stigma sosial bagi kelompok difabel, sekaligus membangun ruang interaksi yang ramah dan inklusif antara warga difabel dengan masyarakat luas.
Dukungan mengalir dari berbagai pejabat dan tokoh penting, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Evy Afianasari yang hadir bersama Raka Raki Jawa Timur; Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP.; serta Koordinator Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur yang juga Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang, Suroso.
Dukungan senada turut diberikan oleh Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Muhamad Sailendra, S.T., M.M.; Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Malang Redam G. Krismantara B., M.H.; General Manager Grand Mercure Mirama Hotel Malang Sugito; hingga Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita yang bertindak selaku pelindung Yayasan D'Mart Thithiek Tenger.
Melalui sokongan program Dana Indonesiana, Griya Kriya Topeng Ramah Difabel berkomitmen terus menggalakkan kegiatan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. Lewat kreativitas anak-anak istimewa Malang Raya, topeng Malangan kini bertransformasi dari sekadar cagar budaya masa lalu menjadi simbol baru dalam menyerukan kesetaraan, kemandirian, dan masa depan yang terbuka.
Antusiasme warga sekitar pun tergolong sangat tinggi. Karang Taruna Bumiayu menyumbangkan penampilan tari Gandrung pada hari pertama (Minggu, 29/8/2026). Selain itu, belasan lansia dari Karawitan Wibisono Laras Budoyo Bumiayu di bawah bimbingan Bapak Sukardi tampil membawakan alunan musik gamelan dengan penuh kehangatan.
Tembang-tembang lokal seperti Ayun-ayun, Cep menengo (Ojo nangis), Si kucing, Rundho Kampung, Gugur gunung, Sholatullah, Kuwi opo kuwi, Mars empat lima, Empat pilar, Gulo klopo, hingga Bersih deso bergema memenuhi area Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, menciptakan suasana yang amat menyentuh dan membahagiakan.