Media Hadapi Disrupsi dan Keberlimpahan Informasi
Kondisi secara umum media di Indonesia sedang tidak baik. Paling tidak media sekarang diterpa dua hal, disrupsi informasi dan keberlimpahan informasi. Hal itu diungkapkan Plt Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Mahmud Suhermono saat melantik pengurus PWI Probolinggo Raya di pendopo Kabupaten Probolinggo, Rabu, 11 Juni 2025.
"Disrupsi atau gangguan informasi sedang melanda. Betapa informasi beredar lebih cepat, luas, dan mudah diakses. Namun sisi lain, informasi menjadi lebih sulit untuk dikontrol," terang Abah Mahmud, panggilan akrab Mahmud Suhermono.
Ia mengilas balik, dulu, semasa Order Baru, menerbitkan media (cetak) tidak gampang. "Dulu harus punya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Untuk mendapatkan SIUPP sangat sulit," ungkapnya.
Di era reformasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi (TI) berupa internet, media online membanjiri Indonesia. "Sampai sulit diketahui berapa jumlah media online, diperkirakan mencapai 60 ribu," katanya.
Selain disrupsi, informasi di era reformasi juga membanjiri (abundance) semua sisi kehidupan. Ditunjang oleh internet, semua orang bisa menyebarkan informasi sebebas-bebasnya.
Akibatnya informasi hoaks merajalela. "Media harus menjadi panduan untuk memerangi hoaks," ungkap Abah Mahmud.
Ia menekankan, bahwa PWI harus mampu menjadi penunjuk arah bagi masyarakat dalam membedakan informasi yang kredibel dan yang tidak. Wartawan juga diingatkan pentingnya integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan profesi.
βPWI harus mendorong masyarakat untuk menjadikan media pers sebagai rujukan utama dalam mendapatkan informasi, bukan media sosial. Wartawan anggota PWI harus berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Berita harus melalui proses verifikasi, validasi, dan konfirmasi,β terangnya.
Sementara itu Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris, yang akrab disapa Gus Haris, memberikan apresiasi atas peran PWI sebagai pilar penting dalam kehidupan berdemokrasi. Menurutnya, PWI tidak hanya sekadar organisasi profesi, tetapi juga merupakan rumah kebangsaan bagi para wartawan.
βMenjadi bagian dari PWI adalah kebanggaan. Tidak semua bisa masuk ke organisasi ini karena ada proses seleksi dan uji yang harus dilalui. Ini menunjukkan bahwa PWI menjaga kualitas anggotanya,β kata Gus Haris.
Senada dengan bupati, Ketua PWI Probolinggo Raya, Babul Arifandie menekankan pentingnya peran wartawan dalam menghadirkan konten-konten jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga inovatif. Ia mengajak seluruh anggota PWI Probolinggo Raya untuk tidak terjebak dalam zona nyaman, dan tidak hanya berpuas diri dengan status sebagai wartawan kompeten.
βKompetensi itu penting, tetapi jangan bangga dulu jika tidak bisa menghasilkan karya jurnalistik yang menghadirkan hal baru. Kita harus bisa mengisi ruang kosong yang ada di masyarakat guna memenuhi kebutuhan informasi," katanya.
Lebih lanjut, ia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tubuh PWI Probolinggo Raya melalui pelatihan dan penguatan kapasitas, termasuk dengan menyelenggarakan Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Advertisement