Mantan Pekerja Oriental Circus Indonesia Laporkan Dugaan Eksploitasi ke Kementerian HAM
Sejumlah mantan pekerja Oriental Circus Indonesia (OCI) yang pernah tampil di bawah naungan Taman Safari Indonesia (TSI) mengadukan dugaan eksploitasi dan kekerasan kepada Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM). Pengaduan ini disampaikan langsung kepada Wakil Menteri HAM, Mugiyanto, dalam audiensi yang berlangsung pada Selasa, 15 April 2025.
Dalam pertemuan tersebut, para mantan pemain sirkus Oriental Circus Indonesia mengungkap pengalaman pahit yang mereka alami sejak era 1970-an. Mereka menyebut telah menjadi korban kekerasan fisik, eksploitasi anak, hingga kehilangan identitas karena direkrut sejak kecil tanpa dokumen resmi dan dibawa keliling dunia.
“Banyak korban tidak tahu asal-usul mereka. Identitas adalah hak dasar manusia. Kasus ini tidak hanya soal kekerasan, tapi juga pelanggaran HAM,” ujar Mugiyanto.
Kementerian HAM Akan Libatkan Komnas HAM dan Kementerian PPPA
Mugiyanto menegaskan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Komnas HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta lembaga terkait lainnya guna menindaklanjuti laporan dari para mantan pekerja sirkus OCI tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya prinsip Bisnis dan HAM (Business and Human Rights) yang telah menjadi strategi nasional sejak tahun 2022 dan mengikat semua pelaku usaha, termasuk Taman Safari Indonesia.
“Taman Safari sebagai badan usaha wajib tunduk pada prinsip HAM sesuai strategi nasional yang telah ditetapkan pemerintah,” tegasnya.
KemenHAM Akan Panggil Manajemen Taman Safari Indonesia
Sebagai langkah lanjutan, KemenHAM menyatakan akan memanggil pihak manajemen Taman Safari Indonesia untuk mengklarifikasi dugaan eksploitasi dan pelanggaran yang disebutkan dalam pengaduan tersebut.
“Kami akan lakukan secepatnya, mudah-mudahan dalam minggu-minggu ke depan,” ucap Mugiyanto.
Klarifikasi dari Taman Safari Indonesia
Menanggapi isu yang beredar, Taman Safari Indonesia Group memberikan klarifikasi resmi. Mereka menyatakan bahwa permasalahan yang dilaporkan oleh para mantan pekerja sirkus Oriental Circus Indonesia tidak berkaitan langsung dengan perusahaan secara kelembagaan.
“Kami tidak memiliki hubungan bisnis, hukum, atau keterlibatan dengan individu-individu yang disebutkan,” jelas TSI dalam pernyataan resmi yang diterima media, Rabu (16/4).
Pihak TSI menambahkan bahwa mereka selalu menjunjung prinsip Good Corporate Governance (GCG), kepatuhan terhadap hukum, dan etika bisnis yang bertanggung jawab dalam menjalankan kegiatan usahanya.
“Selama lebih dari 40 tahun, Taman Safari Indonesia mengedepankan konservasi, edukasi, dan pelayanan publik. Kami mengajak masyarakat bersikap bijak menyikapi informasi yang beredar,” tutup pernyataan tersebut.
Sejarah Oriental Circus Indonesia: Sirkus Legendaris yang Pernah Berjaya di Nusantara
Oriental Circus Indonesia (OCI) merupakan salah satu kelompok sirkus paling legendaris di Indonesia yang telah berdiri sejak pertengahan abad ke-20. Sirkus ini dikenal luas karena pernah tampil dari kota ke kota di seluruh Nusantara, bahkan sempat berkeliling ke sejumlah negara di dunia.
Awal Mula Oriental Circus Indonesia
Oriental Circus Indonesia didirikan oleh keluarga asal India yang menetap di Indonesia pada era 1960-an. Dengan membawa tradisi sirkus dari tanah asal mereka, OCI berkembang menjadi kelompok pertunjukan sirkus profesional yang memadukan unsur hiburan, seni akrobatik, dan atraksi hewan.
Awalnya, OCI hanya tampil di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Namun seiring waktu, mereka mulai melakukan tur keliling Indonesia hingga ke daerah-daerah terpencil. Popularitas mereka melonjak pada era 1970 hingga 1990-an, di mana sirkus menjadi salah satu hiburan utama masyarakat.
Kejayaan dan Kolaborasi dengan Taman Safari Indonesia
Pada puncak kejayaannya, Oriental Circus Indonesia menjalin kerja sama dengan Taman Safari Indonesia (TSI). Kolaborasi ini memungkinkan OCI tampil secara reguler di area Taman Safari sebagai bagian dari pertunjukan atraksi edukatif dan hiburan keluarga.
OCI dikenal menampilkan pertunjukan spektakuler, mulai dari aksi trapeze, akrobatik, hingga pertunjukan satwa terlatih seperti gajah, harimau, dan singa. Para pemainnya berasal dari berbagai negara, dan banyak di antaranya direkrut sejak usia muda untuk dilatih secara intensif.
Kontroversi dan Tuduhan Eksploitasi
Meski pernah berjaya, sejarah Oriental Circus Indonesia juga diwarnai kontroversi. Dalam beberapa tahun terakhir, mantan pemain sirkus OCI mulai angkat bicara terkait dugaan eksploitasi anak, kekerasan fisik, dan pelanggaran HAM yang terjadi selama mereka bekerja di OCI.
Sejumlah mantan pekerja mengklaim direkrut saat masih anak-anak dan kehilangan identitas karena tidak memiliki dokumen resmi. Kasus ini kini sedang ditangani oleh Kementerian HAM, dan menyita perhatian publik serta media nasional.
Penurunan Popularitas dan Masa Kini
Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak asasi manusia dan kesejahteraan hewan, popularitas Oriental Circus Indonesia mulai menurun. Pertunjukan sirkus dengan atraksi hewan pun mulai ditinggalkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kini, nama Oriental Circus Indonesia kembali menjadi sorotan bukan karena pertunjukannya, melainkan karena laporan dugaan pelanggaran yang menyeruak ke publik.