Mahasiswi Dibunuh, Sopir Pribadi Ungkap Banyak Kejanggalan
Misteri pembunuhan FAN, 23 tahun, mahasiswi, warga Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo yang mayatnya ditemukan di sungai di Kabupaten Pasuruan berangsur-angsur tersibak. Sopir pribadi FAN, Sam, 40 tahun termasuk salah satu saksi kunci yang membuka kasus tewasnya korban yang diduga dilakukan oknum polisi yang berdinas di Kabupaten Probolinggo.
βBegitu mendengar kabar duka, mayat Mbak Far (FAN) ditemukan di sungai di Pasuruan, saya langsung mendatangi lokasi,β ujar Sam, 40 tahun, sopir pribadi FAN di rumah duka di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Kamis, 18 Desember 2025.
Seperti diketahui, H Ram, 65 tahun memang menugaskan Sam untuk menjadi sopir pribadi putrinya. Sam biasa mengantar jemput FAN ke mana-mana termasuk perjalanan Probolinggo-Malang pulang pergi (PP) saat FAN kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang.
FAN tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Hukum (FH) semester dua di perguruan tinggi di Malang. Hal itu ia tempuh sejak empat tahun silam, setelah FAN menamatkan pendidikannya di sebuah SMA di Kecamatan Tiris.
Sam mengaku, terkejut mendengar kabar FAN ditemukan tewas di sebuah sungai di Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Ia kemdudian mendatangi kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Brimob Watukosek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, karena mayat hendak diautopsi.
"Saat itu, saya menyaksikan di kamar jenazah, kepala korban hingga pipi kanan berlumur lumpur. Tapi anehnya, helm yang dipakai sama sekali tidak ada lumpurnya," kata Sam mengawali ceritanya.
Sebab sebelumnya, Sam sempat mendatangi rumah kos FAN di dekat kampusnya. Di situ ditemukan sepeda motor FAN plus helm berwarna pink tersangkut pada motor.
Sam menegaskan, ada keanehan karena mayat FAN yang ditemukan di sungai, mengenakan helm lain. βYang dikenakan Mbak Far bukan helm yang biasanya dipakai saat naik motor,β ujarnya.
Sam juga mengaku, menemukan jejak ban mobil Mitshubishi Triton di dekat sungai di mana mayat FAN ditemukan. Dikatakan, saat olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), polisi menemukan jejak ban mobil berwarna merah dop itu.
Mobil yang sepengetahuan Sam dibelikan H Ram, mertua AS (terduga pembunuh) jejak bannya berputar balik ke arah Malang.
Sam juga mengaku, bertemu dengan AS saat mendatangi Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Pusdik Brimob Watukosek. Sejumlah saksi juga menjumpai AS mengenakan kaus putih, yang terlihat ada berkas merah, mirip cipratan darah.
AS diketahui sempat masuk ke kamar mayat rumah sakit tersebut seorang diri, Selasa, 16 Desember 2025. Namun ia tidak sampai membuka kantong mayat.
βAda yang sempat menegur pelaku (AS) terkait bercak merah di kausnya, AS mengatakan, itu terkena saus cilok,β kata Sam.
Keesokan harinya, Rabu, 16 Desember 2025, AS diamankan oleh sejumlah polisi dari Jatanras Polda Jawa Timur.
Oknum Polisi berpangkat Bripka yang berdinas di Provost Polek Krucil itu memang menjadi terduga pelaku pembunuhan terhadap adik iparnya, FAN. Sejak sekitar empat tahun silam, AS menikahi Hus, 23 tahun, kakak FAN.
Cinta Segitiga
Misteri pembunuhan FAN juga dikait-kaitkan dengan dugaan cinta segitiga yang melibatkan FAN (korban), Hus (kakak FAN), dan kakak ipar FAN (Bripka AS). Hal itu diungkapkan Git, teman akrab FAN, yang juga warga Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.
βSepengetahuan saya, hubungan Abah Ram (ayah FAN) dengan menantunya, AS kurang harmonis alias tidak akur. Itu disampaikan Abah Ram sendiri kepada banyak orang,β kata Git kepada wartawan di rumah duka, Kamis, 18 Desember 2025.
Meski kurang akur dengan mertuanya (H Ram), menurut Git, hubungan AS dengan teman akrabnya (FAN) sangat mesra. Ia menduga, hubungan terlarang itu sengaja ditutup-tutupi oleh FAN dan AS.
Git menambahkan, dalam keluarganya, FAN menjadi pengelola keuangan usaha keluarga besarnya. Seperti diketahui, H Ram memiliki sejumlah bisnis mulai perdagangan sembako, material bangunan, pertanian, transportasi berupa truk dan travel, hingga jual beli tanah.
βOrang-orang menyebut, H Ram sebagai Sultan Tiris karena kekayaannya melimpah,β ungkap Git.
Advertisement