Lima Pelukis Gen Z Pameran Lukisan di Galeri Merah Putih
Anak-anak gen Z Surabaya memamerkan karya lukis mereka dalam pameran berlabel "Cahaya Damai" di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya, 20-25 Desember 2025.
Ruang pamer galeri dipenuhi warna, garis, dan imajinasi anak-anak gen Z yang melompat-lompat tanpa batas.
Pameran ini lahir dari geliat berkesenian anak-anak yang kian bergejolak di Surabaya maupun Jawa Timur. Di berbagai ruang publik dan galeri, seni rupa anak tumbuh seperti tunas muda yang jujur, segar, dan tak takut berbeda.
Pameran ini tak hanya menyemarakkan atmosfer seni rupa di Surabaya, tetapi juga memantik kesadaran bersama bahwa dunia seni perlu dirawat sejak dini, dengan dukungan, kepercayaan, dan ruang yang terbuka.
Lima pelukis Gen Z adalah Adinda, Aerilyn, Aston, Jezlyn, dan Kaelyn, pelajar sekolah dasar di Surabaya, yang menjadi cahaya utama dalam sorotan pameran ini.
Melalui 55 karya berukuran sedang, mereka berbicara dengan caranya sendiri. Tanpa beban aliran, tanpa kecemasan estetika yang rumit, mereka melukis karena ingin melukis. Karena tangan tangan mereka tergerak oleh dorongan hati untuk berekspresi.
Dari sini titik awal menariknya lukisan anak dengan imajinasinya liar, dalam arti yang paling indah. Liar bukan karena tak terkendali, melainkan karena belum dijinakkan oleh pakem, teori, atau ketakutan akan penilaian.
Warna-warna yang digoreskan bisa bertabrakan tanpa rasa bersalah, bentuk-bentuk yang mereka guratkan di kanvas bisa melompat dari logika, dan objek bisa hadir sebagai rasa, bukan rupa.
Langit boleh hijau, manusia boleh bersayap, dan rumah bisa mengapung. Semuanya sah, semua jujur dari imajinasi anak.
Imajinasi yang liar ini justru menjadi kekuatan. Ia memperlihatkan cara anak memandang dunia apa adanya, tanpa topeng. Lukisan-lukisan mereka bukan sekadar gambar, melainkan rekaman perasaan gembira, rasa ingin tahu, imaji tentang harapan, dan kedamaian.
Di tengah dunia orang dewasa yang sering penuh batas dan hitung-hitungan, karya lukis anak seperti pengingat bahwa kreativitas sejati lahir dari kebebasan mereka dalam berekspresi.
Pameran ini juga menjadi ruang belajar, bukan hanya bagi anak-anak yang berpameran, tetapi bagi publik yang menyaksikan. Bahwa seni bukan semata hasil akhir, melainkan proses membangun kepercayaan diri, kemandirian, dan ketulusan.
Arief Wong, pengasuh ke lima anak gen Z itu, menyebut pameran diselenggarakan dengan semangat menyambut Hari Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
"Pameran ini terasa seperti doa visual tentang dunia yang lebih damai, lebih hangat, dan lebih manusiawi bagi anak-anak," kata Arief Wong, perupa yang juga pembimbing anak yatim piatu di Sidoarjo dalam belajar melukis. (nto)