Kritik Pedas Cucu Bung Hatta di Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Salah satu cucu salah satu founding father Indonesia Mohammad Hatta, yaitu Gustika Jusuf Hatta menuliskan kritik pedas kepada Prabowo dan Gibran di akun Instagramnya Gustika Jusuf-Hatta (@gustikajusuf).
Dalam akun Instagramnya Gustika menuliskan refleksi 80 tahun emerdekaan Indonesia. Dia menyebut sedang berkabung dengan simblisasi memakai kebaya hitam dan batik slobog. Begini unggahannya:
Walau bukan Kamisan, pagi ini aku memilih mengenakan kebaya hitam yang kupadukan dengan batik slobog. Pilihan busana ini bukan tanpa alasan. Dalam budaya Jawa, kain bukan hanya sekadar pakaian, melainkan simbol dan isyarat yang sarat makna.
Filosofi Batik Slobog dalam Budaya Jawa
Motif slobog biasa dikenakan pada suasana duka. Kata slobog berarti longgar atau terbuka, yang melambangkan pelepasan dan pengantaran. Dalam tradisi Jawa, keluarga yang sedang berduka kerap memakainya dalam prosesi pemakaman sebagai simbol merelakan sekaligus mendoakan jalan yang lapang.
Aku memilih batik slobog di peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebagai bentuk refleksi, protes diam, sekaligus cara memelihara identitas kecilku sebagai seorang berdarah Jawa. Bagiku, ini juga menjadi simbol untuk mengungkapkan perasaan terdalam di tengah kondisi bangsa saat ini.
Antara Syukur dan Luka HAM di Hari Kemerdekaan
Seharusnya, Hari Kemerdekaan Indonesia dirayakan dengan penuh syukur. Namun, di usia ke-80 tahun Republik ini, rasa syukur itu bercampur dengan keprihatinan mendalam. Luka pelanggaran HAM masih belum tertutup, bahkan kini bangsa ini dipimpin oleh sosok dengan catatan kelam pelanggaran hak asasi manusia.
Militerisasi kian merasuk ke ruang sipil, sementara hak-hak rakyat kerap dilucuti. Sejarah bangsa seakan hendak ditulis ulang dengan menghapus dosa para penguasa dan kroninya. Bahkan baru-baru ini, kasus kekerasan aparat di Pati kembali menelan korban jiwa—sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi di tanah merdeka.
Berkabung sebagai Bentuk Cinta pada Republik
Dukaku lahir dari rasa cinta yang mendalam pada Republik Indonesia. Bagiku, berkabung bukan berarti putus asa. Justru sebaliknya, berkabung adalah jeda untuk jujur menatap sejarah, menjaga ingatan kolektif, dan menagih janji-janji konstitusi yang belum ditepati.
Merayakan kemerdekaan pun tidak sekadar pesta, melainkan doa dan harapan. Sama halnya dengan makna kain slobog, yang mengingatkan pada batas antara yang pergi dan yang tinggal. Ia adalah doa keselamatan dalam masa peralihan, simbol bahwa dari duka pun kita bisa menumbuhkan harapan baru.
Panjang Umur, Republik Indonesia
Di Hari Kemerdekaan ke-80, aku memilih merayakan dengan cara berbeda: berkabung sekaligus berdoa. Sebab mencintai Indonesia bukan hanya dengan sorak-sorai, tetapi juga dengan keberanian menatap sejarah dan menuntut keadilan.
Panjang umur, Republik Indonesia-ku.