Komika Panji Terkena Hukum Adat Toraja Harus Serahkan Kerbau Dan Babi Masing Masing 48 Ekor Uang 2 M
Ada pepatah "Mulutmu Haimaumu". Bila tidak hati hati dan pandai dalam menjaga mulut, bisa menjadi malapetakan, dan panjang urusannya.
Kejadian itu menimpa komika Pandji Pragiwaksono. Dia dijatuhi sanksi adat oleh Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST), lembaga adat di Tana Toraja , Sulawesi Selatan.
Pandji diwajibkan menyerahkan masing-masing 48 ekor kerbau dan 48 ekor babi serta uang sebesar Rp2 miliar untuk kegiatan sosial.
Sanksi yang tak tanggung tanggung itu merupakan buntut dari candaan Pandji yang dianggap menyinggung adat dan nilai budaya masyarakat Toraja.
Ketua Umum TAST, Benyamin Rante Allo, mengatakan sanksi adat tersebut bersifat material dan moral. Berdasarkan asas lolo patuan atau mengorbankan kerbau dan babi.
“Persembahan ini merupakan simbol pemulihan keseimbangan antara dunia manusia ( lino tau ) dan dunia arwah ( lino to mate ),” ujar Benyamin, dikutip Minggu 9 November 2025.
Menurut Benyamin, dana tersebut akan digunakan untuk kegiatan adat, pendidikan budaya, serta pemulihan simbol-simbol adat Toraja yang dinilai tercemar akibat pernyataan sang komika.
“Uang itu bukan denda, tapi bentuk tanggung jawab moral untuk mengembalikan kehormatan adat Toraja,” tegasnya.
Benyamin menambahkan, pihak TAST masih membuka ruang dialog dengan Pandji. Ia berharap komika tersebut menunjukkan itikad baik dengan datang langsung untuk memberi sanksi yang diberikan.
Sementara, jika Pandji tidak ada niat baik untuk melakukan komunikasi untuk membahas sanksi adat, maka ada sanksi yang lebih berat kepada Pandji. Nantinya akan diberikan sanksi adat berupa kutukan melalui tokoh adat.
Lembaga adat menilai candaan Pandji telah melukai nilai-nilai sakral dalam ritual Toraja yang selama ini dijaga turun-temurun. Pihak TAST menegaskan, langkah pemberian sanksi bukan semata bentuk kemarahan, melainkan mekanisme adat untuk menjaga keseimbangan dan kehormatan masyarakat Toraja.
Pandji Meminta Maaf Kepada Masyarakat Toraja
Pandji Pragiwaksono meminta maaf kepada masyarakat Toraja atas materi lelucon stand up yang dinilai menyinggung masyarakat adat Toraja dan memicu protes belakangan.
Pandji mengaku menerima banyak protes dan kemarahan dari masyarakat Toraja terkait lelucon dalam pertunjukan Mesakke Bangsaku tahun 2013 dalam beberapa hari terakhir ini.
“Saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Toraja yang curam dan merasa dilukai,” kata Pandji di instagramnya.
Sadar materinya Ignorant
Pandji pun telah berdialog dengan Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi dan mendapatkan pencerahan tentang indahnya budaya Toraja.
Usai Dialog tersebut Pandji mengakui materi leluconnya soal Toraja itu memang salah.
“Dari percakapan itu, saya menyadari bahwa lelucon yang saya buat memang bodoh,” kata dia.
Pandji menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran seumur hidup. Ia berjanji ke depan akan menjadi komika yang lebih baik, lebih peka, dan peduli.
Ia mengatakan saat ini ada dua proses hukum yang berjalan: proses hukum negara, karena adanya laporan ke kepolisian dan proses hukum adat.
Berdasarkan pembicaraan dengan Rukka, penyelesaian secara adat hanya dapat dilakukan di Toraja.
Pandji menyebut Rukka bersedia menjadi fasilitator pertemuan dirinya dengan perwakilan dari 32 wilayah adat Toraja.
Ia berencana mengambil langkah itu. Namun jika waktu tidak memungkinkan, Pandji menyatakan akan menghormati dan menjalani proses hukum negara yang berlaku.
Pada saat yang sama, Pandji berharap kejadian ini tak membuat para komika berhenti mengangkat nilai dan budaya dalam karya mereka.
Ia tak sepakat dengan anggapan yang menyebut pelawak tak boleh membicarakan isu SARA.
Pandji mengatakan Indonesia merupakan negara dengan keragaman luar biasa, mulai dari suku, agama, ras, dan antargolongan.
“Yang penting bukan berhenti membicarakan SARA, tapi bagaimana iklim tanpa ada atau menjelek-jelekkan,” katanya.
Ia pun mendorong agar para komika tetap bercerita tentang adat dan tradisi bangsa dengan cara yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih menghormati.