Kemdiktisaintek Ingatkan Peneliti Perguruan Tinggi untuk Dengarkan Keinginan Masyarakat
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengingatkan para peneliti dari berbagai perguruan tinggi agar lebih aktif berkomunikasi dan mendengarkan kebutuhan masyarakat sebelum melakukan riset. Langkah ini dinilai penting agar hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai laporan akademik, tetapi benar-benar berdampak dan bermanfaat bagi publik.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek Kemdiktisaintek, Yudi Darma, mengatakan bahwa penelitian yang menyita waktu, tenaga, dan biaya besar akan sia-sia bila tidak sinkron dengan kebutuhan masyarakat.
“Saya mendorong para peneliti dari perguruan tinggi mana pun agar turun langsung, berkomunikasi, dan mendengarkan keinginan masyarakat terkait pengembangan sains dan teknologi,” ujar Yudi Darma dalam diskusi bertajuk “Membangun Ruang Hidup Sains dan Teknologi untuk Masyarakat” di Jakarta, Sabtu 4 Oktober 2025.
Diskusi yang digelar bersama Forum Wartawan Pendidikan (Fortadik) itu juga menghadirkan dua narasumber lain, yakni Evi Eliyanah, dosen Sastra Inggris dari Universitas Negeri Malang, serta Luthfi Adam, sejarawan sekaligus dosen di Monash University. Keduanya turut memperkuat pandangan Kemdiktisaintek tentang pentingnya sains yang berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Menurut Yudi, sains adalah hasil kolaborasi dari banyak pihak, bukan pekerjaan individu. “Sains itu adalah collaborative effort, kegiatan kolaborasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat kolaborasi ini juga diakui oleh banyak ilmuwan dunia, termasuk para peraih Nobel Prize yang hadir dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 beberapa waktu lalu. Salah satunya, ilmuwan Australia Brian Schmidt, menekankan bahwa sains adalah pekerjaan kumulatif yang terus disempurnakan dari generasi ke generasi.
“Sebenarnya kita tidak ingin menihilkan peran pengguna atau user, karena masyarakat memiliki peran penting dalam mengoreksi dan memperbaiki hasil riset agar lebih relevan,” lanjut Yudi.
Lebih jauh, Yudi mengungkapkan bahwa pemerintah tengah berupaya membangkitkan kembali partisipasi masyarakat dalam mengulas dan memanfaatkan karya sains dan teknologi nasional. Salah satu upayanya adalah melalui pengembangan konsep Living Lab, yang memungkinkan interaksi langsung antara peneliti dan masyarakat di ruang publik.
Konsep tersebut diharapkan dapat menghindari eksklusivitas keilmuan di dunia akademik. Menurut Yudi, keterlibatan masyarakat akan membantu para peneliti memahami persoalan sosial yang selalu berubah mengikuti perkembangan zaman.
“Kata kuncinya adalah kolaborasi. Hampir semua kontribusi besar bagi peradaban manusia lahir dari kegiatan yang bersifat kolaboratif,” tutup Yudi Darma.