Kebun Hingga Pengolahan Kopi Jadi Kelas Terbuka bagi Siswa SMP di Jember
Ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Tanggul, Jember, mengikuti program edukatif bertema pengenalan kopi Jember sebagai potensi sumber daya lokal. Selama satu bulan, sejak 18 Oktober hingga 8 November 2025, siswa diedukasi tentang kopi mulai dari kebun hingga pemasarannya.
Kegiatan tersebut digelar oleh para petani berkolaborasi dengan komunitas kopi Koplak Food, Forum Ekonomi Kreatif Jember, serta akademisi dari Universitas Tazkia.
Dosen Pendidikan IPS Universitas Tazkia yang turut menjadi narasumber, Amri Dhimas Maulana mengatakan edukasi tentang kopi bagi ratusan siswa SMP di Kecamatan Tanggul merupakan bagian dari pembelajaran IPS kelas VIII dengan tema Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Daya Alam. Empat sekolah ikut terlibat, yakni SMPN 1, 5, 6, dan 7 Tanggul.
Kolaborasi dalam memberikan pemahaman bagi generasi penerus bangsa menjadi contoh nyata penerapan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan sekolah dengan dunia nyata.
“Kami ingin siswa mengenal kopi bukan hanya sebagai minuman, tapi sebagai bagian dari identitas dan potensi unggulan daerah mereka sendiri,” ujarnya, Sabtu, 8 November 2025.
Dosen yang merupakan warga Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Jember itu menilai Kabupaten Jember memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa, terutama dari sektor perkebunan kopi yang telah dikenal sejak masa kolonial. Namun, potensi besar itu belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh generasi muda.
Karena itu dalam program edukasi kali ini para siswa dikenalkan tentang kopi melalui metode pembelajaran KOPI. KOPI merupakan singkatan dari Kenali, Observasi, Pendalaman, dan Inisiatif. Metode tersebut memungkinkan mengajak siswa secara aktif memahami kopi dari hulu hingga hilir.
Pada tahap Kenali, siswa mengikuti pembelajaran di kelas bersama Bustomi, pemilik Koplak Food, yang membagikan pengalaman memperkenalkan kopi Jember ke pasar yang lebih luas.
“Kopi Jember ini luar biasa. Dari aroma, karakter rasa, hingga kekhasan tanahnya, semua punya keunggulan. Tapi yang dibutuhkan adalah semangat bersama untuk menaikkan kelasnya,” ujarnya.
Tahap Observasi membawa para siswa ke kebun kopi di Desa Kramat Sukoharjo dan Desa Darungan, Kecamatan Tanggul. Di sana mereka belajar langsung dari Lilik, petani kopi yang telah puluhan tahun merawat kebun warisan keluarganya.
Lilik menyambut baik kedatangan ratusan siswa di kebun miliknya. Kedatangan mereka menjadi hal yang tak biasa, karena selama ini yang datang biasanya para pembeli.
Dia berharap generasi muda ikut membantu memperkenalkan kopi Tanggul. Setelah memahami kopi nanti mereka bisa membantu mempromosikan kopi Tanggul supaya dikenal, tidak kalah sama kopi Bondowoso atau Ijen.
Kemudian, pada tahap pendalaman, siswa belajar teknik penyeduhan modern seperti Americano, Espresso, Vietnam Drip, Aeropress, dan Tubruk bersama barista Koplak Food di Cafe Gendis Semboro.
Tahap terakhir, Inisiatif, menjadi puncak kegiatan. Siswa menampilkan hasil karya mereka dalam ajang Kopi Kreatif Anak Tanggul. Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari kopi bubuk khas Tanggul, coffee cake, keripik kopi, hingga lulur kopi dan poster promosi.
Lebih jauh Amri menjelaskan kegiatan tersebut menegaskan konsep Community-Based Learning, di mana sekolah membuka ruang belajar yang terhubung dengan komunitas dan dunia kerja.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pelaku lokal seperti petani dan barista bisa menjadi guru bagi anak-anak,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Tanggul, Sugiarto, menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata pendidikan karakter. Siswa belajar menghargai hasil bumi daerahnya, mengenal kerja keras petani, dan memahami rantai ekonomi dari perkebunan sampai ke produk kreatif.
“Kegiatan ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam yang menekankan pembelajaran kontekstual dan kolaboratif,” katanya.
Hal senada disampaikan Guru IPS SMPN 7 Tanggul, Holilah. Holilah menilai kegiatan tersebut memberi dampak besar terhadap semangat belajar siswa. Sejauh ini, biasanya siswa kesulitan memahami konsep sumber daya alam.
Tetapi setelah terjun langsung ke kebun kopi, mereka bisa menjelaskan mekanisme sumber daya itu dimanfaatkan tanpa merusak alam.
Perwakilan Forum Ekonomi Kreatif Jember, Abdul Wahid, menilai kegiatan ini sebagai langkah penting menuju kebangkitan kopi lokal.
“Kalau kita ingin kopi Jember naik kelas, anak-anak muda harus jadi bagian dari proses itu sejak dini. Mereka calon penggerak ekonomi kreatif di masa depan,” ujarnya.
Data Dinas Perkebunan Jember menunjukkan, lahan kopi di kabupaten ini mencapai kurang lebih 20.000 hektare, tersebar di Silo, Sumberbaru, Jelbuk, dan Tanggul. Namun, sebagian besar petani masih menjual biji mentah, sehingga nilai tambah banyak dinikmati pihak luar.
Ketua MGMP IPS Jember Barat, Sugiman, juga memberi apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut.
“Inilah contoh pembelajaran yang hidup. Ketika sekolah bersinergi dengan masyarakat, hasilnya tidak hanya nilai akademik, tapi juga karakter dan keterampilan hidup,” ujarnya.