Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Jember Tertinggi Ketiga di Jatim
Angka kekerasan terhadap anak di Kabupaten Jember masih cukup tinggi. Bahkan, Bupati Jember Muhammad Fawait menyebut Kabupaten Jember menduduki peringkat ketiga di Jawa Timur.
Gus Fawait mengatakan Pemkab Jember memiliki komitmen mengatasi persoalan kemiskinan melalui pendidikan. Untuk menjamin akses pendidikan yang merata dan adil, Pemkab Jember menyiapkan 20 ribu beasiswa untuk putra daerah Jember.
Upaya tersebut harus mendapat dukungan dari semua pihak, termasuk sekolah. Sekolah diminta menjadi lembaga yang efektif untuk membangun generasi tangguh.
Tak hanya itu, Gus Fawait berharap sekolah juga menjadi tempat efektif melawan dan menekan kekerasan terhadap anak. Sebab, berdasarkan data pelaku kekerasan terhadap anak di Lapas Kelas IIA Jember cukup tinggi. Jember berada diurutan ketiga terbanyak di Jawa Timur.
Sementara berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Jember, kekerasan terhadap anak pada tahun 2024 mengalami kenaikan enam persen.
Tercatat pada tahun 2023 sebanyak 33 kasus. Sedangkan pada tahun 2024 sebanyak 39 kasus.
Dari 39 kasus tersebut, mayoritas merupakan kasus kekerasan non fisik seperti bullying. Bullying terjadi di seluruh tingkatan satuan pendidikan, mulai dari TK sampai SMA.
Atas kondisi tersebut, Gus Fawait meminta kepala sekolah SD dan SMP membuat strategi pencegahan kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual.
“Saya berharap kepala sekolah membuat pencegahan agar tidak ada lagi anak bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual dan bullying. Saya pikir sekolah yang paling efektif melakukan pencegahan,” katanya, Rabu, 30 Juli 2025.
Lebih jauh, Gus Fawait mengatakan selain mendorong sekolah menjadi tempat efektif melawan kekerasan terhadap anak, Pemkab Jember juga memberikan perhatian khusus bagi para guru. Salah satunya dengan menerbitkan surat edaran yang meliburkan guru saat murid libur.
Tak hanya itu, guru juga boleh tidak datang ke sekolah saat pembelajaran dilakukan secara daring.
“Kalau murid libur, guru libur. Murid belajar dari rumah, guru juga mengajar dari rumah. Untuk apa datang ke sekolah,” tambahnya.
Selain itu, Gus Fawait kembali menegaskan larangan studi tour ke luar Jember. Gus Fawait tetap mengizinkan studi tour keliling Jember.
“Terkait larangan studi tour ke luar Jember. Ini yang protes pasti yang punya bisnis travel. Bisnisnya bisa tidak hilang dengan cara bikin studi tour keliling Jember. Banyak wisata di Jember yang bisa dikunjungi,” jelasnya.
Gus Fawait juga kembali mengingatkan seluruh kepala sekolah SD dan SMP agar segera memperbaiki data pokok pendidikan (dapodik). Terutama berkaitan dengan data sekolah rusak.
“Saya meminta kepala sekolah SD dan SMP segera memperbaiki data yang ada dalam dapodik, terutama berkaitan dengan sekolah rusak. Ini menjadi data penting untuk pengajuan perbaikan ke pemerintah pusat,” pungkasnya.