Ingin Diterima Gen Z? Peneliti Alvara Research Center: Harus Relevan Relate dan Receh
Mengapa banyak ide bagus, program pemerintah, atau kampanye sosial gagal menarik perhatian Generasi Z? Menurut peneliti Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, jawabannya sederhana. Bukan karena idenya buruk, melainkan karena cara menyampaikannya tidak sesuai dengan dunia yang dihidupi Gen Z.
Dalam tulisannya yang berjudul Relevan, Relate, dan Receh: Tiga Syarat Diterima Gen Z, Hasanuddin menyebut ada tiga kunci utama agar pesan dapat diterima oleh generasi yang lahir dan tumbuh di era digital tersebut.
βTidak cukup hanya punya ide yang baik. Kita harus relevan dengan kebutuhan mereka, relate dengan kehidupan mereka, dan mampu mengemas pesan secara receh tanpa kehilangan substansinya,β tulis Hasanuddin Ali.
Menurut Hasanuddin, Gen Z hidup dalam situasi yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan konten digital yang terus bersaing memperebutkan perhatian publik.
Akibatnya, perhatian menjadi komoditas yang sangat berharga. Sebuah pesan yang tidak langsung terasa penting atau dekat dengan kehidupan mereka akan dengan mudah dilewati dalam hitungan detik.
Peneliti Alvara Research Center itu menjelaskan, syarat pertama adalah relevan. Artinya, sebuah gagasan harus mampu menjawab persoalan yang benar-benar dirasakan anak muda saat ini.
Mulai dari isu pekerjaan, biaya hidup, kesehatan mental, masa depan karier, hingga ketidakpastian ekonomi menjadi tema yang lebih mudah menarik perhatian mereka dibanding narasi besar yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
βGen Z cenderung bertanya, apa hubungannya dengan saya? Jika tidak menemukan jawabannya, mereka akan segera berpindah ke konten lain,β ujarnya.
Syarat kedua adalah relate. Sebuah pesan harus mampu berbicara dengan bahasa dan pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka.
Karena itu, tidak sedikit kreator konten dengan peralatan sederhana justru lebih didengar oleh Gen Z dibanding institusi besar yang memiliki sumber daya komunikasi melimpah.
Menurut Hasanuddin, kedekatan emosional sering kali lebih penting daripada status atau jabatan formal.
βGen Z lebih mudah percaya kepada orang yang mereka rasa memahami kehidupan mereka daripada sekadar sosok yang memiliki otoritas,β katanya.
Sementara syarat ketiga adalah receh. Istilah ini kerap disalahartikan sebagai sesuatu yang dangkal atau tidak serius.
Padahal yang dimaksud receh adalah kemampuan mengemas pesan yang berat menjadi ringan, sederhana, dan mudah dipahami tanpa menghilangkan makna utamanya.
Dalam ekosistem media sosial yang dipenuhi meme, video pendek, dan konten cepat, pesan yang terlalu rumit sering kali gagal mendapatkan perhatian.
Karena itu, banyak isu penting saat ini disampaikan melalui humor, satire, atau konten kreatif yang menghibur.
βReceh bukan berarti kehilangan kualitas. Yang berubah adalah cara penyampaiannya agar lebih mudah diterima audiens,β jelas Hasanuddin.
Ia menilai tantangan terbesar pemerintah, kampus, organisasi, maupun berbagai lembaga saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan ide besar. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan ide tersebut ke dalam bahasa yang dipahami anak muda.
Jika sebuah pesan mampu memenuhi tiga unsur sekaligusβrelevan, relate, dan recehβpeluang diterima Gen Z akan jauh lebih besar.
Tulisan Hasanuddin Ali ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di era digital, keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas gagasan, tetapi juga kemampuan memahami audiens yang dituju.
Sebab bagi Gen Z, pesan yang baik bukan hanya yang benar, tetapi juga yang terasa dekat dengan kehidupan mereka dan disampaikan dengan cara yang ringan, menarik, dan mudah dipahami.
Sumber: Hasanuddin Ali, Peneliti Alvara Research Center, dalam artikel Relevan, Relate, dan Receh: Tiga Syarat Diterima Gen Z.
Advertisement