In memoriam Profesor Juwono Sudarsono (1): Sebuah Jaminan Akademik
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional,
Universitas Jember.
Tanggal 28 Maret 2026, sehabis maghrib, saat hujan lebat; sepotong berita mengabarkan bahwa siang tadi Pak Juwono Sudarsono (Prof.,MA., PhD.) wafat. Doa-pun segera melayang, seiring dengan terpaan angin kencang. Benak spontan tergerak, menguak kenangan yang terserak.
Anak judul di atas, “sebuah jaminan akademik”, bukanlah narasi pemanis. Frase ini lahir berangkat dari pengalaman empiris. Saya mengenal nama Pak Juwono Sudarsono sejak mengambil program Sarjana (S1) di Jurusan Hubungan Internasional (HI), FISIPOL, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pengenalan awal ini, selain dari artikel opini di media massa, juga melalui karya tulisnya, baik makalah maupun publikasi, seperti bukunya berjudul "Pembangunan Politik dan Perubahan Politik".
Syahdan, ketika saya sebagai mahasiswa sarjana sedang berkonsultasi dengan (alm) Pak Jahja Muhaimin (Prof., PhD.) di ruang dosen Jurusan HI sempat mendengarkan sebuah testimoni. Pak Amien Rais (Prof., MA., PhD.), jebolan Notre Dame dan Chicago University, USA; yang sedang membaca sebuah naskah, mendadak berujar: “Ini baru [yang namanya] disertasi!”. Tak pelak, seluruh orang di ruangan itu, termasuk saya; menoleh kepadanya. Ternyata, naskah yang dipegangnya adalah disertasi Pak Juwono Sudarsono, yang bertajuk “Indonesia and the United States 1966-75: An Inquiry into a de facto Alliance Relationship”. Disertasi ini, tahun 1978, dipertahankannya di London School of Economics (LSE), UK; di bawah bimbingan Professor Michael Leifer, akademisi kondang dalam hubungan internasional. Jelas, penilaian Pak Amien tersebut, merupakan pengakuan atas mutu disertasi; sekaligus refleksi bahwa sosok penyusunnya adalah jaminan kualitas akademik.
Peluang untuk bertemu muka dengan Pak Juwono baru datang di tahun 1996. Ketika itu, saya sedang menempuh Program Master of Arts (MA) di Flinders University, Adelaide, Australia. Dengan program MA by research, penyusunan tesis saya, yang bertajuk "Transition from a Military Rule: Thailand and Indonesia Compared", mensyaratkan overseas fieldwork. Maka, selepas persetujuan proposal, supervisor mengharuskan saya untuk melakukan library research di Australian National University (ANU), Canberra, selama hampir 1,5 bulan. Baru kemudian, saya diperbolehkan bertolak ke Thailand dan Indonesia untuk melakukan fieldwork. Tujuannya, memperoleh primary data, terutama melalui wawancara. Sasaran informannya terdiri dari tiga klaster: petinggi militer, politisi, dan akademisi.
Sejak awal, saya sudah menduga bahwa mencari informan di Indonesia, khususnya dari kalangan militer, akan lebih sulit dibandingkan dengan di Thailand. Alasannya, kala itu masih masa orde Baru; di mana kecurigaan politik sangat tinggi, tak terkecuali terhadap peneliti. Apalagi, kecurigaan semacam ini sudah saya alami sejak dini. Saat fieldwork di Thailand, saya merasa sudah diawasi. Indikasinya, sekian sumber di Kedutaan Besar Indonesia di Bangkok sering menginfokan bahwa Atase untuk ‘Urusan Khusus’, yang konon menangani bidang intelijen dan dijabat seorang Perwira TNI, selalu memonitor setiap langkah saya: ke mana saja dan menemui siapa. Guna mengatasi tantangan fieldwork di Indonesia tersebut, saya memutuskan untuk mengawali snowball sampling-nya berangkat dari klaster akademisi. Untuk langkah awal ini, dua nama muncul dalam benak. Pertama, adalah Pak Salim Said (Prof., MA., PhD.), dikenal sebagai ahli militer. Kedua, Pak Juwono Sudarsono (Prof., MA.,PhD.), sosok yang punya hubungan luas dengan pejabat tinggi, termasuk petinggi militer. Apalagi, kala itu, Pak Juwono sedang menjabat Wakil Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), sebuah Lembaga yang selama orde Baru selalu dikomandani oleh Jenderal bintang tiga. Kala itu, Gubernur Lemhanas-nya adalah Letnan Jenderal Moetojib.
Setiba di Jakarta, setelah selesai melakukan fieldwork di Bangkok, saya langsung menemui Pak Salim Said. Sehabis wawancara, saya ditanya: “Setelah ini, siapa yang akan kamu temui?”. Saya jawab: “Pak Juwono Sudarsono!”. Ternyata, Pak Salim berinisiatif membantu untuk mengontaknya, dengan langsung menelepon di hadapan saya. Saat itu juga saya mendapat kepastian bahwa dua hari sesudahnya Pak Juwono bisa ditemui jam 10.00 WIB, di Lemhanas. Saya diterima di ruang kerjanya. Sepiring kue dan secangkir teh sudah bertengger di atas meja tamu. Nampaknya, Pak Juwono, sudah menyiapkannya untuk menerima saya yang akan mewawancarainya.
Dengan hangat, disertai penampilan yang chic dan flamboyant, Pak Juwono menerima saya. Tenang, confident, kata yang tertata, dan santun; terkesan kuat dalam sikapnya. Setelah saya memperkenalkan diri, dialog ringan-pun terjadi. Pak Juwono mulai bertanya: “Studi di mana?”. Saya spontan menjawab: “Flinders University, Adelaide, Pak!”. Responnya: “Oh, bagus. Kampusnya cantik, kan?!”. Di tengah kebimbangan apakah responnya ini merupakan pertanyaan atau pernyataan; saya segera menimpali: “Benar Pak, apalagi letaknya di atas bukit”. Kemudian, saya mencoba memulai meyinggung keperluan akademik saya, dengan menunjukkan dokumen persetujuan Human Research Ethic Committees (HREC), dari Flinders University; yang antara lain memuat jaminan terhadap interview akan confidentiality jika dalam wawancara terdapat infomasi yang sensitif.
Sambil membaca dokumen etik tersebut, Pak Juwono beralih pada pertanyaan substantif. “Wawancara ini untuk [penyusunan] disertasi, kan?!”, tanyanya. Saya jawab: “Bukan! [Ini] untuk tesis Master, Pak”. Mendengar jawaban saya, Pak Juwono terdiam sejenak dan menatap saya. Saya sempat gelisah, kawatir kalau beliau kurang berkenan. Keheningan sesaat itu pecah dengan pertanyaan serius. “Mengapa [untuk] tesis tingkat Master [saja] harus melakukan wawancara?”, tanyanya. Saya memaklumi pertanyaan ini, mengingat Pak Juwono menempuh Master of Arts-nya di University of California (UC), Berkeley; yang mana dalam tradisi Amerika Program MA by research memang tak lazim. Maka, saya segera menambahkan penjelasan: “Karena program Master saya by [fully] research, sehingga overseas fieldwork menjadi persyaratan”. Mendengar penjelasan saya ini, Pak Juwono manggut-manggut. Gestur ini membuat saya lega, karena mencerminkan permakluman. Harapannya, beliau tetap berkenan untuk diwawancarai. Namun, optimisme saya tumbuh. Pasalnya, meski Pak Juwono menamatkan program Master of Arts-nya di USA; tapi untuk PhD-nya beliau mengambil di LSE, London. Dengan latar belakang pendidikannya ini, dugaan saya, beliau faham bahwa dalam British system, seperti di Australia, memang ada program MA by research; yang mana untuk penyusunan tesisnya mensyaratkan fieldwork research.
Akhirnya, permakluman dan pemahaman membawa kelancaran. Dengan sabar dan ramah, Pak Juwono menjawab setiap detail pertanyaan saya. Jawabannya bukan hanya berbobot, tapi juga mencerminkan wawasan yang luas. Substansinya, bukan sekedar informasi, tapi, kadang, disertai perspektif teoritik; khususnya menyangkut civil-military relationship. Meski tujuan awalnya wawancara guna menggali data, tapi, tak jarang berkembang menjadi sebuah diskusi. Tak pelak, sebagai peneliti, untuk kepentingan riset saya merasa perlu untuk lebih jeli, khususnya dalam memilahkan mana yang fakta dan mana yang opini.
Setelah hampir dua jam, saya berinisiatif menyudahi wawancara. Pasalnya, selain merasa sudah mendapatkan cukup informasi, durasinya juga telah melewati alokasi waktu yang ada. Saat jeda, Pak Juwono mengajak menikmati suguhan dan minuman di meja yang sempat terabaikan, karena asyik tanya jawab wawancara. Di tengah perbincangan ringan, tak dinyana, Pak Juwono berkata: “Jika nanti mau meneruskan ke PhD [program], dan memerlukan letter of reference, hubungi saya; akan saya buatkan!”. Saya sempat tertegun. Nada bicaranya datar, tapi membuat saya tergetar. Bagi saya, tawaran Pak Juwono ini merupakan surprise, sekaligus kemewahan. Mengapa surprise? Karena tawarannya tersebut muncul tanpa saya minta, bahkan juga tanpa penjelasan. Sejatinya, tawaran itu memang tak memerlukan penjelasan; karena, bagi saya, itu sudah merupakan sebuah kemewahan. Kala itu, menempuh PhD barulah sebuah angan; mengingat saya sendiri masih harus serius bergulat untuk bisa lulus dalam menempuh program Master. Tapi, bagi saya pribadi, tawaran Pak Juwono Sudarsono tersebut sangat berarti. Pasalnya, tawaran itu mengubah angan menjadi harapan, bahkan telah menggumpalkan hasrat hati untuk mewujudkan mimpi! Meski dalam bentuk lain, Pak Juwono ternyata telah bermurah hati dengan memberi saya sebuah jaminan akademik. Wallahua’lam … (bersambung)
Advertisement