Implementasi Gereja Ramah Anak Melalui Dekorasi Interior Ruang Ibadah Anak Balita
Perkembangan anak secara optimal tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan pendidikan formal, tetapi juga oleh ekosistem sosial yang mendukung, termasuk tempat ibadah. Ruang ibadah yang aman, nyaman, dan ramah anak dapat menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya pada usia balita yang sedang berada dalam fase emas perkembangan.
Kota Surabaya, sebagai salah satu daerah yang telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai Kota Layak Anak (KLA), terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pemenuhan hak dan kebutuhan anak. Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui inisiatif Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA), yang bertujuan menyediakan ruang ibadah yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi anak-anak, sekaligus mendukung pertumbuhan spiritual mereka sejak usia dini.
Khusus pada ruang ibadah anak balita, diperlukan pendekatan dan kriteria yang berbeda, menyesuaikan dengan karakteristik usia anak. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penataan dan dekorasi interior ruang ibadah, sehingga tercipta suasana yang ramah, edukatif, dan menarik bagi anak-anak.
Melihat pentingnya peran rumah ibadah sebagai bagian dari pendidikan nonformal di bidang keagamaan, Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut berpartisipasi dalam mewujudkan konsep Rumah Ibadah Ramah Anak pada ruang ibadah anak balita di lingkungan GKJW Darmo Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
GKJW Darmo, yang dilayani oleh Pdt. Jonet Soedarmoko, sebelumnya telah berpartisipasi dalam Deklarasi Gereja Ramah Anak se-GKJW MDST I dan MDST II yang digelar di Surabaya pada 18 Oktober 2025. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surabaya bersama Kementerian Agama Kota Surabaya. Melalui deklarasi tersebut, GKJW Darmo menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan gereja yang bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri, dan nyaman bagi perkembangan anak.
Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Jonet juga mengajak institusi pendidikan untuk berkolaborasi dalam mewujudkan Gereja Ramah Anak (GRA) di lingkungan gereja. Menyambut ajakan tersebut, Departemen Desain Interior ITS turut ambil bagian melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Susy Budi Astuti, bersama tim dosen dan mahasiswa.
Rangkaian kegiatan pengabdian ini diawali dengan diskusi bersama pamong Sekolah Minggu mengenai peran dekorasi interior dalam menunjang pembelajaran anak usia dini, pemahaman karakteristik anak balita, serta keterkaitannya dengan desain interior ruang ibadah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan proses dekorasi bersama ruang ibadah anak balita.
Dalam kegiatan ini, tema dekorasi interior yang diusung adalah taman bunga warna-warni dan kupu-kupu. Menurut Susy Budi Astuti, pengenalan unsur alam pada anak usia dini dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, mulai dari mengenal warna, ukuran, jumlah, hingga konsep posisi tinggi dan rendah. Untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang ibadah, anak-anak juga diajak terlibat langsung dalam proses dekorasi dengan menempelkan stiker bunga warna-warni pada dinding ruangan.
Selain itu, tim pengabdian masyarakat juga menambahkan sudut pajang karya anak, yang berfungsi sebagai tempat memamerkan hasil aktivitas selama ibadah. Mengingat pada usia balita kegiatan yang dominan adalah mewarnai dan menempel, tim menyediakan sejumlah bingkai magnet dengan komposisi potret dan lanskap. Bingkai tersebut ditata sedemikian rupa agar anak-anak dapat memajang hasil karyanya secara mandiri sekaligus melihat dan menghargai karya mereka sendiri.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari Pdt. Jonet Soedarmoko, serta Brian Pranata Putra, selaku Ketua Komisi Pelayanan Anak dan Remaja GKJW Darmo. Kehadiran program ini dinilai memberikan inspirasi bagi para pamong Sekolah Minggu untuk mulai merencanakan desain dan dekorasi ruang ibadah pada jenjang usia lainnya, dengan menyesuaikan karakteristik perkembangan anak dan kebutuhan aktivitas selama ibadah.
Melalui kolaborasi antara gereja dan institusi pendidikan, implementasi Gereja Ramah Anak diharapkan dapat terus berkembang, sehingga ruang ibadah tidak hanya menjadi tempat berdoa, tetapi juga ruang aman dan menyenangkan bagi anak-anak untuk bertumbuh secara spiritual, emosional, dan sosial.