Hak-hak Para Kambing
Suatu hari Bung Sjahrir (mantan Perdana Menteri RI sekaligus pendiri Partai Sosialis Indonesia) bersama kawan-kawannya mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan Haji Agus Salim (HAS) sebagaiย pembicara utamanya.ย Tujuan mereka tak lain hanya ingin "mengacaukan" rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka lagi "genit-genit"nya secara intelektual.
Setiap HAS yang memiliki jenggot kambing itu bicara, maka anak-anak muda sosilais radikal yang lebih simpati kepada Semaun (tokoh Sarekat Rakjat,pesaing Sarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto) tersebut serempak menyahutinya denganย suara:
"embeeekkkkkk".
Satu kali didiamkan. Dua kali masih dicuekkan. Begitu kali ketiga, embikan berjamaah itu terdengar, tiba-tiba Haji Agus Salim mengangkat tangan seraya berkata:
"Tunggu sebentar. Bagi saya,adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan,ย agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadarย menikmati rumput di lapangan. Sesudah pidatoย yang saya tujukan kepada manusia ini selesai, silakan mereka kembali masuk dan saya akan pidato dalam bahasa kambingย khusus untuk mereka. Perlu diketahui, dalam Islam, kambing pun memiliki haknya sendiri. Karena saya menguasai banyak bahasa, maka saya akan memenuhi hak mereka."
Demi mendengar kata-kata Haji Agus Salim itu, orang-orang yang hadir di sana bergemuruh dalam tawa. Adapun Sjahrir dan kawan-kawannya, alih-alih meninggalkan ruangan , mereka yang seolah-olahย menjadi "sekelompokย badut muda"ย terpaksa harus "menikmati"ย ejekan massal itu dalam muka merah padam.
"Kendatiย kami tak menghentikan "perlawanan" kepadanya, tetapi sejak saat itu, untuk kembali mencemoohnya kami sama sekali tak pernah melakukannya lagi," ujar Sjahrir seperti dikisahkan kepada Jef Last (tokoh sosialis Belanda) dalam Seratus Tahun Hadji Agus Salim. (adi)
Advertisement