Gejolak Ekonomi Dunia, Ekspor Jatim Melemah di Triwulan I 2026
Perang yang masih terjadi di Timur Tengah memberikan gejolak ekonomi yang dirasakan di hampir seluruh dunia. Di Indonesia, khususnya Jawa Timur turut terdampak dengan gejolak tersebut, membuat terjadinya pelemahan nilai ekspor ke luar negeri.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Triwulan I 2026, tercatat nilai ekspor Jatim turun 1 persen dibanding periode yang sama pada 2025 dari USD6,13 miliar menjadi USD6,07 miliar. Nilai tersebut berbanding dengan impor dari luar negeri yang naik 4,62 persen menjadi USD7,32 miliar di triwulan I 2026 dari USD6,99 miliar periode yang sama di tahun 2025. Menyebabkan terjadi defisit neraca perdagangan sebesar USD1,24 miliar.
Defisiti ini bersumber dari sektor migas defisit sebesar USD849,84 juta, sedangkan sektor non migas defisit USD394,30 juta.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Erivina Lucky Kristian secara rinci menyebutkan, negara tujuan terbanyak masih didominasi negara-negara Asia Tenggara.
Di mana, tujuan ekspor tertinggi adalah Cina dengan nilai ekspor sebesar USD970 juta, lalu Amerika Serikat sebesar USD900 juta, Jepang sebesar USD500 juta, Malaysia sebesar USD360 juta, Thailand sebesar USD310 juta, Vietnam sebesar USD200 juta, India sebsar USD180 juta, Korea Selatan sebesar USD170 juta, Swiss sebesar USD160 juta, dan Australia USD120 juta.
Meski terjadi pelemahan, Lucky menyebut nilai ekspor Jatim masih dalam batas stabil karena penurunan yang tidak terlalu signifikan.
βKalau kita relatif stabil sebenarnya. Tapi Impor kita sangat luar biasa. Nah, impor kita itu biasanya ya untuk bahan baku,β kata Lucky saat ditemui, Senin 25 Mei 2026.
Ia mengatakan, gejolak geopolitik yang terjadi di Timur Tengah jadi faktor utama dari turunya nilai ekspor Jatim. Penutupan Selat Hormuz membuat ekspor ke negara-negara Timur Tengah ditangguhkan.
Adapun barang-barang yang jadi penyumbang ekspor Jatim dari sektor non migas antara lain perhiasan sebesar USD675,43 juta, diikuti lemak dan minyak hewan sebesar USD620,13 juta, tembaga sebesar USD592,93 juta, kayu dan barang dari kayu sebesar USD370,70 juta, ikan sebesar USD282,74 juta, bahan kimia organik sebesar USD270,73 juta, tembakau dan rokok sebesar USD265,41 juta, olahan ikan USD206,16 juta, dan kertas/karto USD203,232 juta.
Sementara untuk nilai impor sendiri terjadi peningkatan cukup signifikan sebesar 4,62 persen menjadi USD7,32 miliar. Peningkatan ini tak lepas dari kebutuhan yang cukup tinggi dari luar negeri.
βKita ini migas banyak yang impor. Yang kedua, bahan baku kita itu 76 persen itu dari impor semua, baik bahan baku maupun bahan penolong,β jelasnya.
Gejolak ini kemudian memberi dampak bagi ekonomi dalam negeri karena terjadi pegerakan harga. Lucky menjelaskan, hal tersebut karena saat mengimpor barang atau bahan baku dalam kondisi nilai rupiah yang turun. βSehingga perlu duit yang banyak untuk membeli dengan kapasitas yang sama,β ujarnya.
Adapun barang yang banyak diimpor antara lain mesin dan peralatan mekanis sebesar USD736,34 juta, perhiasan dan permatan sebesar USD640,74 juta, ampas/sisa industri makanan sebesar USD376,20 juta, plastik dan barang dari plastik sebesar USD362,25 juta, besi dan baja USD356,22 juta, buah sebesar USD337,85 juta, pupuk USD291,82 juta, serelia sebesa USD276,20 juta, mesin dan perlengkapan listrik sebesar USD226,97 juta, dan tembakau/rokok sebesar USD226,96 juta.
Untuk mengantisipasi kemungkinan gejolak yang terus berkepanjangan, Lucky mengatakan, Pemprov Jatim melakukan upaya seperti membuka pasar baru.
Salah satu yang jadi sasaran adalah kawasan Afrika yang selama ini belum banyak disasar namun potensinya cukup besar. Termasuk pula melakukan misi dagang maupun melalui pameran-pameran di luar negeri.
βKita berupaya untuk lebih meningkatkan lagi perdagangan kita di masa-masa mendatang. Kita ada misi dagang, kita juga ikut pameran di negara-negara lain,β pungkasnya.
Tambahan#
Ekspor Jatim
Ekonomi Jatim
Impor Jatim
Advertisement