Rais Aam PBNU Hentikan AKN NU Usai Polemik Akademisi Pro-Israel Peter Berkowitz
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar resmi meminta agar kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) dihentikan sementara dan dievaluasi menyeluruh. Langkah ini diambil setelah muncul kritik tajam terkait polemik kehadiran akademisi pro-Israel, Peter Berkowitz, dalam forum yang melibatkan PBNU.
Ketua Tim Koordinasi dan Supervisi Syuriyah PBNU, Mohammad Nuh, menjelaskan bahwa permintaan penghentian tersebut dituangkan melalui surat resmi tertanggal 25 Agustus 2025. Surat ditujukan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan perihal Penghentian/Penangguhan Pelaksanaan AKN NU dan Nota Kesepahaman PBNU dengan CSCV.
“Rais Aam meminta AKN NU dihentikan/ditangguhkan sampai adanya evaluasi menyeluruh yang melibatkan Tim Koordinasi dan Supervisi Syuriyah. Nota kesepahaman PBNU dengan CSCV terkait materi dan narasumber kaderisasi juga diminta diputus pasca polemik Peter Berkowitz,” kata Mohammad Nuh di Surabaya, Selasa 9 September 2025.
Kritik Publik Pasca Kehadiran Peter Berkowitz
Kontroversi bermula saat Peter Berkowitz hadir dalam orasi ilmiah di Pascasarjana Universitas Indonesia pada 24 Agustus 2025. Kehadirannya memicu kecaman lantaran Berkowitz dikenal sebagai akademisi yang kerap membela Israel dalam berbagai tulisan, termasuk bukunya Israel and the Struggle over the International Laws of War (2012).
Sehari setelah polemik itu, Rais Aam PBNU langsung mengeluarkan surat penghentian AKN NU. Mohammad Nuh menegaskan, sikap Rais Aam merupakan langkah penyelamatan agar NU tidak semakin terseret dalam sorotan negatif publik.
Gus Yahya Sampaikan Permintaan Maaf
Pada 28 Agustus 2025, Ketua Umum PBNU Gus Yahya menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dalam mengundang Peter Berkowitz.
“Hal ini semata-mata karena kekurangcermatan saya dalam melakukan seleksi narasumber. Saya dan PBNU tetap konsisten mendukung Palestina dan mengutuk tindakan genocidal yang dilakukan pemerintah Israel di Gaza,” tegas Gus Yahya.
Posisi Rais Aam sebagai Pengambil Keputusan Tertinggi
Nuh menambahkan, meski surat penghentian hanya ditandatangani Rais Aam PBNU, hal itu sah menurut ketentuan organisasi. “Konferensi Besar NU tahun 2022 sudah menetapkan bahwa Rais Aam memegang supremasi tertinggi dalam tubuh Jam’iyah NU,” ujarnya.
Gelombang Kritik di Media Sosial
Publik melontarkan kritik pedas di berbagai platform digital. Kehadiran Berkowitz dinilai bertentangan dengan sikap konsisten pemerintah Indonesia dan NU yang menolak segala bentuk normalisasi dengan Israel.
Dengan keputusan penghentian ini, AKN NU akan dievaluasi total sebelum dilanjutkan kembali. Langkah ini diharapkan mampu memulihkan marwah NU sekaligus menegaskan kembali komitmennya pada perjuangan rakyat Palestina.